Senin, 04 Mei 2020

KISAH KERAJAAN PAJAJARAN

KISAH KERAJAAN PAJAJARAN

KISAH KERAJAAN PAJAJARAN
BAGIAN - I


Orientasi
Kerajaan Pajajaran – Tahukah Anda tentang Kerajaan Pajajaran? Kerajaan Pajajaran atau Kerajaan Sunda adalah kerajaan Hindu yang berlokasi di sebelah barat Pulau Jawa (Sunda). Beribukota di Pajajaran (sekarang adalah Bogor), kerajaan ini lebih dikenal dengan nama Pakuan Pajajaran (pakuan atau pakuwuan berarti kota). Sebagaimana adat kebiasaan di Asia Tenggara pada masa itu yang menyebut kerajaan dengan nama ibukotanya. Beberapa catatan sejarah menyebutkan kerajaan ini didirikan oleh Sri Jayabhupati pada tahun 923.

Sementara Pakuan Pajajaran secara ‘resmi’ dinyatakan berdiri saat Jayadewata naik tahta pada 1482 dan bergelar Sri Baduga Maharaja. Sejarah kerajaan banyak dikisahkan dalam berbagai kitab cerita. Masih sering pula dituturkan dalam pantun dan kisah babad. Serta ditemukan pula catatan dari berbagai prasasti yang ditemukan dan catatan perjalanan bangsa asing di Nusantara pada masa itu.

Berdirinya Pakuan Pajajaran
Kala itu, terdapat dua kerajaan di tanah Parahyangan (Sunda, sekarang Jawa Barat) yaitu Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Kedua kerajaan ini terikat oleh tali perkawinan antara putra raja Galuh dengan putri raja Sunda. Kerajaan Galuh dipimpin oleh Raja Dewa Niskala dan Kerajaan Sunda dipimpin oleh Raja Susuktunggal. Pada tahun 1400-an, saat Majapahit diambang kehancuran, rombongan pengungsi dari datang ke Kerajaan Galuh dan diterima dengan tangan terbuka.

Sambutan tak berhenti di situ, kepala rombongan yang masih merupakan saudara dari Prabu Kertabumi (raja Majapahit) bernama Raden Baribin dinikahkan dengan salah seorang putri Galuh, Ratna Ayu Kirana. Sang raja pun mengambil seorang istri dari rombongan pengungsi Majapahit. Tindakan tersebut menyebabkan kemarahan dari raja Sunda yang menuduh raja Galuh melupakan aturan bahwa orang Galuh dan Sunda dilarang keras menikah dengan orang dari Majapahit. Kedua raja yang terlibat pertalian besan ini pun terlibat sengketa.

Terancam perang, dewan penasehat dari kedua kerajaan berunding dan meminta para raja untuk turun dari tahta. Dan kemudian bersama-sama menunjuk seorang pengganti untuk memimpin kedua kerajaan. Tak disangka, nama yang ditunjuk oleh kedua raja adalah nama yang sama, Jayadewata. Maka terselesaikanlah persengketaan dengan jalan menyatukan dua kerajaan di bawah satu raja. Selain Sri Baduga Maharaja, Jayadewata juga dikenal dengan sebagai Prabu Siliwangi.

Tercatat ada 5 raja yang memimpin Kerajaan Pajajaran saat masih berkedudukan di Pakuan Pajajaran, yaitu :
Ø  Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521),
Ø  Surawisesa (1521 – 1521),
Ø  Ratu Dewata (1535 – 1543),
Ø  Ratu Sakti (1543 – 1551), serta 
Ø  Ratu Nilakendra (1551 – 1567).

Dari kelima raja yang memimpin tersebut, masa kejayaan terjadi pada saat Sri Baduga Maharaja menduduki singgasana raja. Berbagai pembangunan fisik dilakukan untuk memudahkan kehidupan kerajaan dan rakyat.
Berbagai kisah dan cerita tak henti menyebutkan Sri Baduga Maharaja, bahkan hingga kini namanya masih dielu-elukan oleh masyarakat Sunda. Berikut ini beberapa pencapaian yang membuktikan masa kejayaan Kerajaan Pajajaran pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja :

1. Pembangunan Fisik
Karena masih berstatus sebagai ‘kerajaan baru’, Sri Baduga Maharaja banyak melakukan pembangunan fisik untuk memudahkan kehidupan negara dan rakyat. Berikut adalah pembangunan fisik yang dilakukan oleh raja pertama Kerajaan Pajajaran antara lain adalah:
Ø  Membangun jalan dari Pakuan (ibukota) sampai ke Wanagiri,
Ø  Membuat telaga besar yang diberi nama Talaga Maharena Wijaya,
Ø  Membangun kabinihajian atau keputren atau tempat tinggal para putri, dan
Ø  Membangun pamingtonan atau tempat hiburan.

2. Bidang Militer
Pertahanan negara diperkuat dengan memperkuat angkatan militer agar peristiwa seperti Peristiwa Bubat tidak terulang. Kesatrian atau asrama untuk prajurit dibangun untuk menarik minat para pemuda agar mereka mau menjadi prajurit. Selain itu, para prajurit dibekali latihan dengan berbagai macam formasi tempur yang sering dipertunjukkan bagi rakyat.

3. Administrasi pemerintahan
Kegiatan administrasi pemerintahan dirapikan, dengan memberikan tugas yang spesifik kepada setiap abdi raja. Undang-undang kerajaan disusun untuk mengatur kehidupan dalam bernegara. Serta aturan mengenai pemungutan upeti dibuat agar tidak terjadi kesewenang-wenangan dalam proses penarikannya.

4. Keagamaan
Karena agama adalah bagian penting dari kehidupan manusia, desa-desa perdikan dibagikan kepada para pendeta dan murid-muridnya. Tanah perdikan adalah tanah yang tidak dipungut pajak. Sehingga para pendeta dan muridnya dapat dengan leluasa memimpin ritual keagamaan tanpa perlu memikirkan masalah duniawi.

Kehidupan Masyarakat
Kehidupan masyarakat Pakuan Pajajaran dapat dilihat melalui beberapa aspek seperti ekonomi, sosial, dan budaya. Inilah penjelasannya :

1. Ekonomi
Mata pencaharian utama masyarakat adalah pertanian. Selain itu kegiatan perdagangan dan pelayaran juga dikembangkan. Pakuan Pajajaran memiliki enam pelabuhan penting, yaitu Pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa, dan Cimanuk (sekarang Pamanukan).

2. Sosial
Dalam keseharian masyarakat Pakuan Pajajaran, penduduk digolongkan menurut pekerjaannya. Ada golongan seniman yang terdiri pemain musik gamelan, penari, dan badut. Lalu golongan petani dan golongan pedagang – yaitu mereka yang bermata pencaharian sebagai petani dan pedagangan. Serta  ada pula golongan penjahat, yakni mereka yang memiliki profesi di bidang kejahatan seperti perampok, pencuri, pembunuh, dan sebagainya.

3. Budaya
Agama yang secara resmi dianut oleh kerajaan adalah agama Hindu, sehingga praktik hidup keseharian sangan kental dengan ritual keagamaan Hindu. Peninggalan yang masih dapat disaksikan hingga kini adalah kitab Cerita Parahyangan dan kitab Sangyang Siksakanda serta kitab cerita Kidung Sundayana. Adapula berbagai prasasti yang ditemukan tersebar di berbagai wilayah kekuasaan kerajaan.

Prasasti-prasasti tersebut di antaranya Prasasti Batu Tulis di Bogor, Prasasti Sangyang di Tapak, Sukabumi, Prasasti Kawali di Ciamis, Prasasti Rakan Juru Pangambat, Prasasti Horren, Prasasti Astanagede, Tugu perjanjian dengan Portugis (padraõ) di Kampung Tugu, Jakarta, dan Taman perburuan yang kini menjadi Kebun Raya Bogor.

Runtuhnya Pakuan Pajajaran
Penerus tahta Pajajaran tidak ada yang bisa menandingi kemasyhuran Sri Baduga Maharaja. Semua catatan akan masa kejayaan yang terabadikan dalam cerita, kidung, pantun, babad, hingga terukir dalam prasasti-prasasti adalah hasil kerja keras dari sang raja pertama.

Catatan keruntuhan Pajajaran terjadi pada 1579 Masehi akibat serangan dari Kesultanan Banten, anak kerajaan dari Kerajaan Demak di Jawa Tengah. Ditandai dengan pemboyongan Palangka Sriman Sriwacana (singgasana raja) dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh Maulana Yusuf.

Pemboyongan singgasana batu tersebut adalah aksi simbolis terhadap tradisi politik masa itu agar Pakuan Pajajaran tidak bisa menobatkan raja baru. Maulana Yusuf ditasbihkan sebagai penguasa sah Sunda karena dirinya masih memiliki darah Sunda dan merupakan canggah dari Sri Baduga Maharaja.

Kerajaan Pajajaran adalah satu bukti sejarah, bahwa alih-alih berperang jalan damai masih dapat ditempuh untuk menyelesaikan pertikaian dua negara. Satu hal yang jarang ditemui, terutama pada masa itu. Mungkin masih ada sisa trauma akibat peristiwa Bubut, di mana tanah Sunda nyaris porak-poranda akibat serangan Majapahit, sehingga mereka memilih jalan yang menghindari terjadinya perang.

Dan sambutan raja Galuh kepada para pengungsi Majapahit juga patut diapresiasi. Sangat sedikit orang yang bisa menerima pengungsi dari negara yang pernah melancarkan serangan perang ke negaranya. Meskipun entah apa alasan sebenarnya diterimanya para pengungsi tersebut, akan tetapi tindakan itu adalah lebih banyak terjadi pada konteks ketimbang praktik.

Berakhirnya masa kerajaan ini adalah akhir dari kekuasaan Hindu di Parahyangan dan awal dari masa dinasti Islam. Konon dikabarkan bahwa sebagian abdi istana menetap di Lebak dan menerapkan cara kehidupan mandala yang ketat. Kini keturunan dari para abdi istana ini adalah yang kita kenal sebagai Suku Baduy.

Sumber : Google Wikipedia


KISAH KERAJAAN PAKUAN PAJAJARAN
BAGIAN - II

Orientasi
Kerajaan Pajajaran, Masa Pendirian, Kejayaan Dan Kehancurannya 1482-1579

Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan yang didirikan oleh suku bangsa Sunda, kerajaan ini terletak di Pulau Jawa bagian barat, pada masa kejayaanya wilayahnya membentang dari Cilacap sampai ke Banten. Nama lengkap dari kerajaan Ini adalah Kerajaan “Pakuan Pajajaran” Pakuan Sendiri diambil dari kata paku sementara Pajajaran bermaksud berjajar atau sejajar, oleh karena itu pakuan pajajaran bermaksud paku yang berjajar atau paku yang sejajar.

Menurut Rouffaer meskipun kata ‘Pakuan” mengandung pengertian "paku", akan tetapi harus diartikan "paku jagat"  yang melambangkan pribadi raja seperti pada gelar “Paku Buwono” dan  “Paku Alam” dalam tradisi Raja-Raja di Kesultanan Mataram. Oleh karena itu kata "Pakuan" menurut pandangan Rouffaer setara dengan "Maharaja". Kata "Pajajaran" diartikan sebagai "berdiri sejajar" atau "imbangan". Yang dimaksudkan Rouffaer adalah berdiri sejajar atau seimbang dengan Majapahit. 

Dengan demikian maka dapatlah dipahami bahwa Pakuan Pajajaran berarti "Kemaharajaan yang berdiri sejajar atau seimbang dengan Kemaharajan Majapahit". Hal ini sesuai dengan fakta-fakta sejarah yang menyatakan bahwa Sunda adalah wilayah satu-satunya yang tak dapat ditaklukan oleh Majapahit. Maka pantaslah Kerajaan di Sunda ini kemudian memproklamirkan diri sebagai “Pakuan Pajajaran”.

Masa Pendirian
Pakuan Pajajaran didirikan pada 1433 Masehi oleh Sribaduga Maharaja, atau biasa dikenal dengan sebutan Prabu Silihwangi. Perlu dipahami bahwa nama lain dari kerajaan ini adalah kerjaan Sunda Galuh, dinamakan Sunda Galuh, karena pada hakikatnya kerjaan ini adalah gabungan dari kedua kerajaan yang didirikan oleh suku bangsa Sunda yang ada di tatar Pasundan.

