Tampilkan postingan dengan label lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lainnya. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 April 2016

Imperialisme ke Dunia Islam




BAB I
PENDAHULUAN

Berhasilnya Bangsa Mongol mengakhiri kekuasaan Islam di Bagdad, bukan saja mengakhiri sistem kekhalifahan, tetapi juga merupakan awal kemunduran dalam politik dan peradaban umat Islam. Hal ini terbukti dengan dihancurkan dan dibakarnya perpustakaan-perpusatkaan yang memuat ribuan buku karya umat Islam oleh tentara Mongol.

Akibat lain dari kejatuhan Bagdad ke tangan Mongol adalah terpecah belahnya kerajaan islam menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang independent. Di antara kerajaan-kerajaan kecil itu seringkali juga terjadi perselisihan dan peperangan sehingga semakin memperlemah kekuatan umat islam.

Dengan melemahnya kekuatan islam, maka membuat orang-orang barat lebih mudah untuk menjajah islam sampai akhirnya masa kejayaan Islam runtuh.

BAB II
PEMBAHASAN

Motivasi dan Tujuan Bangsa Barat Menjajah Negara Islam
Kelemahan dan kemunduran kerajaan atau Negara-negara Islam betul-betul dimanfaatkan Bangsa Barat untuk mengambil wilayah kekuasaannya satu persatu motivasi bangsa barat datang menguasai negara-negara islam adalah motivasi ekonomi, politik, dan agama.

1. Motivasi Ekonomi

Motivasi utama kolonialisasi barat menjajah dunia Islam tidak dapat dipisahkan atas kepentingan ekonomi dan perdagangan. Ketika dunia Islam mengalami kemunduran, eropa sedang berada di jaman kemajuan. Kemajuan yang diraih Barat mampu melahirkan dan mengembangkan industri. Industri ini tentu saja membutuhkan bahan-bahan baku dan rempah-rempah. Pada saat yang sama Barat juga perlu wilayah tempat memasarkan produk industri mereka.

Bangsa Barat terus berupaya mencari terobosan baru guna menguasai jalur-jalur perdagangan yang menguntungkan. Terobosan itu nyata membawa hasil, yaitu dengan ditemukannya tanjung Harapan oleh Vasco dan Gama dan Benua Amerika oleh Colombus. Penemuan ini sangat berarti bagi Amerika, tetapi merupakan tragedi yang merugikan bagi dunia Islam. Setelah penemuan ini Eropa semakin menumbuhkan semangat ekspansif dan penetratifnya ke dalam dunia Islam. Dalam kondisi demikian, mengeksploitasi dan menguras kekayaan alam serta memeras sumber daya manusia di daerah yang dikuasainya.

2. Motivasi Politik

Motivasi politik juga merupakan salah satu dari tujuan mereka menjajah dunia Islam. Karena suatu wilayah yang secara politik sudah dikuasai akan memudahkan penguasa colonial melakukan hubungan dan monopoli kepentingan ekonominya. Jika penguasa colonial sudah menguasai wilayah atau jajahan tentu saja berupaya mewujudkan stabilitas perdagangan dan ekonominya.

Sehingga pada saat yang sama penguasa colonial merasa perlu mempertahankan kekusaannya. Hal ini menjadi penting terutama penjajah harus menghadapi saingan politis dari bangsa Barat lainnya dalam melebarkan kekuasaannya. Stabilitas politik dalam negeri jajahan diperlukan untuk memperlancar eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia di satu pihak, dan di pihak lain mempertahankan kepentingan kepetingan ekonomi atau gangguan dari rekan kolonial lainnya.

3. Motivasi agama

Selain motivasi ekonomi dan politik, tetapi juga motivasi agama. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya pendeta dan pastur yang dikirim ke Negara-negara Islam guna menyebarkan agama Kristen. Hal itu di dasari atau tumbuhnya semangat reconquista, semangat balas demdam bangsa Barat, khususnya Portugal dan Spanyol, atas penjajahan bangsa Arab Islam di negeri mereka selama hamper delapan abad. Semangat ini terus mewarnai usaha mereka dalam melakukan penjajahan atas dunia islam.

Bangsa Barat mengetrapkan tiga idiologi dalam usaha penguasaan Negara-negara Islam, yaitu Gold, Glory, dan Gospel. Uasaha pertama adalah menguasai dunia Timur Islam yang sangat kaya itu menjadi bagian wilayah jajahan, sehingga mereka menguasai seluruh sektor penting di dalam perekonomian dunia. Setelah itu, mereka akan menjadi bangsa yang kaya dan makmur serta mencapai kejayaan (glory). Usaha selanjutnya, dan ini tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan usaha lain. Adalah penyebaran agama Kristen di dunia Islam. Ketiga motivasi ini membawa hasil yang cukup signifikan dalam usaha mereka menguasai dunia Islam. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya penganut Kristen di dunia Islam, seperti di dunia Islam, seperti Indonesia, Mesir, wilayah Jazirah Arabia dan lain sebagainya.