Waktu itu di Jawa Barat terdapat dua kerajaan yakni Kerajaan Galuh yang ber ibukota Kawali (sekarang masuk wilayah Kab Ciamis) dan Kerajaan Sunda yang beri bukota di Pakwan (sekarang masuk wilayah Kab/Kota Bogor)

Pendirian Kerajaan Sunda Galuh atau Pakuan Pajajaran ini diduga sebagai gerakan antisipasi Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda terhadap Invasi Majapahit, karena memang pada tahun sebelum-sebelumnya Majapahit pernah melakukan penyerangan terhadap kerjaan Galuh, bahkan juga pernah menipu Kerajaan Galuh sebagaimana dalam peristiwa perang Bubat itu.

Dengan bersatunya kerajaan Galuh dan Sunda tentu Majapahit waktu itu fikir panjang untuk melakukan Invasi ke Jawa Barat. Dengan demikian maka tidaklah mengherankan jika Kerajaan Sunda Galuh kemudian memproklamirkan diri menjadi “Pakuan Pajajaran” yang bermaksud Kemaharaajaan yang setara Dengan Majapahit.



Masa Kejayaan
Masa Kejayaan Kerajaan Pajajaran dimulai dari diangkatnya Sribaduga Maharaja menjadi raja kerajaan ini yaitu pada tahun 1482 Masehi, pada tahun diangkatnya Sribaduga menjadi Raja diraja diseluruh Sunda ini dikabarkan terjadi kehebohan di Sunda, karena pada waktu itu diceritakan iring-iringan Rombongan Prabu Sribaduga pindah dari Galuh-ke Bogor (Pakwan) untuk menduduki Istana Sang Bhima Nararayan  menjadi perhatian masyarakat. Karena setelah beratus-ratus tahun lamanya akhirnya orang Sunda kembali dibawah satu Raja lagi.

Pada masa ini juga diceritakan sebagai masa keemasan kerajaan, karena pada masa ini dibangun banyak Insfrastruktur diantaranya pembangunan Parit yang mengelilingi Ibukota Kerajaan, parit-parit tersebut dibangun untuk perbaikan pengairan pertanian rakyat sekaligus juga untuk pertahanan kerajaan. 

Sepeninggal Sribaduga Maharaja 1521, tahta kerajaan kemudian beralih kepada Prabu Surawisesa yang bertahta pada 1521 – 1535, pada masa Raja inilah Pajajaran mengadakan perjanjian dengan Portugis, guna menghadapi ancaman-ancaman yang mungkin ditimbulkan dari bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa.

Pada tahun 1535 Prabu Surawisesa mangkat dan digantikan oleh Ratu Dewata, beliau menjabat dari 1535 – 1543, setelahnya kemudian pada Tahun 1543 – 1551 Ratu Dewata digantikan oleh Ratu Sakti. Masa ke empat raja-raja di atas trersebut merupakan masa kejayaan Kerajaan Pajajaran, meskipun pada masa ini juga Perjanjian Pajajaran dengan Portugis kemudian digagalkan oleh Demak dan Cirebon.

Masa Kehancuran
Meskipun Pakuan Pajajaran pada awalnya didirikan sebagai wujud penyatuan agar tidak dapat ditaklukan oleh Majapahit, akan tetapi tetap saja pada nyatanya usaha Pajajaran ini ternyata kemudian gagal ketika menghadapi Cirebon dan Banten. Benih-benih Kehancuran kerjaan pajajaran dimulai ketika Demak dan Cirebon berhasil mengusir Portugis dan Menguasai Sunda Kelapa dan Banten, setelah peristiwa itu kemudian Kerajaan Cirebon menobatkan Banten menjadi Kesultanan dengan mengangkat Pangeran Sebakingkin sebagai Sultan pertamanya.

Pada waktu Pajajaran diperintah oleh Ratu Nilakendra pada 1551-1567 Pajajaran kemudian diserang oleh Pangeran Sebakingkin, Perang dan Saling serang antara dua kerjaan ini terjadi berlarut-larut, hingga kemudian dalam serangan yang mematikan Pangeran Sebakingkin berhsil menjebol pertahanan Pajajaran dan menguasai Ibu Kota Kerajaan. Ratu Nilakendara pun kemudian meninggalkan Istana dan dikhabarkan mangkat di Pandegelang.

Dalam Pelariannya rupanya Ratu Nilakendara sebelum kemangkatannya  mengangkat Raga Mulya menjadi penerusnya, beliau memerintah dalam pelarian dari tahun 1567 – 1579, pusat kerajaan pajajaran pada tahun ini dialihkan di Pandegelang, akan tetapi pada tahun 1579 Maulana Yusuf anak dari Pangeran Sebakingkin kemudian berhasil menaklukan secara total Pajajaran dengan cara membumi hanguskan pandegelang.

Pembagian Wilayah Kerajaan Pajajaran Setelah Keruntuhan
Wilayah Kerajaan Pajajaran selepas keruntuahannya sebagaimana yang terekam dalam naskah-naskah Kesultanan Cirebon terdiri dari tiga bagian, dalam tiga bagian itu didalamnya terdapat Negara-negara bahawan yang diperintah oleh seorang Tumengung atau Raja Bawahan yang tergabung kedalam Kesultanan Cirebon, adapun wilayah-wilayah tersebut adalah:
v  Pajajaran Barat

Ø  Sarasowan
Ø  Jaka Kelir
Ø  Kanantun
Ø  Suryarasa
Ø  Bangbayang
Ø  Terjung
Ø  Semitirta
Ø  Ajung Kastamana
Ø  Ajung Belang
Ø  Gandra
Ø  Leleruk
Ø  Unjung
Ø  Dagdagan
Ø  Pasirayu
Ø  Kajaksan
Ø  Panangkilan
Ø  Padrik
Ø  Pamukaman
Ø  Rara Gedang
Ø  Sabaklaya
Ø  Waru Lampung
Ø  Pamoka
Ø  Undurus
Ø  Saspari, dan 
Ø  Baranakan

v  Pajajaran Tengah

Ø  Bandung
Ø  Sumedang
Ø  Tutulis Pajajaran
Ø  Cianjur
Ø  Cikakak
Ø  Tegal Luar
Ø  Karawang
Ø  Limbangan
Ø  Wanabaya
Ø  Menak Ciasem
Ø  Cihaur
Ø  Gunung Munara
Ø  Timbanganten
Ø  Panembong
Ø  Rangkaraga
Ø  Tumengungan Garut
Ø  Mangaji
Ø  Sokawiyana
Ø  Cibalagung
Ø  Pawenang
Ø  Lumajang
Ø  Ujung Kulon
Ø  Karangnya
Ø  Sunda Larang

v  Pajajaran Timur

Ø  Losari
Ø  Gebang
Ø  Japura
Ø  Ender 
Ø  Sokapura
Ø  Maleber
Ø  Banagara
Ø  Lebakwangi
Ø  Loragung
Ø  Rajagaluh
Ø  Kuningan
Ø  Panjalu
Ø  Sindangkasi
Ø  Suhunan Talaga
Ø  Kawali
Ø  Cikaso
Ø  Sangyang Gempol
Ø  Palimanan
Ø  Carbon Girang
Ø  Cangkuang
Ø  Kandanghaur
Ø  Dermayu
Ø  Juntu
Ø  Panganjangan

Dari wilayah-wilayah di atas, penguasa yang memperoleh hak otonom dan berpangkat sebagai Raja dan diizinkan menggunakan payung kebesaran dan mempunyai sumber penghasilan sendiri serta memperoleh gelar ialah:
Ø  Dipati Kuningan bergelar Arya Kuningan atau Arya Pandegelan
Ø  Dipati Ukur yang bergelar Arya Tandhumuni
Ø  Ageng Gebang bergelar Arya Wanduhaji
Ø  Gedeng Sela bergelar Arya Kenduruan.

Adalagi wilayah Pajajaran akan tidak masuk dalam Jangkuan Cirebon yaitu Jaketra/Jaya Karta, wilayah itu diserahkan penguasaannya pada Raja Luhut oleh Sunan Gunug Jati.

Sumber : Google Wikipedia


KERAJAAN PAJAJARAN
BAGIAN – III

Orientasi
Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat. Kata Pakuan sendiri berasal dari kata Pakuwuan yang berarti kota. Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam Prasasti Sanghyang Tapak.

Sejarah
Dari catatan-catatan sejarah yang ada, baik dari prasasti, naskah kuno, maupun catatan bangsa asing, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai wilayah kerajaan dan ibukota Pakuan Pajajaran. Mengenai raja-raja Kerajaan Sunda yang memerintah dari ibukota Pakuan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.

Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:
Ø  Prasasti Batu Tulis, Bogor
Ø  Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi
Ø  Prasasti Kawali, Ciamis
Ø  Tugu Perjanjian Portugis (padraõ), Kampung Tugu, Jakarta
Ø  Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor.

Daftar raja Pajajaran
Ø  Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)
Ø  Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan
Ø  Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan
Ø  Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan
Ø  Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
Ø  Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari Pandeglang

Keruntuhan
Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan istana lalu menetap di daerah Lebak. Mereka menerapkan tata cara kehidupan mandala yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy.

SRI BADUGA MAHARAJA
RAJA PAJARAN - BOGOR

Sri Baduga Maharaja (Ratu Jayadewata) mengawali pemerintahan zaman Pajajaran, yang memerintah selama 39 tahun (1482-1521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.

Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima tahta Kerajaan Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar Prabu Guru Dewapranata. Yang kedua ketika ia menerima tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya, Susuktunggal. Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dan dinobatkan dengar gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Jadi sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah "sepi" selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang berpindah tempat dari timur ke barat. Untuk menuliskan situasi kepindahan keluarga kerajaan dapat dilihat pada Pindahnya Ratu

Pajajaran
Prabu Siliwangi
Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda).

Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis: "Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira".

Indonesia: Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya.

Biografi
Masa muda
Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai kesatria pemberani dan tangkas bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan Ratu Japura (Amuk Murugul) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Dalam berbagai hal, orang sezamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi.

Tentang hal itu, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja):
"Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain.

Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Gajah Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa.

Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda".

Perang Bubat
Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan kenyataan sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta, penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara, menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di Bubat, sedangkan penggantinya ("silih"nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, yang menurut naskah Wastu Kancana disebut juga Prabu Wangisutah).

Nah, orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah "seuweu" Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat? Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasa Galuh. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus "langsung" dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar Prabu, sedangkan Jayadewata bergelar Maharaja (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).

Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itu dianggap sebagai "silih" (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). "Silih" dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana.

Kebijakan dalam kehidupan sosial
Tindakan pertama yang diambil oleh Sri Baduga setelah resmi dinobatkan jadi raja adalah menunaikan amanat dari kakeknya (Wastu Kancana) yang disampaikan melalui ayahnya (Ningrat Kancana) ketika ia masih menjadi mangkubumi di Kawali. Isi pesan ini bisa ditemukan pada salah satu prasasti peninggalan Sri Baduga di Kebantenan. Isinya sebagai berikut (artinya saja):
Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang Niskala Wastu Kancana. Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. Harus menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa.

Semoga ada yang mengurusnya. Jangan memberatkannya dengan "dasa", "calagra", "kapas timbang", dan "pare dongdang".

Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungut bea. Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran. Merekalah yang tegas mengamalkan peraturan dewa.

Dengan tegas di sini disebut "dayeuhan" (ibukota) di Jayagiri dan Sunda Sembawa. Penduduk kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan), "calagra" (pajak tenaga kolektif), "kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dondang" (padi 1 gotongan). Dalam kropak 630, urutan pajak tersebut adalah dasa, calagra, "upeti", "panggeureus reuma".

Dalam koropak 406 disebutkan bahwa dari daerah Kandang Wesi (sekarang Bungbulang, Garut) harus membawa "kapas sapuluh carangka" (10 carangka = 10 pikul = 1 timbang atau menurut Coolsma, 1 caeng timbang) sebagai upeti ke Pakuan tiap tahun. Kapas termasuk upeti. Jadi tidak dikenakan kepada rakyat secara perorangan, melainkan kepada penguasa setempat.

"Pare dondang" disebut "panggeres reuma". Panggeres adalah hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha. Reuma adalah bekas ladang. Jadi, padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen dan kemudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru, menjadi hak raja atau penguasa setempat (tohaan). Dongdang adalah alat pikul seperti "tempat tidur" persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. Dondang harus selalu digotong. Karena bertali atau bertangkai, waktu digotong selalu berayun sehingga disebut "dondang" (berayun). Dondang pun khusus dipakai untuk membawa barang antaran pada selamatan atau arak-arakan. Oleh karena itu, "pare dongdang" atau "penggeres reuma" ini lebih bersifat barang antaran.

Pajak yang benar-benar hanyalah pajak tenaga dalam bentuk "dasa" dan "calagra" (Di Majapahit disebut "walaghara = pasukan kerja bakti). Tugas-tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan raja diantaranya : menangkap ikan, berburu, memelihara saluran air (ngikis), bekerja di ladang atau di "serang ageung" (ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi).