Wilayah-wilayah islam yang dikuasai Barat

Serangan demi serangan yang dilakukan olehbangsa Barat terhadap kekuasaan Islam menyebabkan jatuhnya kekuasaan Islam ketangan bangsa Barat.Di antara wilayah-wilayah yang jatuh ke tangan bangsa Barat antara lain:

1. Kerajaan Islam Malaka jatuh ketangan Portugis pada tahun 1802 M.
2. Indonesia jatuh ketangan Belanda pada tahun 1602 M.
3. Mesir jatuh ketangan Napoleon Bonaparte pada tahun 1789 M.
4. Oman dan Qatar jatuh ketangan Inggris pada tahun 1802 M.
5. Al Jazair jatuh ketangan Prancis pada tahun 1830 M.
6. Kaukasia jatuh ketangan Rusia pada tahun 1834 M.
7. Aden jatuh ketangan Inggris pada tahun 1839 M.
8. Kerajaan Moghul di India jatuh ketangan Inggris pada tahun 1857 M.
9. Bukara dan Samarkhand jatuh ketangan Rusia pada tahun1866 M.
10. Uzbekistan jatuh ketangan Rusia pada tahun 1873 M.
11. Tunisia jatuh ketangan Prancis pada tahun 1881 M.
12. Mesir jatuh ketangan Inggris pada tahun 1882 M.
13. Eriteria jatuh ketangan Italia pada tahun 1885 M.
14. Senegal jatuh ketangan Prancis pada tahun1890 M.
15. Nigeria dan Daerah Pantai Gading jatuh ketangan Prancis pada tahun 1891 M.
16. Sudan jatuh ketangan Inggris pada tahun1898 M.
17. Chad jatuh ketangan Prancis pada tahun1900 M.
18. Kesultanan Tripoli dan Syreneica jatuh ketangan Itali pada tahun 1912 M.
19. Maroko jatuh ketangan Prancis pada tahun1912 M.
20. Kuwait jatuh ketangan Inggris pada tahun 1920 M.
21. Syria dan Lebanon jatuh ketangan Prancis tahun 1920 M.
22. Kesultanan Sulu dan Mindanao di Philipina jatuh ketangan Spanyol pada tahun 1851 M.

C. Dampak Penjajahan Barat Dalam Bidang Politik dan Ekonomi
Kehadiran penjajahan Barat di Negara-negara Islam betul-betul berakibat buruk terhadap semua bidang kehidupan, terutama bidang politik dan ekonomi. Kekuasaan penjajahan Barat atas Negara-negara Islam telah benar-benar membuat kehidupan politik umat Islam tidak berjalan.

Berpuluh–puluh tahun dan bahkan ratusan tahun bangsa-bangsa Islam yang terjajah tidak punya kesempatan untuk memimpin bangsanya sendiri. Penderitaan demi penderitaan, siksaan demi siksaan, dan ketakutan demi ketakutan dialami oleh masyarakat Islam, terutama para tokoh-tokoh pergerakan.Mereka di tangkap, disiksa, Dan bahkan tak sedikit yang di asingkan.

Dalam bidang ekonomi tak kalah parahnya. Para penjajah Barat menghidupkan system ekonomi kapitalis. Perdagangan dan roda perekonomian dikuasai sepenuhnya oleh bangsa Barat. Mereka para penjajah yang berkuasa dan memiliki uang mengendalikan sepenuhnya perekonomian. Rakyat dan umat Islam mengalami penderitaan karena tak sanggup hidup dengan ekonomi yang tertindas dan dikuasai. Tak heran jika akhirnya kerja paksa dan perbudakan hidup kembali di mana-mana

D. Dampak Penjajahan Barat dalam Bidang Ilmu Pengetahuan
Kemiskinan ekonomi dan tekanan politik menghasilkan kekurangan pangan, sandang, dan papan. Kekurangan gizi dan system politik yang telah dikuasai sepenuhnya oleh bangsa penjajah telah membuat bangsa-bangsa Islam tak berdaya membangun peradaban.

Kesempatan menuntut ilmu bukan saja dibatasi, tetapi juga ditutup oleh Bangsa Barat bagi kaum muslimin. Sekolah-sekolah dibangun hanya untuk bangsa dan masyarakat mereka sendiri, sedangkan bagi bangsa muslim yang terjajah tidak ada kesempatan lagi untuk menuntut ilmu.

Kondisi demikian telah menjadikan umat Islam semakin lumpuh dan terpuruk dalam semua aspek kehidupan. Para ulama yang diketahui menyebarkan Islam ditangkap dan dipenjarakan. Perpustakaan dan masjid yang dahulu digunakan untuk menuntut ilmu ditutup dan bahkan tak sedikit yang dihancurkan .pengetahuan dan peradaban Islam sama sekali tidak tumbuh dan berkembang. Islam semakin terpuruk dan terbelakang. Kemiskinan dan kebodohan menjadi cirri khas bangsa-bangsa yang terjajah selama bertahun-tahun.