Dalam kropak 630 disebutkan "wwang tani bakti di wado" (petani tunduk kepada wado). Wado atau wadwa ialah prajurit kerajaan yang memimpin calagara. Sistem dasa dan calagara ini terus berlanjut setelah zaman kerajaan. Belanda yang di negaranya tidak mengenal sistem semacam ini memanfaatkanna untuk "rodi". Bentuk dasa diubah menjadi "Heerendiensten" (bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar). Calagara diubah menjadi "Algemeenediensten" (dinas umum) atau "Campongdiesnten" (dinas Kampung) yang menyangkut kepentingan umum, seperti pemeliharaan saluran air, jalan, rumah jada dan keamanan. Jenis pertama dilakukan tanpa imbalan apa-apa, sedangkan jenis kedua dilakuan dengan imbalan dan makan. "Preangerstelsel" dan "Cultuurstelsel" yang keduanya berupa sistem tanam paksa memanfaatkan tradisi pajak tenaga ini.

Dalam akhir abad ke-19 bentuknya berubah menjadi "lakon gawe" dan berlaku untuk tingkat desa. Karena bersifat pajak, ada sangsi untuk mereka yang melalaikannya. Dari sinilah orang Sunda mempunyai peribahasa "puraga tamba kadengda" (bekerja sekedar untuk menghindari hukuman atau dendaan). Bentuk dasa pada dasarnya tetap berlangsung. Di desa ada kewajiban "gebagan" yaitu bekerja di sawah bengkok dan ti tingkat kabupaten bekerja untuk menggarap tanah para pembesar setempat.

Jadi "gotong royong tradisional berupa bekerja untuk kepentingan umum atas perintah kepala desa", menurut sejarahnya bukanlah gotong royong. Memang tradisional, tetapi ide dasarnya adalah pajak dalam bentuk tenaga. Dalam Pustaka Jawadwipa disebut karyabhakti dan sudah dikenal pada masa Tarumanagara dalam abad ke-5.

Piagam-piagam Sri Baduga lainnya berupa "piteket" karena langsung merupakan perintahnya. Isinya tidak hanya pembebasan pajak tetapi juga penetapan batas-batas "kabuyutan" di Sunda Sembawa dan Gunung Samaya yang dinyatakan sebagai "lurah kwikuan" yang disebut juga desa perdikan, desa bebas pajak.

Peristiwa-peristiwa di masa pemerintahannya
Beberapa peristiwa menurut sumber-sumber sejarah:

Carita Parahiyangan
Dalam sumber sejarah ini, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian :
"Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa".

(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera di utara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama).
Dari Naskah ini dapat diketahui, bahwa pada saat itu telah banyak Rakyat Pajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama.

Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2.
Naskah ini menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran. [Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga dari Lara Santang. Ia dijadikan raja oleh uanya (Pangeran Cakrabuana) dan menjadi raja merdeka di Pajajaran di Bumi Sunda (Jawa Barat)]

Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sang Bhima (sebelumnya di Surawisesa). Kemudian diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut Demak yang kuat berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjaga kemungkinan datangnya serangan Pajajaran.

Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya yang dikirimkan dari Pakuan ke Cirebon, tidak mengetahui kehadiran pasukan Demak di sana. Jagabaya tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon-Demak yang jumlahnya sangat besar. Setelah berunding, akhirnya Jagabaya menghamba dan masuk Islam.

Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Pasukan besar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan itu dapat dicegah oleh Purohita (pendeta tertinggi) keraton Ki Purwa Galih. [Cirebon adalah daerah warisan Cakrabuana (Walangsungsang) dari mertuanya (Ki Danusela) dan daerah sekitarnya diwarisi dari kakeknya Ki Gedeng Tapa (Ayah Subanglarang).

Cakrabuana sendiri dinobatkan oleh Sri Baduga (sebelum menjadi Susuhunan) sebagai penguasa Cirebon dengan gelar Sri Mangana. Karena Syarif Hidayat dinobatkan oleh Cakrabuana dan juga masih cucu Sri Baduga, maka alasan pembatalan penyerangan itu bisa diterima oleh penguasa Pajajaran].

Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya. Dapat dimaklumi kenapa ia mencurahkan perhatian kepada pembinaan agama, pembuatan parit pertahanan, memperkuat angkatan perang, membuat jalan dan menyusun PAGELARAN (formasi tempur). [Pajajaran adalah negara yang kuat di darat, tetapi lemah di laut.

Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki enam buah Kapal Jung 150 ton dan beberaa lankaras (?) untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun)].

Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada empat pasangan yang dijodohkan, yaitu :
Ø  Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi).
Ø  Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor.
Ø  Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun.
Ø  Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa).
Ø  Perkawinan Pangeran Sabrang Lor alias Yunus Abdul Kadir dengan Ratu Ayu terjadi 1511. Sebagai Senapati Sarjawala, panglima angkatan laut, Kerajaan Demak, Sabrang Lor untuk sementara berada di Cirebon.

Persekutuan Cirebon-Demak inilah yang sangat mencemaskan Sri Baduga di Pakuan. Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Portugis Alfonso d'Albuquerque di Malaka (ketika itu baru saja gagal merebut Pelabuhan Pasai atau Samudra Pasai). Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak.

Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan sektor-sektor pemerintahan. Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon. Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya, Subanglarang, adalah seorang muslimah dan ketiga anaknya -- Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang, dan Raja Sangara -- diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).

Karena permusuhan tidak berlanjut ke arah pertumpahan darah, maka masing masing pihak dapat mengembangkan keadaan dalam negerinya. Demikianlah pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai zaman kesejahteraan (Carita Parahiyangan). Tome Pires ikut mencatat kemajuan zaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur).

Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.

Naskah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan Pancakaki Masalah karuhun Kabeh dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 dalam bahasa Jawa dan huruf Arab-pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa gemuh Pakuan (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila hanya Sri Baduga yang kemudian diabadikan kebesarannya oleh raja penggantinya dalam zaman Pajajaran.

Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi yang dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut Susuhuna di Pakuan Pajajaran, memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521). Ia disebut secara anumerta Sang Lumahing (Sang Mokteng) Rancamaya karena ia dipusarakan di Rancamaya.

Didahului oleh :
Ø  Kerajaan Galuh
Ø  Prabu Dewa Niskala
Ø  Kerajaan Sunda
Ø  Prabu Susuktunggal
Ø  Pajajaran

Sumber : Google Wikipedia

SEJARAH PAJAJARAN
JAMAN PAJAJARAN (1482 - 1579)
BAGIAN IV

Orientasi
Raja-raja Pajajaran
1. Sri Baduga Maharaja
Jaman Pajajaran diawali oleh pemerintahan Sri Baduga Maharaja (RatuJayadewata) yang memerintah selama 39 thaun (1482 - 1521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.

Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima Tahta Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar PRABU GURU DEWAPRANATA. Yang kedua ketika ia menerima Tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya (Susuktunggal). Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dan dinobatkan dengar gelar SRI BADUGA MAHARAJA RATU HAJI di PAKUAN PAJAJARAN SRI SANG RATU DEWATA. Jadi sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah "sepi" selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang berpindah tempat dari timur ke barat.

Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama PRABU SILIWANGI. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda). Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi.

Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis: "Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira" (Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya).

Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai kesatria pemberani dan tangkas bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan RATU JAPURA (AMUK MURUGUL) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Dalam berbagai hal, orang sejamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi. {Tentang hal ini, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja): "Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain. Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa. Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain.

Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda"}

Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan kenyataan sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta (penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara) menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di bubat, sedangkan penggantinya ("silih"nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, menurut naskah Wastu kancana disebut juga PRABU WANGSISUTAH).

Orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah "seuweu" Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat?. Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasan Galuh. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus "langsung" dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar PRABU, sedangkan Jayadewata bergelar MAHARAJA (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).

Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itu dianggap sebagai "silih" (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). "Silih" dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana].

Proses kepindahan isteri Ratu Pakuan (Sri Baduga) ke Pakuan terekam oleh pujangga bernama KAI RAGA di Gunung Srimanganti (Sikuray). Naskahnya ditulis dalam gaya pantun dan dinamai CARITA RATU PAKUAN (diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-17 atau awal abad ke-18).Naskah itu dapat ditemukan pada Kropak 410 . Isinya adalah sebagai berikut (hanya terjemahannya saja):

Ø  Tersebutlah Ngabetkasih
Ø  bersama madu-madunya
Ø  bergerak payung lebesaran melintas tugu
Ø  yang seia dan sekata
Ø  hendak pulang ke Pakuan
Ø  kembali dari keraton di timur
Ø  halaman cahaya putih induk permata
Ø  cahaya datar namanya
Ø  keraton berseri emas permata
Ø  rumah berukir lukisan alun
Ø  di Sanghiyang Pandan-larang
Ø  keraton penenang hidup.
Ø  Bergerak barisan depan disusul yang kemudian
Ø  teduh dalam ikatan dijunjung
Ø  bakul kue dengan tutup yang diukir
Ø  kotak jati bersudut bulatan emas
Ø  tempat sirih nampan perak
Ø  bertiang gading ukiran telapak gajah
Ø  hendak dibawa ke Pakuan
Ø  Bergerak tandu kencana
Ø  beratap cemara gading
Ø  bertiang emas
Ø  bernama lingkaran langit
Ø  berpuncak permata indah
Ø  ditatahkan pada watang yang bercungap
Ø  Singa-singaan di sebelah kiri-kanan
Ø  payung hijau bertiang gading
Ø  berpuncak getas yang bertiang
Ø  berpuncak emas
Ø  dan payung saberilen
Ø  berumbai potongan benang
Ø  tapok terongnya emas berlekuk
Ø  berayun panjang langkahnya
Ø  terkedip sambil menoleh
Ø  ibarat semut, rukun dengan saudaranya
Ø  tingkahnya seperti semut beralih
Ø  Bergerak seperti pematang cahaya melayang-layang
Ø  berlenggang di awang-awang
Ø  pembawa gendi di belakang
Ø  pembawa kandaga di depan
Ø  dan ayam-ayaman emas kiri-kanan
Ø  kidang-kidangan emas di tengah
Ø  siapa diusun di singa barong
Ø  Bergerak yang di depan, menyusul yang kemudian
Ø  barisan yang lain lagi

[yang dikisahkan dalam pantun itu adalah Ngabetkasih (Ambetkasih), isteri Sri BAduga yang pertama (puteri Ki Gedeng Sindang Kasih, putera Wastu Kancana ketiga dari Mayangsari). Ia pindah dari keraton timur (Galuh) ke Pakuan bersama isteri-isteri Sri Baduga yang lain]
Tindakan pertama yang diambil oleh Sri Baduga setelah resmi dinobatkan jadi raja adalah menunaikan amanat dari kakeknya (Wastu Kancana) yang disampaikan melalui ayahnya (Ningrat Kancana) ketika ia masih menjadi mangkubumi di Kawali. Isi pesan ini bisa ditemukan pada salah satu prasasti peniggalan Sri Baduga di Kebantenan. Isinya sebagai berikut (artinya saja):

Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang Niskala Wastu Kancana. Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. Harus menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa.

Semoga ada yang mengurusnya. Jangan memberatkannya dengan "dasa", "calagra", "kapas timbang", dan "pare dongdang".

Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungut bea. Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran. Merekalah yang tegus mengamalkan peraturan dewa.

Dengan tegas di sini disebut "dayeuhan" (ibukota) di Jayagiri dan Sunda Sembawa. Penduduk kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan), "calagra" (pajak tenaga kolektif), "kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dondang" (padi 1 gotongan). Dalam kropak 630, urutan pajak tersebut adalah dasa, calagra, "upeti", "panggeureus reuma". [Dalam kropak 406 disebutkan bahwa dari daerah Kandang Wesi (sekarang Bungbulang, Garut) harus membawa "kapas sapuluh carangka" (10 carangka= 10 pikul = 1 timbang atau menurut Coolsma, 1 caeng timbang) sebagai upeti ke Pakuan tiap tahun. Kapas termasuk upeti. Jadi tidak dikenakan kepada rakyat secara perorangan, melainkan kepada penguasa setempat.

"Pare dondang" disebut "panggeres reuma". Panggeres adalah hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha. Reuma adalah bekas ladang. Jadi, padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen dan ke- mudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru, menjadi hak raja atau penguasa setempat (tohaan). Dongdang adalah alat pikul seperti "tempat tidur" persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. Dondang harus selalu di gotong. Karena bertali atau bertangkai, waktu digotong selalu berayun sehingga disebut "dondang" (berayun). Dondang pun khusus dipaka untuk membawa barang antaran pada selamatan atau arak-arakan. Oleh karena itu, "pare dongdang" atau "penggeres reuma" ini lebih bersifat barang antaran.