E. Mengambil dan Ibrah dari Imperialisme

Penjajahan oleh siapapun dan di manapun dilakukan akan membawa hasil yang sama, yaitu penderitaan dan kemiskinan serta keterbelakangan. Tak ada satupun manusia dan bangsa di dunia ini yang hidupnya mau terjajah, hak-haknya dirampas dan masa depannya dihancurkan. Penjajahan adalah bentuk kezaliman yang nyata terhadap sesame manusia.

Sebagai umat Islam, kita semestinya mampu mengambil ibrah atau pelajaran dari semua yang telah menimpa bangsa-bangsa muslim di tangan para penjajah. Beberapa ibrah yang dapat diambil antara lain :

1. Pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan di antara kaum muslimin dan Negara-negara Islam demi terwujudnya kekuatan bersama yang akan digoyahkan oleh bangsa manapun yang ingin menghancurkan Islam dan peradaban manusia.

2. Meningkatkan kualitas pendidikan, ilmu pengetahuan, dan peadaban, agar muncul intelektual-intelektual muslim yang bermutu sehingga ilmu pengetahuan Islam dan umum dapat berkembang dan dapat dipelajari oleh umat Islam untuk kemajuan dan peradaban manusia.

3. Penguasaan ekonomi, militer, dan teknologi harus menjadi target umat Islam di masa-masa mendatang. Bangsa yang dapat menguasai tiga bidang tersebut adalah bangsa yang akan bermartabat di mata bangsa-bangsa lain di dunia ini, selama menghasilkan perdamaian dan kemakmuran bagi seluruh manusia.

ANALISIS MATERI

Dari materi Sejarah Kebudayaan Islam untuk kelas XII (tiga) madrasah aliyah dan beberapa referensi yang kami ambil dari sumber lain, maka kami dapat menganalisis beberapa penjelasan sebagai berikut :

Kami mulai dengan mencoba menganalisis sebab terjadinya Imperialisme yakni karena adanya :

Keinginan untuk menjadi jaya, menjadi bangsa yang terbesar di seluruh dunia. Tiap bangsa ingin menjadi jaya. Tetapi sampai dimanakah batas-batas kejayaan itu ? Jika suatu bangsa tidak dapat mengendalikan keinginan ini, mudah bangsa itu menjadi bangsa imperialis. Karena itu dapat dikatakan, bahwa tiap bangsa itu mengandung benih imperialisme.

Perasaan sesuatu bangsa, bahwa bangsa itu adalah bangsa istimewa di dunia ini. Tiap bangsa mempunyai harga diri. Jika harga diri ini menebal, mudah menjadi kecongkakan untuk kemudian menimbulakan anggapan, bahwa merekalah bangsa teristimewa di dunia ini, dan berhak menguasai, atau mengatur atau memimpin bangsa-bangsa lainnya.

Hasrat untuk menyebarkan agama atau ideologi dapat menimbulkan imperialisme. Tujuannya bukan imperialisme, tetapi agama atau ideologi. Tetapi jika penyebaran agama itu didukung oleh pemerintah negara, maka sering tujuan pertama terdesak dan merosot menjadi alasan untuk membenarkan tindakan imperialisme.

Letak suatu negara yang dianggap geografis tidak menguntungkan. Perbatasan suatu negara mempunyai arti yang sangat penting bagi politik negara.
Sebab-sebab ekonomi. Sebab-sebab ekonomi inilah yang merupakan sebab yang terpenting dari timbulnya imperialisme.
Dari perbuatan itulah maka timbulnya peperangan dan perebutan kekuasaan dikalangan umat.
Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (Qs. Albaqarah : 12)

Kemudian jika dikaitkan dengan keadaan sekarang, Perang dan permusuhan dunia Barat terhadap Islam dan kaum muslimin memang telah, sedang, dan akan senantiasa berlangsung. Baik dunia Barat diwakili oleh satu pihak maupun oleh banyak pihak, karena kekafiran itu adalah agama yang satu. Imperialisme Barat telah meninggalkan goresan sejarah yang penuh cerita kedzhaliman, pembantaian rakyat, perampasan harta rakyat dan kenangan kepiluan di wilayah-wilayah jajahan. Setelah itu Barat menampilkan diri sebagai manusia yang paling beradab atau dengan istilah populer masa kini ialah bangsa-bangsa Barat adalah bangsa-bangsa yang paling humanistis. Kebiadaban mereka hendak dihapus dari catatan sejarah melalui para ilmuwan mereka atau ilmuwan kalangan Muslimin yang digaji sebagai kuli intelek guna merekayasa sejarah untuk menampilkan wajah simpatik budaya Barat yang humanistis. Media massa cetak dan elektronik, buku-buku, film-film dan berbagai sarana media lainnya, dikerahkan untuk kepentingan Barat dan simpatiknya.