Pajak yang benar-benar hanyalah pajak tenaga dalam bentuk "dasa" dan "calagra" (Di Majapahit disebut "walaghara = pasukan kerja bakti). Tugas-tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan raja diantaranya: menangkap ikan, berburu, memelihara saluran air (ngikis), bekerja di ladang atau di "serang ageung" (ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi)]

[Dalam kropak 630 disebutkan "wwang tani bakti di wado" (petani tunduk kepada wado). Wado atau wadwa ialah prajurit kerajaan yang memimpin calagara. Sistem dasa dan calagara ini terus berlanjut setelah jaman kerajaan. Belanda yang di negaranya tidak mengenal sistem semacam ini memanfaatkanna untuk "rodi". Bentuk dasa diubah menjadi "Heerendiensten" (bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar). Calagara diubah menjadi "Algemeenediensten" (dinas umum) atau "Campongdiesnten" (dinas Kampung) yang menyangkut kepentingan umum, seperti pemeliharaan saluran air, jalan, rumah jada dan keamanan. Jenis pertama dilakukan tanpa imbalan apa-apa, sedangkan jenis kedua dilakuan dengan imbalan dan makan. "Preangerstelsel" dan "Cultuurstelsel" yang keduanya berupa sistem tanam paksa memangfaatkan trasisi pajak tenaga ini.

Dalam akhir abad ke-19 bentuknya berubah menjadi "lakongawe" dan berlaku untuk tingkat desa. Karena bersifat pajak, ada sangsi untuk mereka yang melalaikannya. Dari sinilah orang Sunda mempunyai peribahasa "puraga tamba kadengda" (bekerja sekedar untuk menghindari hukuman atau dendaan). Bentuk dasa pada dasarnya tetap berlangsung. Di desa ada kewajiban "gebagan" yaitu bekerja di sawah bengkok dan ti tingkat kabupaten bekerja untuk menggarap tanah para pembesar setempat. Jadi "gotong royong tradisional berupa bekerja untuk kepentingan umum atas perintah kepala desa", menurut sejarahnya bukanlah gotong royong. Memang tradisional, tetapi ide dasarnya adalah pajak dalam bentuk tenaga. Dalam Pustaka Jawadwipa disebut KARYABHAKTI dan sudah dikenal pada masa Tarumanagara dalam abad ke-5.

Piagam-piagam Sri Baduga lainnya berupa "piteket" karena langsung merupakan perintahnya. Isinya tidak hanya pembebasan pajak tetapi juga penetapan batas-batas "kabuyutan" di Sunda Sembawa dan Gunung Samaya yang dinyatakan sebagai "lurah kwikuan" yang disebut juga DESA PERDIKAN (desa bebas pajak).
Untuk mengetahui lebih lanjut kejadian di masa pemerintahan Sri Baduga, marilah kita telusuri sumber sejarah sebagai berikut:

a. Carita Parahiyangan
Dalam sumber sejarah ini, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian: "Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa" (Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera di utara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama).

Dari Naskah ini dapat diketahui, bahwa pada saat itu telah banyak Rakyat Pajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama. Mereka disebut "loba" (serakah) karena merasa tidak puas dengan agama yang ada, lalu mencari yang baru.

b. Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I serga 2
Naskah ini menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran. [Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga dari Lara Santang. Ia dijadikan raja oleh uanya (Pangeran Cakrabuana) dan menjadi raja merdeka di Pajajaran di Bumi Sunda (Jawa Barat)]
Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sang Bhima (sebelumnya di Surawisesa). Kemudian diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut Demak yang kuat berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjada kemungkinan datangnya serangan Pajajaran.

Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya yang dikirimkan dari Pakuan ke Cirebon, tidak mengetahui kehadiran pasukan Demak di sana. Jagabaya tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon-Demak yang jumlahnya sangat besar. Akhirnya Jagabaya menghamba dan masuk Islam.

Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Pasukan besar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan itu dapat dicegah oleh PUROHITA (pendeta tertinggi) keraton KI PURWA GALIH. [Cirebon adalah daerah warisan Cakrabuana (Walangsungsang) dari mertuanya (Ki Danusela) dan daerah sekitarnya diwarisi dari kakeknya Ki Gedeng Tapa (Ayah Subanglarang). Cakrabuana sendiri dinobatkan oleh Sri Baduga (sebelum menjadi Susuhunan) sebagai penguasa Cirebon dengan gelar Sri Mangana. Karena Syarif Hidayat dinobatkan oleh Cakrabuana dan juga masih cucu Sri Baduga, maka alasan pembatalan penyerangan itu bisa diterima oleh penguasa Pajajaran]

Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya. Dapat dimaklumi kenapa ia mencurahkan perhatian kepada pembinaan agama, pembuatan parit pertahanan, memperkuat angkatan perang, membuat jalan dan menyusun PAGELARAN (formasi tempur). [Pajajaran adalah negara yang kuat di darat, tetapi lemah di laut.

Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki 6 buah JUNG (adakah yang tahu artinya?) dari 150 ton dan beberala LANKARAS (?) untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun)]

Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada 4 pasangan yang dijodohkan, yaitu :
1. Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi)
2. Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor
3. Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun
4. Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa)

[Perkawinan Sabrang Lor (YUNUS ABDUL KADIR) dengan Ratu Ayu terjadi 1511. Sebagai SENAPATI SARJAWALA (Panglima angkatan laut) Kerajaan Demak, ia untuk sementara berada di Cirebon]

Persekutuan Cirebon-Demak inilah yang sangat mencemaskan Sri Baduga di Pakuan. Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Portugis ALFONSO d'ALBUQUERQUE di Malaka (ketika itu baru saja merebut Pelabuhan Pasai). Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak.

Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan SEKTOR-SEKTOR PEMERINTAHAN. Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon. Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya (Subanglarang) adalah muslimah dan ketiga anaknya (Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang dan Raja Sangara) diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).

Karena permusuhan tidak berlanjut ke arah pertumpahan darah, maka masing-masing pihak dapat mengembangkan keadaan dalam negerinya. Demikianlah pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai jaman kesejahteraan (Carita Parahiyangan). Tome Pires ikut mencatat kemajuan jaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur). Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.

Naskah KITAB WARUGA JAGAT dari Sumedang dan PANCAKAKI MASALAH KARUHUN KABEH dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 dalam bahasa Jawa dan huruf Arab-pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa GEMUH PAKUAN (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila hanya Sri Baduga yang kemudian diabadikan kebesarannya oleh raja penggantinya dalam jaman Pajajaran.

Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi yang dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut SUSUHUNAN di PAKUAN PAJAJARAN, memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521). Ia disebut SECARA ANUMERTA SANG LUMAHING (SANG MOKTENG) RANCAMAYA karena ia dipusarakan di Rancamaya (di sinilah nilai khusus Rancamaya). [Rancamaya terletak kira-kira 7 Km di sebelah tenggara Kota Bogor. Rancamaya memiliki mata air yang sangat jernih. Tahun 1960-an di hulu Cirancamaya ini ada sebuah situs makam kuno dengan pelataran berjari-jari 7.5 m tertutup hamparan rumput halus dan dikelilingi rumpun bambu setengah lingkaran. Dekat makam itu terdapat Pohon Hampelas Badak setinggi kira-kira 25 m dan sebuah pohon beringin.

Dewasa ini seluruh situs sudah "dihancurkan" orang. Pelatarannya ditanami ubi kayu, pohon-pohonannya ditebang dan makam kuno itu diberi saung. Di dalamnya sudah bertambah sebuah kuburan baru, lalu makam kunonya diganti dengan bata pelesteran, ditambah bak kecil untuk peziarah dengan dinding yang dihiasi huruf Arab. Makam yang dikenal sebagai makam Embah Punjung ini mungkin sudah dipopulerkan orang sebagai MAKAM WALI. Kejadian ini sama seperti kuburan Embah Jepra pendiri Kampung Paledang yang terdapat di Kebun Raya yang "dijual" orang sebagai "makam Raja Galuh".

Telaga yang ada di Rancamaya, menurut Pantun Bogor, asalnya bernama Rena Wijaya dan kemudian berubah menjadi Rancamaya. Akan tetapi, menurut naskah kuno, penamaannya malah dibalik, setelah menjadi telaga kemudian dinamai Rena Maha Wijaya (terungkap pada prasasti). "Talaga" (Sangsakerta "tadaga") mengandung arti kolam. Orang Sunda biasanya menyebut telaga untuk kolam bening di pegunungan atau tempat yang sunyi. Kata lain yang sepadan adalah situ (Sangsakerta, setu) yang berarti bendungan.

Bila diteliti keadaan sawah di Rancamaya, dapat diperkirakan bahwa dulu telaga itu membentang dari hulu Cirancamaya sampai ke kaki bukit Badigul di sebelah utara jalan lama yang mengitarinya dan berseberangan dengan Kampung Bojong. Pada sisi utara lapang bola Rancamaya yang sekarang, tepi telaga itu bersambung dengan kaki bukit.

Bukit Badigul memperoleh namanya dari penduduk karena penampakannya yang unik. Bukit itu hampir "gersang" dengan bentuk parabola sempurna dan tampak seperti "katel" (wajan) terbalik. Bukit-bukit disekitarnya tampak subur. Badigul hanya ditumbuhi jenis rumput tertentu. Mudah diduga bukit ini dulu "dikerok" sampai mencapai bentuk parabola. Akibat pengerokan itu tanah suburnya habis.

Bagidul kemungkinan waktu itu dijadikan "bukit punden" (bukit pemujaan) yaitu bukit tempat berziarah (bahasa Sunda, nyekar atau ngembang=tabur bunga). Kemungkinan yang dimaksud dalam "rajah Waruga Pakuan" dengan Sanghiyang Padungkulan itu adalah Bukit Badigul ini.

Kedekatan telaga dengan bukit punden bukanlah tradisi baru. Pada masa Purnawarman, raja beserta para pembesar Tarumanagara selalu melakukan upacara mandi suci di Gangganadi (Setu Gangga) yang terletak dalam istana Kerajaan Indraprahasta (di Cirebon Girang). Setelah bermandi- mandi suci, raja melakukan ziarah ke punden-punden yang terletak dekat sungai.

Spekulasi lain mengenai pengertian adanya kombinasi Badigul-Rancamaya adalah perpaduan gunung-air yang berarti pula SUNDA-GALUH].

Sumber: Saleh Danasasmita. 1983. Sejarah Bogor (Bagian I). PEMDA DT II Bogor.


SEJARAH KERAJAAN PAJAJARAN PALING LENGKAP
BAGIAN - 5

Orientasi
Kerajaan Pajajaran atau Kerajaan Sunda merupakan Kerajaan Hindu yang terletak di Parahyangan Sunda, Pakuan berasal dari kata Pakuwuan yang mengartikan sebuah kota. Di masa-nya, para masyarakat Asia Tenggara terbiasa untuk menyebut sebuah kerajaan dengan nama ibukota dan dari beberapa catatan yang ditemukan, Kerajaan Pajajaran dibangun pada tahun 923 oleh Sri Jayabhupati seperti yang ada pada sebuah prasasti Sanghyang Tapak [1030 M] berlokasi di Kampung Pangcalikan dan juga Bantarmuncang, tepi Sungai Citatih, Cibadak, Sukabumi. Baca Juga Candi Peninggalan Agama Hindu dan Sejarah Gunung Lawu.

Sejarah Kerajaan Pajajaran
Dari segi geografisnya, Kerajaan Pajajaran ada di Parahyangan Sunda dan Pakuan menjadi ibukota Sunda sudah tercatat oleh Tom Peres tahun 1513 M dalam The Suma Oriantal. Disini tertulis jika ibukota Kerajaan Sunda memiliki sebutan Dayo atau Dayeuh yang membutuhkan waktu dua hari perjalanan dari Kalapa yang sekarang menjadi Jakarta. Sebelum didirikannya Kerajaan Pajajaran, ada beberapa kerajaan yang sudah terlebih dahulu didirikan yakni Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan juga Kerajaan Kawali. Kerajaan Pajajaran ini tidak bisa dilepaskan dari beberapa Kerajaan tersebut sebab Pajajaran merupakan Kerajaan lanjutan dari beberapa Kerajaan tersebut.