Adapun wajah Islam, ditampilkan sedemikian buruknya sehingga agama ini selalu identik dengan kekerasan, terorisme, perampokan, penganiyayaan serta berbagai atribut kebiadaban. Sedangkan komunitas Islam digambarkan sebagai komunitas terbelakang, melarat, kotor, tidak disiplin, penuh kedhaliman dan tidak manusiawi serta berbagai label kerendahan. Semua opini ini melahirkan para ilmuwan yang minder di hadapan peradaban Barat dan sinis terhadap Islam serta berusaha menafsirkan Islam sesuai dengan pola fikir Barat.

Padahal Islam sebagai agama rahmah menebarkan kasih sayang dan menegakkan keadilan di muka bumi melalui perjuangan bersenjata untuk memerangi musuh-musuh kasih sayang dan sekaligus musuh-musuh keadilan. Yaitu musuh-musuh kemanusiaan yang akan menjajah manusia dengan berbagai kedzhalimannya, teror dan berbagai macam kejahatan yang menginginkan agar manusia tetap dalam kebodohannya agar tidak mengerti di mana jalan keluar untuk bisa lepas dari berbagai kedzhaliman para penjajah dan pemeras itu. Para penjahat dan penjajah itulah yang diperangi Islam dan dengan perang ini Islam ingin mematahkan segala kekuatan mereka sehingga Islam dapat ditegakkan syari’atnya di muka bumi ini, dan akibatnya dunia akan dipenuhi kasih sayang dan keadilan. Maka bagi siapa yang membela agama dijalan Allah akan mendapatkan kenikmatan di akhirat dan bagi yang terus menerus melakukan kejahatan, Allah memperingatkan siksaanNya yang akan diberikan.

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang Telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran : 30)

Rasulullah saw mengaitkan misi dakwah Islamiyah yang beliau emban dengan misi perang yang beliau juga diperintah untuk memimpin umatnya untuk itu. Beliau menyatakan:

“Aku diperintah untuk memerangi sekalian manusia sehingga mereka mau mempersaksikan keyakinan bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi pula bahwa Muhammad adalah utusan dan hamba Allah, dan menunaikan shalat dan menunaikan zakat. Maka bila mereka telah menunaikan semua perkara tersebut, mereka terlindung darah dan harta mereka. Dan adapun urusan batin mereka, urusannya diserahkan kepada Allah.”

Prinsip perjuangan menebar kasih sayang dan prinsip perjuangan menegakkan keadilan di muka bumi adalah prinsi-prinsip perjuangan yang mewarnai seluruh perjuangan Islam dalam keadaan perang ataupun dalam keadaan damai, terhadap kawan ataupun terhadap lawan.

Bahaya Penjajahan bangsa barat menyebabkan kehancuran politik bangsa yang dijajahnya . beratus-ratus tahun bangsa yang dijajah, seperti Indonesia, tidak mampu memimpin bangsanya, tidak dapat mengatasi kesulitan dan penderitaan rakyatnya. Politik kapitalisme membuat bangsa yang dijajah mempunyai watak ingin mengeruk keuntungan tanpa menghiraukan penderitaan orang lain. Sikap dan perilaku mereka bertentangan dengan watak Indonesia dan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh agama Islam.
Firman Allah menegaskan dalam Qs. Albaqarah : 27 .
(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi.

Bahwa kaum Barat menjajah negara Islam menggunakan landasan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Pada umumnya mempergunakan dasar yang mereka peroleh dari negerinya. Hal inilah yang mengakibatkan negara Islam mendapatkan perlakuan yang tidak sewajarnya .

Sikap dan perbuatan para penjajah itu mengakibatkan bencana besar bagi umat Islam. Penderitaan yang dialami umat Islam selama masa-msa penjajahan, mengakibatkan banyak rakyat yang mati kelaparan dan sebagainya. Sementara bangsa yang menjajah hidup dalam kemewahan dan kemakmuran. Mereka betul-betul tidak kenal perikemanusiaan dan tidak mengindahkan hak-hak asasi manusia. Situasi demikian nampaknya disengaja demi berlakunya segala peraturan yang mereka ciptakan.

Bahaya lain yang ditimbulkan dari kolonialisme Barat adalah dalam bidang ekonomi yakni kapitalisme. Sistem kapitalisme ini amat berbahaya bagi keberadaan dan perjuangan umat Islam dalam meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat Islam. Jika sistem ini terus dipertahankan, maka akan semakin parah kesengasaraan umat Islam dan kemiskinan akan bertambah. Sebab modal untuk mempertahankan usaha dan hidupnya telah dirampas . selain itu juga akan menimbulkan kekhawatiran ekspoitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Sedangkan dalam bidang keagamaan, usaha pengkristenisasian umat Islam sangat gencar mereka lakukan. Para penjajah seringkali melakukan penghinaan terhadap umat Islam , mereka mengatakan bahwa kaum agama adalah orang-orang yang bodoh dan terbelakang. Oleh karena itu mereka tidak pantas mengatur masyarakat . kaum agama tidak boleh berpolitik,mereka dilarang melakukan kegiatan-kegiatan organisasi.