Dalam sejarah tertulis jika pada akhir tahun 1400-an, Majapahit kondisinya semakin lemah dan pemberontakan serta perebutan kekuasaan diantara saudara terjadi berulang kali. Saat jatuhnya Prabu Kertabumi [Brawijaya V], para pengungsi dari kerabat Kerajaan Majapahit mengungsi menuju ibukota Kerajaan Galuh yang berada di Kawali, Kuningan, Jawa Barat. Raden Baribin yang merupakan saudara dari Prabu Kertabumi pun di terima dengan tangan terbuka oleh Raja Dewa Niskala serta menikah dengan Ratna Ayu Kirana yang merupakan salah satu putri Raja Dewa Niskala.

Raja juga menikah dengan salah seorang dari keluarga pengungsi rombongan Raden Barinbin tersebut. Raja Susuktunggal yang berasal dari Kerajaan Sunda marah dengan pernikahan Dewa Niskala tersebut. Dewa Niskala dianggap sudah melanggar aturan dan aturan tersebut sudah ada sejak Peristiwa Bubat yang berisi jika orang Sunda-Galuh tidak boleh dan dilarang menikah dengan orang yang berasal dari keturunan Majapahit. Peperangan hampir saja terjadi dari dua raja yang merupakan besan tersebut.

Kedua raja ini menjadi besan sebab Jayadewata yang adalah putra dari Raja Dewa Niskala adalah menantu dari Raja Susuktunggal. Peperangan tersebut tidak terjadi lantaran dewan penasehat berhasil mendamaikan kedua raja tersebut dengan keputusan akhir jika kedua Raja tersebut harus turun dari tahta mereka dan mereka berdua menyerahkan tahta mereka pada putra mahkota yang sudah dipilih. Dewa Niskala memilih Jayadewata, anaknya, untuk meneruskan kekuasaan, sementara Prabu Susuktunggal juga memilih orang yang sama sehingga akhirnya Jayadewata mempersatukan kedua kerajaan tersebut. Jayadewata lalu diberi gelar Sri Baduga Maharaja dan mulai memerintah Kerajaan Pajajaran di tahun 1482. Baca Artikel terkait lainnya seperti Sejarah Kerajaan Majapahit, Asal Usul Nusantara, dan Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara Lengkap.

Ø  Kehidupan Perekonomian Kerajaan Pajajaran
Masyarakat di jaman Kerajaan Pajajaran hidup dengan bercocok tanam khususnya menggarap ladang  yang menghasilkan beras, buah-buahan, sayuran serta lada dan juga mengembangkan di bidang pelayaran serta perdagangan. Kerajaan Pajajaran juga mempunyai 6 pelabuhan penting yakni Sunda Kelapa [Jakarta], Pontang, Tamgara, Pelabuhan Banten, Cigede dan juga Cimanuk [Pamanukan].

Ø  Kehidupan Sosial Kerajaan Pajajaran
Kehidupan sosial masyarakat di Kerajaan Pajajaran merupakan para seniman seperti penari, pemain gamelan serta badut dan juga golongan petani serta perdagangan. Sementara untuk golongan masyarakat yang tidak baik adalah tukang rampas, copet, perampok dan maling.

Ø  Kehidupan Budaya Kerajaan Pajajaran
Yang mempengaruhi kehidupan dari sektor budaya Kerajaan Pajajaran adalah agama Hindu serta beberapa peninggalan seperti prasasti, jenis batik, Kitab Cerita Parahyangan dan juga Kitab Sangyang Siskanda. Baca Artikel terkait lainnya Candi Peninggalan Agama Hindu, Sejarah Situs Ratu Boko, Sejarah Kota Surabaya, Pahlawan Nasional Wanita.

Raja Raja Kerajaan Pajajaran
Ø  Sri Baduga Maharaja [1482-1521], bertahta di Pakuan
Ø  Surawisesa [1521-1535], bertahta di Pakuan
Ø  Ratu Dewata [1535-1543[, bertahta di Pakuan
Ø  Ratu Sakti [1543-1551], bertahta di Pakuan
Ø  Ratu Nilakendra [1551-1567], pergi dari Pakuan sebab serangan Maulana Hasanuddin
Ø  Raga Mula / Prabu Surya Kencana [1567-1579], bertahta di Pandegelang

Puncak Kejayaan Kerajaan Pajajaran
Di masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja, Kerajaan Pajajaran mencapai masa kejayaannya dan ini menjadi alasan yang sering dikatakan masyarakat Jawa Barat jika Sri Baduga atau Siliwangi merupakan seorang raja yang tidak pernah purna dan selalu hidup abadi di hati serta pikiran para masyarakat Jawa Barat.

Maharaja tersebut membangun sebuah karya besar yakni talaga dengan ukuran besar bernama Maharena Wijaya serta membuat jalan untuk menuju ke Ibukota Pakuan serta Wanagiri. Ia juga memperkuat pertahanan ibukota  serta memberikan Desa Perdikan untuk semua pendeta beserta pengikutnya sehingga bisa menyemangati kegiatan beragama dan dijadikan penuntun kehidupan para rakyat.
Sang Maharaja juga kemudian membangun Kabinihajian atau kaputren, kesatriaan atau asrama prajurit, menambah kekuatan angkatan perang, mengatur untuk pemungutan upeti dari para raja dibawahnya dan juga menyusun undang-undang kerajaan. Pembangunan juga bisa dilihat dalam prasasti Kabantenan dan juga Batutulis yang mengisahkan Juru Pantun dan juga penulis Babad yang masih bisa dilihat hingga sekarang, sementara sebagian lagi sudah hilang.

Kedua prasasti dan juga Cerita Pantun serta kisah Babad tersebut diketahui jika Sri Baduga sudah memberi pertintah untuk membuat wilayah perdikan, membuat Talaga Maharena Wijaya, memperkuat ibukota, membuat pagelaran, membuat kabinihajian, membuat kesatriaan, membuat pamington, memperkuat angkatan perang dan juga mengatur upeti untuk para raja yang berada di bawahnya. Baca Artikel terkait lainnya Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia, Sejarah Minangkabau, Sejarah Islam di Indonesia, Sejarah Timor Timur.

Kehancuran Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran akhirnya hancur di tahun 1579 karena serangan Kerajaan Sunda lain yakni Kesultanan Banten. Kerajaan Pajajaran berakhir dengan dibawanya Palangka Sriman Sriwacana dari Pakuan Pajajaran menuju Keraton Surosowan yang berada di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf. Batu sebesar 200 x 160 x 20 cm tersebut dibawa menuju Banten sebab tradisi politik membuat Pakuan Pajajaran tidak bisa menobatkan Raja yang baru dan menjadi pertanda jika Maulana Yusuf merupakan penerus dari Kerajaan Sunda yang sah sebab buyut perempuannya adalah Putri Sri Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana ini bisa dilihat di depan bekas Keraton Surosowan di daerah Banten dan masyarakat Banten menyebutnya dengan Watu Gilang yang berarti mengkilap dan memiliki arti yang sama dengan Sriman.

Sesudah terjadi persekutuan dari Kesultanan Demak dan juga Cirebon, ajaran agama Islam mulai memasuki Parahyangan dan menimbulkan keresahan untuk Jaya Dewata dan kemudian ia membatasi pedagang muslim yang masuk di Pelabuhan kerajaan Sunda supaya pengaruh Islam terhadap pribumi bisa diperkecil. Akan tetapi nyatanya pengaruh agama Islam jauh lebih kuat dan Pajajaran akhirnya memutuskan untuk berkoalisi dengan Portugis agar bisa mengimbangi Kesultanan Demak dan juga Cirebon.

Pajajaran lalu memberikan kesempatan untuk perdagangan bebas di pelabuhan Kerajaan Pajajaran dengan imbalan berupa bantuan militer jika Kesultanan Demak dan Cirebon menyerang Pajajaran. Kekuasaan dari Pajajaran akhirnya jatuh ke Kesultanan Banten di tahun 1524 dan pasukan Demak yang bergabung dengan Cirebon mendarat di Banten dan ajaran Islam yang dibawa para pendatang pun menarik perhatian dari masyarakat sampai ke pedalaman Wahenten Girang.

Sunan Gunung Jati memberikan petunjuk untuk anaknya yakni Maulana Hasanuddin agar membangun sebuah pusat pemerintahan di daerah Wahanen Girang serta membangun kota di pesisir sehingga akhirnya terbentuk Kerajaan Banten. Tahun 1570, Maulana Yusuf naik tahta dan menjadi raja Banten menggantikan sang ayah yakni Maulana Hasanuddin. Ia meneruskan ekspansi menuju pedalaman Sunda serta akhirnya berhasil mengalahkan Pakuan Pajajaran. Tahun 1527, pelabuhan Sunda Kelapa juga jatuh ke pasukan Islam yang membuat Pajajaran dan Portugis menjadi terputus sehingga Kerajaan Pajajaran semakin melemah.

Sedangkan Prabu Ratu Dewata yang memerintah dari tahun 1535 sampai dengan 1543 juga tidak menjalankan pemerintahan dengan baik dan lebih mengutamakan menjadi pendeta yang menyebabkan rakyat menjadi terabaikan. Sedangkan penerusnya yakni Ratu Sakti sangat senang bermain wanita dan Raja Mulya sangat senang menghamburkan harta sambil mabuk yang membuat Kerajaan Pajajaran tidak bisa dipertahankan lagi.

Maulana Yusuf menjadi penerus kekuasaan Sunda yang sah sebab diperkuat juga dengan garis keturunan yang dimilikinya yakni cicit dari Sri Baduga Maharaja, Raja pertama dari Kerajaan Pajajaran. Sesudah berhasil dikalahkan Banten, beberapa punggawa istana pindah dan menetap di Lebak dan hidup di pedalaman sambil terus memakai cara kehidupan mandala yang ketat dan kelompok masyarakat ini masih ada sampai sekarang yang dikenal dengan Suku Baduy. Baca Artikel terkait lainnya Sejarah Candi Kalasan, Sejarah Candi Cetho, Candi Peninggalan Budha, dan Pertempuran Medan Area.

Peninggalan Sejarah Kerajaan Pajajaran
Selain Naskah Babad, Kerajaan Pajajaran juga memiliki beberapa peninggalan lain yang masih bisa kita lihat hingga sekarang.

Prasasti Cikapundung
Prasasti Cikapundung ditemukan oleh warga di sekitar Sungai Cikapundung, Bandung pada tanggal 8 Oktober 2010. Dalam Batu Prasasti ini memiliki tulisan Sunda kuno yang menurut perkiraan berasal dari abad ke-14. Tidak hanya terdapat huruf Sunda kuno, pada prasasti tersebut juga terdapat beberapa gambar seperti telapak tangan, wajah, telapak kaki dan juga 2 baris huruf Sunda kuno dengan tulisan ” unggal jagat jalmah hendap” dengan arti semua manusia di dunia ini bisa mengalami sesuatu apapun. Seorang peneliti utama dari Balai Arkeologi Bandung yakni Lufti Yondri berkata jika prasasti tersebut adalah Prasasti Cikapundung.

Prasasti Huludayeuh
Prasasti Huludayeuh ini ada di bagian tengah sawah di Kampung Huludayeuh, Desa Cikalahang, Kecamatan Sumber sesudah pemekaran Wilayang menjadi Kecamatan Dukupuntang, Cirebon. Prasasti ini sudah sejak lama diketahui oleh masyarakat sekitar akan tetapi untuk para arkeologi dan juga ahli sejarah baru mengetahui keberadaan prasasti tersebut di bulan September 1991. Isi dari prasasti tersebut terdiri dari sebelas baris tulisan beraksa serta bahasa Sunda kuno.

Akan tetapi batu prasasti tersebut ditemukan dalam keadaan yang sudah tidak utuh dan membuat beberapa aksara juga ikut hilang. Permukaan batu prasasti tersebut juga sudah agak rusak dan beberapa tulisan sudah aus sehingga beberapa isi dari prasasti tersebut tidak bisa terbaca. Secara garis besar, prasasti ini menceritakan tentang Sri Maharaja Ratu Haji di Pakwan Sya Sang Ratu Dewata yang berhubungan dengan beberapa usaha untuk membuat makmur negerinya.

Prasasti Pasir Datar
Prasasti ini ditemukan pada sebuah perkebunan kopi yang terletak di Pasir Datar, Cisande, Sukabumi di tahun 1872 dan sekarang sudah disimpan pada Museum Nasional Jakarta. Prasasti ini terbuat dari material batu alah yang masih belum ditranskripsikan hingga saat ini sebab isinya sendiri belum bisa diartikan. Baca Artikel terkait lainnya Sejarah Candi Mendut, Sejarah Kota Semarang, Sejarah Wali Songo, Sejarah Kerajaan Kutai Kertanegara Lengkap.

Prasasti Perjanjian Sunda Portugis
Sejarah Kerajaan PajajaranPrasasti Perjanjian Sunda Portugis merupakan prasasti dengan bentuk tugu batu yang berhasil ditemukan tahun 1918 di Jakarta. Prasasti ini menjadi tanda dari perjanjian Kerajaan Sunda dengan Kerajaan Portugis yang dibuat oleh utusan dagang Kerajaan Portugis dari Malaka dan di pimpin Enrique Leme yang membawa beberapa barang untuk diberikan pada Raja Samian [Sanghyang] yakni Sang Hyang Surawisesa seorang pangeran yang menjadi pimpinan utusan Raja Sunda.

Prasasti ini dibangun diatas permukaan tanah yang juga ditunjuk sebagai tempat benteng dan gudang orang Portugis. Prasasti ini ditemukan dengan cara melakukan penggalian saat membangun sebuah gudang di bagian sudut Prinsenstraat yang sekarang menjadi jalan cengkeh dan juga Groenestraat yang sekarang menjadi jalan Kali Besar Timur I dan sudah termasuk ke dalam wilayah Jakarta Barat. Sedangkan untuk replikanya sudah dipamerkan pada Museum Sejarah Jakarta.

Prasasti Ulubelu
Sejarah Kerajaan PajajaranPrasasti ini merupakan peninggalan Kerajaan Sunda atau Pajajaran dari abad ke-15 M yang berhasil ditemukan di Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Kotaagung, Lampung tahun 1936. Walau ditemukan di Lampung, Sumatera Selatan, akan tetapi para sejarawan menduga jika aksara yang dipergunakan pada prasasti ini merupakan aksara Sunda kuno yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Pajajaran tersebut. Anggapan ini juga dipekruat dengan wilayah dari Kerajaan Sunda yang juga meliputi wilayah Lampung.

Sesudah kerajaan Pajajaran runtuh oleh Kesultanan Banten, kekuasaan Sumatera Selatan tersebut dilanjutkan Kesultanan Banten. Isi dari prasasti ini adalah mantra tentang permohonan pertolongan yang ditujukan pada para Dewa utama yakni Batara Guru [Siwa], Wisnu dan juga Brahma serta Dewa penguasa tanah, air dan juga pohon supaya keselamatan dari segala musuh bisa didapatkan.



Situs Karangkamulyan
Sejarah Kerajaan PajajaranSitus ini ada di Desa Karangkamulyan, Ciamis, Jawa Barat yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Galuh Hindu Buddha. Situs Karangkamulyan ini menceritakan tentang Ciung Wanara berkaitan dengan Kerajaan Galuh. Cerita ini kental dengan kisah pahlawan hebat yang mempunyai kesaktian serta keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa dan hanya dimiliki oleh Ciung Wanara. Dalam area sekitar 25 Ha tersebut tersimpan berbagai benda mengandung sejarah mengenai Kerajaan Galuh yang kebanyakan berupa batu.

Batu-batu tersebut tersebar dengan berbagai bentuk dan beberapa batu yang ada di dalam bangunan strukturnya terbuat dari tumpukan batu dengan bentuk yang hampir serupa dan bangunan mempunyai sebuah pintu yang membuatnya tampak seperti sebuah kamar. Batu-batu tersebut mempunyai nama dan kisah yang berbeda-beda. Nama-nama tersebut diberikan oleh masyarakat sekitar yang diperoleh dengan cara menghubungkan kisah Kerajaan Galuh seperti pangcalikan atau tempat duduk, tempat melahirkan, lambang peribadatan, cikahuripan dan juga tempat sabung.

Prasasti Kebon Kopi II
Prasasti yang memiliki nama lain Prasasti Pasir Muara merupakan peninggalan dari Kerajaan Sunda Galuh yang ditemukan tidak jauh dari Prasasti Kebon Kopi I yang adalah peninggalan dari Kerajaan Tarumanegara. Namun prasasti ini hilang karena dicuri pada sekitar tahun 1940-an. Seorang pakar bernama F.D.K Bosch pernah mempelajari prasasti tersebut dan menuliskan jika dalam prasasti terdapat tulisan bahasa Melayu kuno yang menceritakan tentang seorang Raja Sunda menduduki tahtanya kembali dan menafsirkan angka tahun kejadian bertarikh 932 Masehi.

Prasasti ini ditemukan di Kampung Pasir Muara, Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat abad ke-19 saat tengah dilaksanakan penebangan hutan untuk dibuat lahan kebun kopi dan prasasti ini ada di sekitar 1 km dari batu prasasti Kebonkopi I yakni Prasasti Tapak Gajah. Baca Artikel terkait lainnya Masa Penjajahan Belanda di Indonesia, Sejarah Runtuhnya Bani Ummayah, Sejarah Candi Gedong Songo, Sejarah Kerajaan Majapahit.

Prasasti Batutulis
Prasasti Batutulis diteliti tahun 1806 yakni dengan pembuatan cetakan tangan Universitas Leiden di Belanda. Pembacaan pertama dilakukan oleh Friederich pada tahun 1853 dan hingga tahun 1921 sudah terhitung 4 orang ahli yang juga meneliti isi dari Prasasti Batutulis tersebut, akan tetapi Cornelis Marinus Pleyte menjadi satu-satunya orang yang lebih mengulas tentang lokasi dari Pakuan, sedangkan peneliti lain lebih fokus dalam megnartikan isi dari Prasasti.  Penelitian dari Pleyte itu dipublikasikan pada tahun 1911 dan di dalam tulisannya yakni Het Jaartal op en Batoe-Toelis nabij Buitenzorg dan jika diartikan menjadi angkat tahun pada Batutulis dekat Bogor.

Pleyte memberi penjelasan [Waar alle legenden, zoowel als de meer geloofwaardige historische berichten, het huidige dorpje Batoe-Toelis, als plaats waar eenmal Padjadjaran’s koningsburcht stond, aanwijzen, kwam het er aleen nog op aan. Naar eenige preciseering in deze te trachten”] yang berarti Dalam legenda dan juga berita sejarah yang lebih dipercaya, Kampung Batutulis menjadi tempat Puri Kerajaan Pajajaran dan masalah yang ditimbulkan hanya dengan menelusuri letak yang benar. Pleyte mengatakan puri indentik dengan kota Kerajaan dan kadatuan Sri Bima Narayana Madura Suradipati dengan Pakuan adalah kota. Babad Pajajaran menggambarkan jika Pakuan dibagi menjadi Dalem Kitha [Jero Kuta] dan juga Jawi Kitha [Luar Kuta] yang berarti kota dalam dan kota luar.

Pleyte juga menemukan benteng tanah di Jero Kuta yang sekarang berada doarah Sukasari pertemuan Jalan Siliwangi dengan Jalan Batutulis dan letak Keraton diduga berada di sekitar Batutulis. Laporan yang diberikan oleh Adolf Winkler tahun 1690 disebutkan jika di Batutulis, ia menemukan lantai berbatu yang tersusun sangat rapi dan dengan penjelasan orang yang mengantarnya, itulah letak dari Istana Kerajaan yang diukur dari lantai sampai kearah paseban tua ditemukan 7 pohon beringin, akan tetapi lokasi pastinya masih menjadi sebuah misteri hingga sekarang.

Sesudah Raja Pajajaran pindah menuju Pakuan, pemerintahan di Galuh Kawali dipimpin Prabu Ningratwangi dengan masa pemerintahan dari tahun 1428 sampai 1501 mewakili sang kakak Sri Baduga Maharaja. Sesudah itu pemerintahan Galuh dipimpin Prabu Jayaningrat periode 1501 sampai dengan 1528 dan ia merupakan Ratu Galuh terakhir sebelum Kerajaan runtuh dan ditaklukan oleh Kesultanan Cirebon. Demikian ulasan lengkap tentang Sejarah Kerajaan Pajajaran lengkap yang bisa kami berikan, semoga bisa menambah informasi seputar sejarah khususnya kerajaan di tanah air.

Sumber : Google Wikipedia
 



 

Rabu, 22 April 2020

KISAH PRABU KIANSANTANG

KISAH PRABU KIANSANTANG
Orientasi

Prabu Kiansantang atau Raden Sangara atau Syeh Sunan Rohmat Suci, adalah Putra Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja Raja Pakuan Pajajaran dengan Nyi Subang Larang, Pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang dinikahkan oleh Syekh Quro Karawang. Dari pernikahan Sri Baduga Maharaja dengan Nyi Subang Larang dikarunia 3 orang anak yaitu Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati) dan Prabu Kiansantang.

Prabu Kiansantang menjadi dalem Bogor
Pada usia 22 tahun Prabu Kiansantang diangkat menjadi Dalem Bogor ke 2 yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor.

Peristiwa itu merupakan kejadian paling istimewa di lingkungan Keraton Pajajaran dan dapat diketahui oleh kita semua sebagai pewaris sejarah bangsa khususnya di Pasundan. Prabu Kiansantang merupakan sinatria yang gagah perkasa, tak ada yang bisa mengalahkan kegagahannya. Sejak kecil sampai dewasa yaitu usia 33 tahun, Prabu Kiansantang belum tahu darahnya sendiri dalam arti belum ada yang menandingi kegagahannya dan kesaktiannya di sejagat pulau Jawa.

Sering dia merenung seorang diri memikirkan, "Dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi kesaktian dirinya." Akhirnya Prabu Kiansantang memohon kepada ayahnya yaitu Prabu Siliwangi supaya mencarikan seorang lawan yang dapat menandinginya. Sang ayah memanggil para ahli nujum untuk menunjukkan siapa dan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi Prabu Kiansantang. Namun tak seorangpun yang mampu menunjukkannya.

Prabu Kiansantang dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib
iba-tiba datang seorang kakek yang memberitahu bahwa orang yang dapat menandingi kegagahan Prabu Kiansantang itu adalah Sayyidina Ali, yang tinggal jauh di Tanah Mekah. Sebetulnya pada waktu itu Sayyidina Ali telah wafat, tetapi kejadian ini dipertemukan secara goib dengan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa.

Lalu orang tua itu berkata kepada Prabu Kiansantang, "Kalau memang anda mau bertemu dengan Sayyidina Ali harus melaksanakan dua syarat: Pertama, harus mujasmedi dulu di ujung kulon. Kedua, nama harus diganti menjadi Galantrang Setra (Galantrang - Berani, Setra - Bersih-Suci). Setelah Prabu Kiansantang melaksanakan dua syarat tersebut, maka berangkatlah dia ke tanah Suci Mekah.

Setiba di tanah Mekah dia bertemu dengan seorang lelaki yang disebut Sayyidina Ali, tetapi Kiansantang tidak mengetahui bahwa laki-laki itu bernama Sayyidina Ali. Prabu Kiansantang yang namanya sudah berganti menjadi Galantrang Setra menanyakan kepada laki-laki itu, "Kenalkah dengan orang yang namanya Sayyidina Ali?" Laki-­laki itu menjawab bahwa ia kenal, malah bisa mengantarkannya ke tempat Sayyidina Ali.

Sebelum berangkat laki-laki itu menancapkan dulu tongkatnya ke tanah, yang tak diketahui oleh Galantrang Setra. Setelah berjalan beberapa puluh meter, Sayyidina Ali berkata, "Wahai Galantrang Setra tongkatku ketinggalan di tempat tadi, coba tolong ambilkan dulu." Semula Galantrang Setra tidak mau, tetapi Sayyidina Ali mengatakan, "Kalau tidak mau ya tentu tidak akan bertemu dengan Sayyidina Ali."

Terpaksalah Galantrang Setra kembali ke tempat bertemu, untuk mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat tongkat tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah tangan, dikira tongkat itu akan mudah lepas. Ternyata tongkat tidak bisa dicabut, malahan tidak sedikitpun berubah. Sekali lagi dia berusaha mencabutnya, tetapi tongkat itu tetap tidak berubah. Ketiga kalinya, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sekuat tenaga dengan disertai tenaga bathin. Tetapi daripada kecabut, malahan kedua kaki Galantrang Setra amblas masuk ke dalam tanah, dan keluar pulalah darah dari seluruh tubuh Galantrang Setra.