Bangsa barat melakukan penyebaran agama agama kristen melalui missionaris atau zendingnya. Penjajahan barat yang dipelopori oleh bangsa spanyol dan portugis mempunyai tujuan yang hampir sama, yaitu disamping mencari daerah penanaman modal asing, disamping menyebarkan agama kristen diwilayah jajahannya. Adanya semboyan Gold yaitu semangat untuk mencari keuntungan besar, Glorry yaitu semangat untuk mencapai kejayaan dalam bidang kekuasaan, dan Gospel yaitu semangat menyebarkan agama kristen di masyarakat yang terjajah. Dengan demikian motivasi Penjajah bangsa barat selain ekonomi, politik, sosial ,juga melalui motivasi agama.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Dari kata imperialism saja kita sudah bergidik ngeri, sebab sesuai dengan pendahuluan yang kami tulis berdasarkan buku bacaan sejarah kebudayaan islam kelas 3, bahwa imperialism identic dengan kekerasan, pembunuhan, perebutan hak asasi, peperangan, kekuasaan, keserakahan dan lain sebagainya.

Imperialism bukanlah persoalan jiwa semata-mata, bahkan ia juga melibatkan cita-cita mereka.

Saran

Dari pembuatan makalah ini, kami sebagai penulis menyadari bahwa sangat banyak kekurangan yang terdapat dalam makalah ini karena memiliki keterbatasan. Sebagai manusia kami tidak bias sempurna, tapi kami berharap makalah ini mampu menuju kepada kesempurnaan. Untuk itu kami memohon saran dan kritik pembaca agar menjadikan makalah kami lebih dekat kepada kesempurnaan.

DAFTAR PUSTAKA
Ihaq, Sulli Zaenatul Ummah, sejarah kebudayaan islam, karya duta, Jakarta 2007.
Departemen agama RI. Sejarah kebudayaan islam, 2002
www.scribd.com/doc/86181721/umii
http://imperialism.hmtl
http://emarifin.multiply.com/feel.rss
[5] sulli ishaq zaenatul ummah, sejarah kebudayaan islam, karya duta, Jakarta 2007 hlm. 27-29
Departemen Agama RI.2002.Sejarah Kebudayaan Islam. ..h.163

Selasa, 15 Maret 2016

Asal-Usul Indonesia



ASAL-USUL NAMA INDONESIA

Yang dimaksud dengan Indonesia ialah Indonesia dalam pengertian geografis dan bangsa. Menurut pengertian geografis. Indonesia berarti bagian bumi yang membentang dari 95°-141° Bujur Timur, dan 6° Lintang Utara sampai 11° Lintang Selatan. Sedangkan Indonesia dalam arti bangsa yang secara politik, ekonomi, dan sosial budaya dalam wilayah tersebut.

Istilah Indonesia untuk pertama kalinya ditemukan oleh seorang ahli etnologi Inggris bernama James Richardson Logan pada tahun 1850 dalam ilmu bumi. Istilah Indonesia digunakan juga oleh G.W. Earl dalam bidang etnologi. G.W. Earl menyebut Indonesians dan Melayunesians bagi penduduk Kepulauan Melayu.

Pada tahun 1862 istilah Indonesia digunakan oleh orang Inggris bemama Maxwell dalam karangannya berjudul The Island of Indonesia (Kepulauan Indonesia) dalam hubungannya dengan ilmu bumi. Istilah Indonesia semakin populer ketika seorang ahli etnologi Jerman bernama Adolf Bastian menggunakan istilah Indonesia pada tahun 1884 dalam hubungannya dengan etnologi.

Kata Indonesia berasal dari kata Latin indus yang berarti Hindia dan kata Yunani nesos yang berarti pulau, nesioi (jamak) berarti pulau-pulau. Dengan demilcian, kata Indonesia berarti pulau-pulau Hindia.

Indonesia dikenal pula dengan sebutan Nusantara. Kata Nusantara berasal dari bahasa Jawa Kuno, yaitu nusa yang berarti pulau dan antara yang berarti hubungan. Jadi, Nusantara berarti rangkaian pulau-pulau.

Bangsa Indonesia pertama kali menggunakan nama Indonesia secara politik. Istilah Indonesia untuk pertama kalinya digunakan oleh Perhimpunan Indonesia, yaitu organisasi yang didirikan oleh pelajar-pelajar Indonesia di Negeri Belanda pada tahun 1908. Organisasi tersebut pertama kali bemama Indische Vereeniging. Kemudian nama itu diganti menjadi Indonesische Vereeniging pada tahun 1922. Selanjutnya pada tahun 1922 juga namanya diganti Perhimpunan Indonesia.

Pada tahun 1928 Kongres Pemuda II di Jakarta menggunakan istilah Indonesia dalam hubungan dengan persatuan bangsa. Kongres Pemuda tersebut pada tanggal 28 Oktober 1928 menghasilkan Sumpah Pemuda yang di dalamnya tercantum nama Indonesia. Istilah Indonesia secara resmi digunakan sebagai nama negara kita pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Asal Usul Nama Indonesia

Sebelum nama Indonesia digunakan, dahulu kawasan kepulauan dari Sabang sampai Merauke ini dikenal dengan banyak nama. Bangsa India saat itu menamakan Indonesia dengan nama Dwipantara penggalan dari bahasa Sansekerta, Dwipa (pulau) dan antara (seberang). Nama Hindia digunakan ketika bangsa Eropa mulai masuk ke wilayah Indonesia. Saat itu mereka menyebut Indonesia dengan nama Indische Archipel (Kepualuan Hindia). Nama Hindia sendiri adalah sebutan orang Eropa untuk wilayah Asia.

Seiring pendudukan Belanda, nama itu berubah menjadi Hindia Belanda atau Hindia yang milik Belanda.

Bibit-bibit nama Indonesia muncul pertama kali dalam sebuah artikel di Jurnal terbitan Singapura Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA). Pada Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, salah seorang redaksi JIAEA George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Ia mengungkapkan buah pikirannya, bahwa sudah saatnya “Hindia Belanda” memiliki nama yang khas, agar terlepas dari kerancuan dengan banyaknya “Hindia-Hindia” yang lain. Earl mengusulkan nama alternatif, yakni Indunesia atau Malayunesia. Earl lebih memilih nama Malayunesia, karena menurutnya, penduduk di Nusantara mayoritas menggunakan bahasa Melayu.

James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang juga merupakan pengelola JIAEA menulis artikel yang masih terkait dengan tulisan Earl, The Ethnology of the Indian Archipelago. Dalam artikel tersebut Logan sependapat dengan Earl. Tapi ia lebih condong memilih “indunesia” dengan vokal O menjadi “Indonesia”.

Sejak itulah nama Indonesia dipakai oleh Logan dalam banyak artikelnya dan ia terus menerus menggunakan nama itu.

Meski nama itu bermakna secara etnology dan geogarafi untuk merujuk pada satu kawasan di Nusantara. Nama itu kemudian bermakna politis untuk memperjuangkan suatu Negara merdeka bernama Indonesia.

Sekitar tahun 1920-an, oleh Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950) atau dikenal sebagai Dr. Setiabudi, nama Nusantara pertama kali dilontarkan. Nusantara berarti “Nusa (pulau-pulau) yang berada di antar dua benua dan dua samudera”, diambil dari kitab Pararaton, kitab kuno zaman Majapahit. Meski nama Indonesia Muncul, kata Nusantara tetap popular pada zaman itu hingga sekarang.

Kembali ke nama Indonesia, pada masa awal pergerakan, semakin banyak tokoh nasional yang menggunakan Indonesia sebagai nama sebuah Negara impian yang merdeka.

Dr. Moh. Hatta dan Dr. Soetomo termasuk tokoh-tokoh pertama yang menggunakan nama Indonesia sebagai alat perjuangan memerdekan Indonesia itu sendiri.

Dr. Moh. Hatta berinisiatif nama perhimpunan pelajar dan mahasiswa Indonesia di Belanda dari Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging. Pada tahun 1928, para pemuda dengan tegas menggunakan kata Indonesia dalam sebuah maklumat terkenal, Sumpah Pemuda.

Meski Belanda menolak keras nama Indonesia, nama itu terlanjur digunakan oleh masyarakat Indonesia terutama oleh kalangan pintar Indonesia dalam membentuk nama organisasi dan dalam berbagai tulisan mereka.

Sampai Belanda kalah dari Jepang, Belanda tidak pernah mengakui nama Indonesia. Bahkan nama Hindia Belanda masih kerap digunakan oleh dunia Internasional saat pendudukan Jepang. Akhirnya, nama Indonesia semakin kokoh sebagai nama sebuah bangsa ketika Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. (yayat/berbagai sumber, foto:Flickr)

Senin, 14 Maret 2016

Sejarah Cirebon




Asal-Usul Cirebon

Kisah asal-usul Cirebon dapat ditemukan dalam historiografi tradisional yang ditulis dalam bentuk manuskrip (naskah) yang ditulis pada abad ke-18 dan ke-19. Naskah-naskah tersebut dapat dijadikan pegangan sementara sehingga sumber primer ditemukan.

Diantara naskah-naskah yang memuat sejarah awal Cirebon adalah Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Cirebon, Sajarah Kasultanan Cirebon, Babad Walangsungsang, dan lain-lain. Yang paling menarik adalah naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, ditulis pada tahun 1720 oleh Pangeran Aria Cirebon, Putera Sultan Kasepuhan yang pernah diangkat sebagai perantara para Bupati Priangan dengan VOC antara tahun 1706-1723.

Dalam naskah itu pula disebutkan bahwa asal mula kata “Cirebon” adalah “sarumban”, lalu mengalami perubahan pengucapan menjadi “Caruban”. Kata ini mengalami proses perubahan lagi menjadi “Carbon”, berubah menjadi kata “Cerbon”, dan akhirnya menjadi kata “Cirebon”. Menurut sumber ini, para wali menyebut Carbon sebagai “Pusat Jagat”, negeri yang dianggap terletak ditengah-tengah Pulau Jawa. Masyarakat setempat menyebutnya “Negeri Gede”. Kata ini kemudian berubah pengucapannya menjadi “Garage” dan berproses lagi menjadi “Grage”.