Ternyata laki-laki yang baru dikenalnya tadi namanya Sayyidina Ali. Setelah Prabu Kiansantang meninggalkan kota Mekah untuk pulang ke Tanah Jawa (Padjadjaran) dia terlunta-lunta tidak tahu arah tujuan, maka dia berpikir untuk kembali ke tanah Mekah lagi. Maka kembalilah Prabu Kiansantang dengan niatan akan menemui Sayyidina Ali dan bermaksud masuk agama Islam. Prabu Kiansantang masuk agama Islam, dia bermukim selama dua puluh hari sambil mempelajari ajaran agama Islam. Kemudian dia pulang ke tanah Sunda (Padjadjaran) untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya. Setibanya di Padjadjaran dan bertemu dengan ayahnya, dia menceritakan pengalamannya selama bermukim di tanah Mekah serta pertemuannya dengan Sayyidina Ali. Pada akhir ceritanya dia memberitahukan dia telah masuk Islam dan berniat mengajak ayahnya untuk masuk agama Islam.

Kiansantang dan Rakeyan Sancang
Prabu Kiansantang inilah disebut-sebut tradisi masyarakat sebagai putra Raja Padjadjaran (Prabu Siliwangi) yang berselisih paham tentang keyakinan agama, tapi akhirnya mereka bersepakat Kean Santang diberi keleluasaan untuk menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah Kerajaan Padjadjaran, petilasan yang bertalian dengan Kean Santang berada di Godog Garut berupa makam, gunung Nagara berupa bekas pertahanan dan di Cilauteureun.

Cerita rakyat turun menurun dari mulut ke mulut bahwa Prabu Kiansantang / Kian Santang abad ke 15 yang bertemu dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib tahun 599-661 dan mengejar bapaknya Prabu Siliwangi untuk di Islam-kan, hai ini terkait dengan siapa pemeluk Islam pertama di tataran Sunda, yakni dengan nama yang serupa dengan Pangeran dari Kerajaan Tarumanagara, yang bernama Rakeyan Sancang (lahir 591 M) putra Raja Kertawarman (Raja Kerajaan Tarumanagara 561 – 618 M) saudara sebapak Raja Suraliman Sakti (568–597) Putra Manikmaya cucu Suryawarman Raja Kerajaan Kendan.

Keturunan Ki Santang
Dalam wangsit uga siliwangi dikatakan bahwa keturunnya akan menjadi pengingat mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya:

Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!:

artinya:
Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab
nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi!

Ingat! Jangan menoleh kebelakang!

Maung dan Prabu Siliwangi: Mitos atau Fakta?
Maung atau harimau punya posisi yang cukup dalam bagi kesadaran orang Sunda. Kita bisa menemukan maung menjadi nama tempat di kawasan Jawa Barat, seperti Cimaung dan Cimacan yang bisa ditemukan di beberapa daerah (Garut, Subang, Banjaran, Cianjur, dll), lambang Kodam Siliwangi, sampai Persib—klub sepakbola kebanggaan warga Jawa Barat dan Sunda yang dijuluki Maung Bandung. Simbol maung yang melekat dalam alam pikiran masyarakat Sunda pada umumnya dikaitkan dengan legenda nga-hyang atau menghilangnya Prabu Siliwangi di hutan Sancang ketika dikejar bala tentara Islam dari Kerajaan Banten dan Cirebon. Peristiwa ini mengisyaratkan mulai masuknya pengaruh Islam di tatar Sunda. Dalam legenda ini juga disebutkan sebelum benar-benar menghilang, Prabu Siliwangi meninggalkan pesan atau amanat kepada para pengikutnya.

Amanat yang dikenal dengan Uga Wangsit Siliwangi ini, di antaranya, memuat pesan Siliwangi tentang masa depan wacana Pajajaran di masa depan: “Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.” "Dari mulai hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang akan mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, tapi menelusurinya harus memakai dasar. Tapi sayangnya yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. Dan bahkan berlebihan kalau bicara.” (Perjalanan Spiritual Menelisik Jejak Satrio Piningit, hal. 16).

Setelah menyampaikan pesan, Prabu Siliwangi kemudian nga-hyang. Salah satu bunyi wangsit yang populer di kalangan masyarakat Sunda: “Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung.” (Kalau aku sudah tidak menemanimu, lihat saja tingkah laku harimau). Hal ini, salah satunya, yang mendasari keyakinan bahwa Prabu Siliwangi telah bersalin rupa menjadi harimau. Sebagian pendapat menerangkan harimau di sini tidak bermakna harfiah, melainkan lebih merujuk karakter harimau yang diidentifikasi sebagai pemberani dan menyayangi keluarga. Poin kedua dari karakter itu, yaitu menyayangi keluarga, dikaitkan dengan pilihan Prabu Siliwangi yang konon memutuskan untuk mundur dan tidak meladeni pasukan Islam karena menghindari pertumpahan darah. Alasannya: pengejaran itu dipimpin oleh Kian Santang, salah satu keturunan Prabu Siliwangi. Dalam budaya pop kiwari, salah seorang seniman Sunda yaitu Yayan Jatnika mengabadikan kisah ini dalam lagu Sancang: “Ceunah ceuk béja baheula aya nagara/ Sancang Pakuan Pajajaran katelahna/ Prabu Siliwangi nu jadi rajana/ sakti mandraguna/ badé di-Islam-keun anjeunna alim/ diudag putrana Prabu Kian Santang/ ilang di leuweung éta tilem di leuweung éta/ Sancang nu canéom geueuman.”

(Konon dulu ada negara/ Sancang Pakuan Pajajaran disebutnya/ Prabu Siliwangi yang jadi rajanya/ sakti mandraguna/ hendak di-Islam-kan beliau tidak mau/ dikejar anaknya Prabu Kian Santang/ hilang di hutan itu lenyap di hutan itu/ Sancang yang angker). Uraian bahwa Prabu Siliwangi menghilang karena terdesak oleh masuknya Islam mengandaikan bahwa dialah raja terakhir Pajajaran. Dan memang tidak sedikit yang menganggap Siliwangi sebagai raja terakhir Pajajaran sehingga nga-hyang atau moksanya Siliwangi sebagai akhir dari Pajajaran sendiri.

Paparan di atas, yang merujuk legenda dan alam pikiran masyarakat Sunda, kiranya mesti diperiksa ulang. Benarkan Prabu Siliwangi seperti yang dikisahkan sebelumnya adalah penguasa Kerajaan Pakuan Pajajaran yang terakhir? Dalam buku Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi karya Saleh Danasasmita diterangkan beberapa pendapat tentang siapa sebetulnya Prabu Siliwangi. Poerbatjaraka berpendapat Prabu Siliwangi adalah raja Sunda yang gugur di Bubat. Dalam Carita Parahiyangan, yang dijadikan sumber olehnya, disebutkan bahwa raja yang berangkat mengantar putrinya ke Majapahit adalah Prabu Maharaja, ayah dari Wastu Kancana.

Sedangkan Jayadewata (Sri Baduga) adalah cucu Wastu Kancana. Dalam naskah itu Prabu Maharaja disebutkan “keuna kalawiyasa” (terkena perbuatan khianat), sementara Jayadewata disebut sebagai “Sang mwakta ring Rancamaya” (yang dikuburkan di Rancamaya). Poerbatjaraka menafsirkan bahwa arti kata "kalawiyasa" sama dengan kata "Rancamaya", artinya menganggap Prabu Maharaja dan Jayadewata adalah orang yang sama. Padahal kalimat lengkapnya “Wastu Kancana nu surup di Nusalarang, Tohaan di Galuh nu surup di Gunung Tiga, Ratu Jayadewata mwakta ring Rancamaya” (Wastu Kancana yang dikuburkan di Nusalarang, Tohaan di Galuh yang dikuburkan di Gunung Tiga, Ratu Jayadewata yang wafat di Rancamaya).

“Berdasarkan maksud kalimat ditambah dengan adanya kata sambung yang menyatakan tempat yaitu di dan ring, tentunya Nusalarang, Gunung Tiga, dan Rancamaya adalah nama tempat,” tulis Saleh. Hal ini tentu saja menggugurkan teori Poerbatjaraka, yang artinya siapa sosok Prabu Siliwangi menjadi tidak jelas. Sementara dalam Babad Siliwangi, diterangkan bahwa Siliwangi berarti "asilih wewangi" (berganti nama/gelar). Hal ini bersesuaian dengan Prasasti Batutulis yang menerangkan bahwa Sri Baduga atau Jayadewata dua kali dinobatkan. Pertama ia dinobatkan dengan menggunakan nama Prabu Guru Dewataprana, lalu namanya diganti ketika dinobatkan untuk kali kedua: “Semoga selamat. Ini tanda peringatan untuk (peninggalan dari) prabu ratu suwargi. Ia dinobatkan dengan gelar Prabu Guru Dewataprana. Dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Dialah yang membuat parit (di) Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Guna Tiga; cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang ke Nusa Larang.” Saleh Danasasmita menulis bahwa nama raja yang resmi dalam bahasa Sunda sering disebut "wawangi". Arti harfiahnya adalah "seuseungit" karena "seungit" (harum atau wangi) atau kemasyhuran raja terletak pada namanya yang resmi, sebab upacara penobatan biasanya harus diikuti dengan penetapan nama resmi. Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja, yang diidentikkan dengan Prabu Siliwangi, pun sesungguhnya bukanlah raja terkahir dari Pakuan Pajajaran. Masih ada lima raja lagi setelahnya yaitu: Prabu Surawisesa (1521-1535), Ratu Dewata (1535-1543), Ratu Sakti (1543-1551), Nilakendra Tohaan di Majaya (1551-1567), dan Ragamulya Suryakancana sebagai raja terakhir ketika pengaruh Islam mulai masuk dan meruntuhkan kerajaan tersebut pada 1579.

Fakta ini tentu saja tidak sesuai dengan legenda Prabu Siliwangi yang digambarkan sebagai raja Pakuan Pajajaran penghabisan yang nga-hyang dan kemudian melahirkan simbol maung. Ada rentang waktu yang cukup panjang antara Sri Baduga Maharaja dengan berakhirnya kerajaan Pakuan Pajajaran. Artinya ada periodesasi yang gamblang untuk memetakan betapa berakhirnya masa hidup Prabu Siliwangi bukanlah akhir dari Pajajaran. Baca juga artikel terkait HARIMAU atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh (tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Irfan Teguh Penulis: Irfan Teguh Editor: Zen RS


Mencari Prabu Siliwangi
Prabu Siliwangi menjadi tapal batas peralihan zaman. Sosoknya terselubung misteri antara mitos dan realitas.

Kean Santang menetapkan pilihannya beralih agama, memeluk Islam sebagai jalan hidup. Pilihan itu berseberangan jalan dengan ayahnya, Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Kean Santang (juga kerap disebut Kian Santang atau Keyan Santang) lantas pergi berkeliling Jawa untuk menimba ilmu dan memperdalam pengetahuan agama. Di sela pengembaraan, dia berganti nama menjadi Sunan Rahmat.

Dia mengemban tugas mengislamkan wilayah barat Pulau Jawa. Dan salah satu tujuan utamanya, mengajak sang ayah beralih keyakinan. Ajakan itu ditolak Sang Prabu dan para pengikutnya. Pertempuran pun tak terelakkan.

Prabu Siliwangi bersama para pengikutnya melarikan diri ke hutan Sancang –di selatan Garut. Putranya terus memburu. Demi menghindari pertempuran lebih lanjut dengan anaknya, Sang Prabu ngahiang (moksa) dan bersalin rupa menjadi Macan Putih. Sementara para pengikutnya berubah wujud menjadi Macan Sancang.

Salah satu versi cerita tutur masyarakat Sunda mengenai moksa Prabu Siliwangi di Sancang itu dihimpun Robert Wessing, antropolog University of Illinois, Amerika Serikat. Wessing menyebut cerita itu kental balutan mitos. Namun, mitos itu dapat dipahami melalui telusur konteks sosial dan historisnya, yang berkaitan dengan “perubahan politik di Jawa Barat dari kerajaan [Hindu] Vaisnava ke kerajaan Islam pada sekira 1579, serta orientasi masing-masing kerajaan,” tulis Wessing dalam “A Change in the Forest: Myth and History in West Java”, dimuat Journal of Southeast Asian Studies, Vol 24, No 1, Maret 1993.

Lantas siapakah Prabu Siliwangi, yang sosoknya melekat kuat dalam alam pikir masyarakat Sunda dan menjadi junjungan dalam cerita tutur, dan berjejak pada beragam jenis susastra Sunda?

Pantun dan Karya Sastra
Catatan awal mengenai Prabu Siliwangi samar-samar terekam dalam cerita pantun Langga Larang, Babakcatra, Siliwangi, dan Haturwangi. Keempat cerita pantun itu disebut dalam teks Siksa Kandang Karesian yang berbahasa dan beraksara Sunda Kuna, bertarikh 1518 M.