Menurut P.S. Sulendraningrat, penanggung jawab sejarah Cirebon, munculnya istilah tersebut dikaitkan dengan pembuatan terasi yang dilakukan oleh Pangeran Cakrabumi alias Cakrabuana. Kata “Cirebon” berdasarkan kiratabasa dalam Bahasa Sunda berasal dari “Ci” artinya “air” dan “rebon” yaitu “udang kecil” sebagai bahan pembuat terasi. Perkiraan ini dihubungkan dengan kenyataan bahwa dari dahulu hingga sekarang, Cirebon merupakan penghasil udang dan terasi yang berkualitas baik.

Berbagai sumber menyebutkan tentang asal-usul Sunan Gunung Jati, pendiri Kesultanan Cirebon. Dalam sumber lokal yang tergolong historiografi, disebutkan kisah tentang Ki Gedeng Sedhang Kasih, sebagai kepala Nagari Surantaka, bawahan Kerajaan Galuh. Ki Gedeng Sedhang Kasih, adik Raja Galuh, Prabu Anggalarang, memiliki puteri bernama Nyai Ambet Kasih. Puterinya ini dinikahkan dengan Raden Pamanah Rasa, putra Prabu Anggalarang.

Karena Raden Pamanah Rasa memenangkan sayembara lalu menikahi puteri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subanglarang, dari Nagari Singapura, tetangga Nagari Surantaka. Dari perkawinan tersebut lahirlah tiga orang anak, yaitu Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang dan Raja Sangara. Setelah ibunya meninggal, Raden Walangsungsang serta Nyai Lara Santang meninggalkan Keraton, dan tinggal di rumah Pendeta Budha, Ki Gedeng Danuwarsih.

Puteri Ki Gedeng Danuwarsih yang bernama Nyai Indang Geulis dinikahi Raden Walangsungsang, serta berguru Agama Islam kepada Syekh Datuk Kahfi. Raden Walangsungsang diberi nama baru, yaitu Ki Samadullah, dan kelak sepulang dari tanah suci diganti nama menjadi Haji Abdullah Iman. Atas anjuran gurunya, Raden Walangsungsang membuka daerah baru yang diberi nama Tegal Alang-alang atau Kebon Pesisir. Daerah Tegal Alang-alang berkembang dan banyak didatangi orang Sunda, Jawa, Arab, dan Cina, sehingga disebutlah daerah ini “Caruban”, artinya campuran. Bukan hanya etnis yang bercampur, tapi agama juga bercampur.

Atas saran gurunya, Raden Walangsungsang pergi ke Tanah Suci bersama adiknya, Nyai Lara Santang. Di Tanah Suci inilah, adiknya dinikahi Maulana Sultan Muhammad bergelar Syarif Abdullah keturunan Bani Hasyim putera Nurul Alim. Nyai Lara Santang berganti nama menjadi Syarifah Mudaim.

Dari perkawinan ini, lahirlah Syarif Hidayatullah yang kelak menjadi Sunan Gunung Jati. Dilihat dari Genealogi, Syarif Hidayatullah yang nantinya menjadi salahseorang Wali Sanga, menduduki generasi ke-22 dari Nabi Muhammad.

Sesudah adiknya kawin, Ki Samadullah atau Abdullah Iman pulang ke Jawa. Setibanya di tanah air, mendirikan Masjid Jalagrahan, dan membuat rumah besar yang nantinya menjadi Keraton Pakungwati. Setelah Ki Danusela meninggal Ki Samadullah diangkat menjadu Kuwu Caruban dan digelari Pangeran Cakrabuana. Pakuwuan ini ditingkatkan menjadi Nagari Caruban larang. Pangeran Cakrabuana mendapat gelar dari ayahandanya, Prabu Siliwangi, sebagai Sri Mangana, dan dianggap sebagai cara untuk melegitimasi kekuasaan Pangeran Cakrabuana.

Setelah berguru di berbagai negara, kemudian berguru tiba di Jawa. Dengan persetujuan Sunan Ampel dan para wali lainnya disarankan untuk menyebarkan agama Islam di Tatar Sunda. Syarif Hidayatullah pergi ke Caruban Larang dan bergabung dengan uwaknya, Pangeran Cakrabuana. Syarif Hidayatullah tiba di pelabuhan Muara Jati kemudian terus ke Desa Sembung-Pasambangan, dekat Amparan Jati, dan mengajar Agama Islam, menggatikan Syekh Datuk Kahfi.

Syekh Jati juga mengajar di dukuh Babadan. Di sana ia menemukan jodohnya dengan Nyai Babadan Puteri Ki Gedeng Babadan. Karena isterinya meninggal, Syekh Jati kemudian menikah lagi dengan Dewi Pakungwati, puteri Pangeran Cakrabuana, disamping menikahi Nyai Lara Bagdad, puteri sahabat Syekh Datuk Kahfi.