Namun, para peneliti kajian Sunda kehilangan narasi awal tersebut. Pasalnya, keempat cerita pantun itu lenyap tak berjejak. Kendati begitu, “dengan bukti ini sudahlah jelas bagi kita, bahwa dalam tahun 1518 M Prabu Siliwangi sudah jadi tokoh cerita pantun,” tulis Amir Sutaarga, filolog pada Museum Gajah (kini, Museum Nasional) dalam Prabu Siliwangi.

Menariknya, sosok Prabu Siliwangi masih tampil di banyak karya sastra, terutama cerita pantun Sunda sekira akhir abad ke-16. Seorang linguis asal Belanda, Fokko Siebold Eringa, yang menggarap cerita pantun Loetoeng Kasaroeng sebagai objek disertasinya, berhasil menghimpun tigapuluh tujuh judul cerita pantun yang dikenal luas masyarakat Sunda. Namun dalam banyak cerita pantun tersebut, Sang Prabu justru tak ditempatkan sebagai tokoh utama yang memiliki peran besar dalam cerita. Sebaliknya, tulis Eringa dalam Loetoeng Kasaroeng: Een Mythologisch Verhaal uit West Java (1949), diterbitkan sebagai seri Verhandelingen van het Koniklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkekunde, (VKI), deel 8. 1949, tokoh utama yang tampil dalam cerita ialah para putranya: Jaka Susuruh, Guru Gantangan, dan Munding Laya Dikusuma.

Kaitan rekam jejak Sang Prabu dalam karya sastra abad ke-16 dengan kenyataan zaman pernah diungkap Jacobus Noorduyn, filolog asal Belanda yang menggeluti beragam naskah Sunda. Dia mengambil pijakan dari teks Bujangga Manik yang memuat kekayaan detail topografi wilayah Jawa, Bali, dan berbagai lokasi di tanah Sunda yang dilalui Bujangga Manik, pujangga kelana asal Pakuan.

Sesaat akan menyeberangi perbatasan Sungai Ci-Pamali (sungai di Brebes), batas wilayah Sunda, Bujangga Manik terlebih dulu singgah di wilayah Arega Jati dan Jalatunda –keduanya tak dikenali. Teks itu menghubungkan Jalatunda, yang biasanya mengacu pada tempat pemandian (patirthan), sebagai tempat melestarikan kenangan (sakakala) terhadap Siliwangi. Potongan kecil informasi dalam teks Bujangga Manik menunjukkan bahwa Siliwangi telah menjadi tokoh historis saat teks itu ditulis.

“Kisahnya sudah dikenal pada masa itu, serta suatu peristiwa penting dalam hidupnya pasti telah terhubung dengan Jalatunda atau area yang lebih spesifik,” tulis J. Noorduyn dalam ”Journeys through Java: Topographical Data from an Old Sundanese Source”, Bijdragen tot de taal, land- en volkenkunde 138, 1982.

Narasi agak lengkap mengenai laku hidup Prabu Siliwangi tersua dalam beberapa manuskrip yang digubah pada abad ke-19: Tjerita Prabu Anggalarang, Babad Pajajaran, Babad Siliwangi, dan Wawatjan Tjarios Prabu Siliwangi. Namun muatan teks manuskrip-manuskrip tersebut, “kurang artinya sebagai sumber sejarah, tetapi lebih banyak merupakan karya sastra yang ditulis dalam bentuk tembang,” ujar Sutaarga.

Prabu Siliwangi tidak hanya hidup dalam teks dan rangkaian cerita. Namanya pun kerap digunakan sebagai legitimasi politik para bupati dan bangsawan Sunda. Menurut Sutaarga, dalam berbagai naskah yang kebanyakan ditulis abad ke-19, nama Prabu Siliwangi dimuat untuk memenuhi kebutuhan para bupati yang berkuasa di berbagai kabupaten di Jawa Barat, khususnya Priangan. Mereka ingin mengaitkan hubungan trahnya dengan Prabu Siliwangi lewat babad-babad keluarga yang memuat pohon kekerabatan.

Identifikasi Siliwangi
Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari, sebuah manuskrip yang digubah di bawah lindungan Pangeran Arya Carbon dari Cirebon dan selesai ditulis tahun 1720, tokoh Prabu Siliwangi disebut sebagai raja Sunda yang beribukota di Pakuan-Pajajaran. Informasi serupa didapat dalam banyak manuskrip yang berasal dari pertengahan abad ke-19. Apakah realitas teks yang menghubungkan Prabu Siliwangi dengan salah seorang raja Sunda adalah realitas historis?

Hasan Djafar, ahli epigrafi, mengatakan Prabu Siliwangi tidak pernah disebut dalam sumber-sumber primer yang berasal dari prasasti dan naskah Sunda Kuna yang muatannya dapat dipercaya. Dari 23 prasasti dari masa kerajaan Sunda yang telah diteliti, 11 prasasti menyebut nama raja-raja Sunda tapi tak satu pun menyebut nama Prabu Siliwangi. Hal itu bisa dipahami karena, “Prabu Siliwangi bukan nama seorang raja dan nama gelar seorang raja, tetapi julukan bagi salah satu di antara deretan raja-raja Sunda,” ujar Hasan Djafar kepada Historia.

Sumber dari karya sastra lumrahnya menyelaraskan Prabu Siliwangi sebagai raja Pajajaran. Namun, kaitan Sang Prabu dengan kerajaan Pajajaran ditolak C.M. Pleyte, etnolog asal Belanda. Pleyte mengajukan pandangannya bahwa Prabu Siliwangi tidak pernah menjadi penguasa Pajajaran.

“Prabu Siliwangi sama dengan Prabu Wangi dari Carita Parahiyangan, yang telah tewas di tanah lapang Bubat,” tulis Pleyte dalam “Raden Moending Laja di Koesoema. Een Oude Soendasche Ridderroman. Met een inleiding over den Toekang Pantoen”, dimuat Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde (TBG), XLIX. Menurutnya, Prabu Siliwangi identik dengan Prabu Wangi atau Prabu Maharaja dari kerajaan Sunda.

Sejatinya, terdapat dua arus besar pendapat dari para ahli Sunda mengenai identifikasi Prabu Siliwangi. Pendapat pertama dilontarkan Ayatrohaedi, arkeolog Universitas Indonesia, yang mengidentifikasi Prabu Siliwangi dengan tokoh Raja Sunda Niskala Wastukancana. Hal itu disampaikannya dalam “Tunas Bersemi di Bumi Subur”, dimuat Proceedings Seminar Sejarah dan Budaya II Tentang Galuh. Menurutnya, Siliwangi berasal dari kata “silih” yang berarti “ganti”, sedangkan “wangi” berarti “harum”; atau bermakna menggantikan seseorang yang harum atau tersohor namanya.

Raja yang harum dan tersohor namanya, menurut Ayatrohaedi, adalah Prabu Maharaja yang gugur di tanah lapang Bubat. Walau tahta kerajaan sementara sempat diisi Buni Sora selama enam tahun, Ayatrohaedi memandang Niskala Wastu Kancana merupakan raja pengganti Prabu Maharaja yang berjasa besar membangun kerajaan Sunda. Masa bertahtanya pun cukup lama, 104 tahun (1371-1357), hingga mangkat di Nusalarang.

Tapak jasanya sebagai raja tersua dalam beberapa prasasti. Prasasti Kawali IA, dari wilayah Astana Gede, Kawali, Ciamis, yang berasal dari abad ke-15, menyebut Niskala Wastu Kancana sebagai Prebu Raja Wastu yang bertahta di ibukota Kawali. Dialah yang memperindah kadaton Surawisesa, membuat parit yang mengelilingi ibukota, memberikan kemakmuran bagi seluruh desa, dan melaksanakan kebajikan agar lama jayanya di dunia. Namanya pun disebut dalam Prasasti Kabantenan I (abad ke-16) dan Batu Tulis, Bogor (1533 M).

Pendapat berbeda dikemukakan Amir Sutaarga dalam Prabu Siliwangi dan Saleh Danasasmita dalam Tokoh Prabu Siliwangi dalam Perspektif Sejarah. Kedua ahli itu mengidentifikasi Prabu Siliwangi sebagai Sri Baduga Maharaja, cucu Niskala Wastu Kencana, yang bertahta pada 1482-1521 dan memindahkan pusat kekuasaan ibukota di Pakuan-Pajajaran. Pada masanya kerajaan Sunda mencapai puncak kejayaan. Sri Baduga Maharja membangun kembali dan memperindah ibukota Pakuan, memariti sekeliling ibukota Pakuan, membuat monumen berupa gugunungan, membuat jalan yang diperkeras dengan batu (ngabalay), membuat hutan lindung (samida), dan membuat Talaga Warena Mahawijaya.

“Tidaklah mengherankan bahwa Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja sampai dua kali mengalami pemberkatan (diwastu) dan masa pemerintahannya merupakan masa kejayaan dan kemakmuran,” ungkap Sutaarga. Terkait perbedaan pendapat itu, kemunculan sosok Prabu Siliwangi dapat dibaca sebagai sebuah fenomena zaman, gejala peralihan antara tatanan lama dan tatanan baru. Menurut Hasan Djafar, fenomena ini mirip dengan sosok Brawijaya yang dalam Babad Tanah Jawi disebut sebagai raja Majapahit akhir sebelum ditundukkan Demak.

“Prabu Siliwangi di wilayah barat Jawa, dan Brawijaya di wilayah timur Jawa, menjadi tapal batas antara tatanan lama dan baru. Kedua sosok itu merupakan gejala peralihan kepercayaan, agama, dan masa kejayaan,” ujar Hasan Djafar.


Disebut Titisan Prabu Siliwangi,
Inilah Legenda Manusia Keturunan Harimau di Garut Selatan

Prabu Siliwangi merupakan raja paling terkenal dari Kerajaan Pajajaran berkat kebijaksanaanya dan sikap adil. Sebagai sosok yang tersohor pada masa itu, namanya Prabu Siliwangi selalu dikaitkan dengan beberapa cerita yang berkembang dalam masyarakat, bahkan sampai sekarang.

Di masa sekarang, Prabu Siliwangi selalu digambarkan sebagai mitologi sosok manusia harimau yang melegenda di masyarakat. Kisahnya, saat itu Prabu Siliwangi menolak ajakan anaknya Raden Kian Santang untuk masuk Islam. Raden Kian Santang memaksa Prabu Siliwangi untuk masuk Islam, dan aksi kejar-kejaran pun terjadi.
Karena merasa lelah dengan ajakan putranya, Prabu Siliwangi pun seketika menghilang ke dalam gelapnya rimba. Namun, setelah Prabu Siliwangi menghilang tiba-tiba saja sekumpulan harimau putih muncul di Hutan Sancang. Masyarakat pun kemudian mengaitkan munculnya harimau putih sebagai jelmaan dari Prabu Siliwangi.

Sampai abad ke-21 ini, kepercayaan tersebut tetap dipegang teguh oleh masyarakat Sunda.

Beragam mitos pun berkembang di masyarakat.
Salah satunya adalah mitos yang berkembang kuat di daerah Pameungpeuk, Garut Selatan, yang pernah dimuat dalam pemberitaan Pikiran Rakyat Masyarakat di sana percaya bahwa dulunya manusia bisa melakukan pernikahan dengan harimau putih, yang tentu saja adalah harimau jadi-jadian.

Menurut kepercayaan, harimau tersebut berbentuk sosok manusia yang begitu tampan atau cantik. Oleh sebab itu, warga di Garut Selatan lantas banyak yang mengklaim sebagai keturunan dari harimau Pajajaran. Jauh dari kata malu, predikat ini justru membawa kebanggaan tersendiri bagi mereka. Sampai saat ini, masyarakat Sunda percaya jika petilasan Prabu Siliwangi berada di Hutan Sancang tepatnya di Curug Kajayaan dan Karanggajah.

Bukan hanya di Hutan Sancang, tetapi masyarakat juga percaya bahwa di beberapa wilayah Sunda terdapat petilasan Prabu Siliwangi. Salah satunya di ada di Sukabumi Selatan, yang bernama Gua Kutamaneuh. Setiap harinya, banyak warga yang datang ke tempat-tempat tersebut untuk bertapa atau hanya berziarah semata.

Nama Prabu Siliwangi begitu lekat di hati masyarakat Sunda. Sehingga jika melihat harimau putih, masyarakan akan selalu mengaitkannya dengan nama sosok sang Raja. (Mitha Paradilla Rayadi/PR)

Editor: Andika Thaselia Prahastiwi
Sumber: Pikiran Rakyat


KABUPATEN ASAHAN PROVINSI SUMATERA UTARA

    KABUPATEN ASAHAN PROVINSI SUMATERA UTARA Orientasi Asahan ( Jawi : اسهن ) adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi S...