Syekh Jati kemudian pergi ke Banten untuk mengajarkan agama Islam di sana. Ternyata Bupati Kawunganten yang keturunan Pajajaran sangat tertarik, sehingga masuk Islam dan memberikan adiknya untuk diperistri. Dari perkawinan dengan Nyai Kawunganten, lahirlah Pangeran Saba Kingkin, kelak dikenal sebagai Maulana Hasanuddin pendiri Kerajaan Banten. Sementara itu Pangeran Cakrabuana meminta Syekh Jati menggantikan kedudukannya dan Syarif Hidayatullah pun kembali ke Caruban. Di Cirebon ia dinobatkan sebagai kepala Nagari dan digelari Susuhunan Jati atau Sunan Jati atau Sunan Caruban atau Cerbon. Sejak tahun 1479 itulah, Caruban Larang dari sebuah nagari mulai dikembangkan sebagai Pusat Kesultanan dan namanya diganti menjadi Cerbon.

Pada awal abad ke-16 Cirebon dikenal sebagai kota perdagangan terutama untuk komoditas beras dan hasil bumi yang diekspor ke Malaka. Seorang sejarawan Portugis, Joao de Barros dalam tulisannya yang berjudul Da Asia bercerita tentang hal tersebut. Sumber lainnya yang memberitakan Cirebon periode awal, adalah Medez Pinto yang pergi ke Banten untuk mengapalkan lada. Pada tahun 1596, rombongan pedagang Belanda dibawah pimpinan Cornellis de Houtman mendarat di Banten. Pada tahun yang sama orang Belanda pertama yang datang ke Cirebon melaporkan bahwa Cirebon pada waktu itu merupakan kota dagang yang relatif kuat yang sekelilingnya dibenteng dengan sebuah aliran sungai.

Sejak awal berdirinya, batas-batas wilayah Kesultanan Cirebon termasuk bermasalah. Hal ini disebabkan, pelabuhan Kerajaan Sunda, yaitu Sundakalapa berhasil ditaklukan. Ketika Banten muncul sebagai Kesultanan yang berdaulat ditangan putra Susuhunan Jati, yaitu Maulana Hasanuddin, masalahnya timbul, apakah Sunda Kalapa termasuk kekuasaan Cirebon atau Banten?

Bagi Kesultanan Banten, batas wilayah ini dibuat mudah saja, dan tidak pernah menimbulkan konflik. Hanya saja pada tahun 1679 dan 1681, Cirebon pernah mengklaim daerah Sumedang, Indramayu, Galuh, dan Sukapura yang saat itu dipengaruhi Banten, sebagai wilayah pengaruhnya.

Pada masa Panembahan Ratu, perhatian lebih diarahkan kepada penguatan kehidupan keagamaan. Kedudukannya sebagai ulama, merupakan salah satu alasan Sultan Mataram agak segan untuk memasukkan Cirebon sebagai daerah taklukan. Wilayah Kesultanan Cirebon saat itu meliputi Indramayu, Majalengka, Kuningan, Kabupaten dan Kotamadya Cirebon sekarang. Ketika Panembahan Ratu wafat, tahun 1649 ia digantikan oleh cucunya Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II. Dari perkawinannya dengan puteri Sunan Tegalwangi, Panembahan Girilaya memiliki 3 anak, yaitu Pangeran Martawijaya, Pangeran Kertawijaya, dan Pangeran Wangsakerta. Sejak tahun 1678, di bawah perlindungan Banten, Kesultanan Cirebon terbagi tiga, yaitu pertama Kesultanan Kasepuhan, dirajai Pangeran Martawijaya, atau dikenal dengan Sultan Sepuh I. Kedua Kesultanan Kanoman, yang dikepalai oleh Pangeran Kertawijaya dikenal dengan Sultan Anom I dan ketiga Panembahan yang dikepalai Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon I.

Kota Cirebon tumbuh perlahan-lahan. Pada tahun 1800 Residen Waterloo mencoba membuat pipa saluran air yang mengalir dari Linggajati, tetapi akhirnya terbengkalai. Pada tahun 1858, di Cirebon terdapat 5 buah toko eceran dua perusahaan dagang. Pada tahun 1865, tercatat ekspor gula sejumlah 200.000 pikulan (kuintal), dan pada tahun 1868 3 perusahaan Batavia yang bergerak di bidang perdagangan gula membuka cabangnya di Cirebon. Pada tahun 1877, di sana sudah berdiri pabrik es, dan pipa air minum yang menghubungkan sumur-sumur artesis dengan perumahan dibangun pada tahun 1877. Pada awal abad ke-20, Cirebon merupakan salahsatu dari lima kota pelabuhan terbesar di Hindia Belanda, dengan jumlah penduduk 23.500 orang. Produk utamanya adalah beras, ikan, tembakau dan gula.***(Nina H. Lubis (ed.), Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat, 2000.)

KABUPATEN ASAHAN PROVINSI SUMATERA UTARA

    KABUPATEN ASAHAN PROVINSI SUMATERA UTARA Orientasi Asahan ( Jawi : اسهن ) adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi S...