Senin, 30 Oktober 2023

KABUPATEN KARAWANG PROVINSI JAWA BARAT


KABUPATEN  KARAWANG

PROVINSI JAWA BARAT

Orientasi

Sejarah Karawang tersusun dari berbagai fragmen peradaban. Sejarah bandung diawali dari awal abad hijriah dan terus bersambung hingga era Kerajaan apa aja dan Masa Kemerdekaan Indonesia.Kabupaten Karawang merupakan wilayah pesisir pantai selatan Jawa bagian utata dan termasuk bagian dari Provinsi Jawa Barat. Secara geografis Kabupaten Karawang terletak antara 107o02’ - 107o40’ BT dan 5o562’ - 6o34’ LS.

Secara topografis sebagian besar wilayahnya termasuk ke dalam dataran alluvial dengan ketinggian 0.6 di atas permukaan laut, dan kemiringan tanah 0.2 %. Luas wilayah Kabupaten Karawang 1.753,27 km2 atau 3,73% dari luas Provinsi Jawa Barat. Secara administratif, Kabupaten Karawang memiliki 30 Kecamatan yang terdiri dari 298 Desa dan 11 Kelurahan. Wilayah Karawang berbatasan dengan Kabupaten Bekasi, Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta.

Kabupaten Karawang merupakan wilayah pertanian sawah dengan pengairan (irigasi), dan sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani dan nelayan di daerah pantai. Profesi sebagai petani dan nelayan ini yang kemudian mempengaruhi corak kebudayaan yang berkembang di Kabupaten Karawang. Banyak keyakinan, ritus, dan seni di Kabupaten Karawang yang lahir dari latar belakang pertanian dan nelayan seperti babarit, nyalin, hajat bumi, nadran, seni topeng dan tari jaipong.

Data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Karawang tahun 2016 menyebutkan bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Karawang mencapai 2.295.778 jiwa. Penduduk laki-laki berjumlah 1.177.310 jiwa dan penduduk perempuan berjumlah 1.118.468 jiwa. Penduduk Karawang memiliki keragaman bahasa yaitu Sunda, Jawa, Betawi, Melayu dan Cina.

Sejarah Nama Karawang

A. Berita Cina (Abad 3 Masehi)

    Catatan tertulis yang pertama kali mengindikasikan keberadaan nama Karawang adalah Nan Chou I Wu Chih (Catatan Dari Daerah Selatan). Ini bukan kitab kungfu, apalagi kitab suci yang dicari Kera Sakti dan Biksu Suci dalam perjalanan ke barat. Nan Chou I Wu Chih adalah sebuah catatan perjalanan Cina bernama Wan Chen dari Dinasti Wu pada 220-280 Masehi. Wan Chen mencatat bahwa di daerah selatan atau yang oleh Bangsa Cina dinamakan Kun-lun-po (nusantara),terdapat sebuah pusat perdagangan yang sangat penting bernama Koying, yang memiliki pelabuhan besar, dan menjadi tempat persinggahan terakhir kapal-kapal dari India.

     Nama Koying juga terdokumentasikan dalam laporan utusan Kaisar Dinasti Wu, Ch`ih Wu, untuk kerajaan Hindu Funan yang berada di sekitar Sungai Mekong (Vietnam) pada abad ke-3. Utusan yang bernama Chung-Lang Kang-Tai dan Chu-Ying mencatat adanya sebuah tempat bernama Ge-ying, yang juga diterjemahkan sama dengan Koying, yang merupakan pusat perdagangan yang mengekspor mutiara, permata, emas, dan kacang-kacangan.Informasi dari Wan-Chen dan Kang-Tai tentang lokasi Koying menurut beberapa peneliti merujuk pada sebuah kerajaan yang berada di Indonesia bagian barat. Adapun tujuan para utusan Cina ke Funan adalah untuk mencari tahu rute perdagangan maritim melalui laut Asia Tenggara guna memperoleh barang-barang dari India dan Timur-Tengah. Sementara itu seorang biksu bernama Bodhibadra (359-429) yang sedang melakukan perjalanan menuju Cina juga mencatat adanya sebuah tempat bernama Koying.

    Sampai sekarang, lokasi Koying belum dapat dipastikan seperti halnya kerajaan-kerajaan kuno lainnya yang berdiri pada awal Masehi. Para peneliti dari berbagai negara memiliki teori masing-masing tentang lokasi Koying. Namun peneliti asal Cornell University, Oliver Wiliam Wolter, memprediksi bahwa nama Koying merujuk pada nama Karawang. Sebutan Koying sama dengan sebutan Kawang, yang sekarang menunjuk pada lokasi Karawang Peneliti lainnya seperti Profesor McCoy8 dan juga Profesor Hasan Djafar, berpendapat sama dan mendasarkan argumennya akurasi pengucapan kata pada abad 3 Masehi dengan rekontrusi pelapalan Koying dengan Kawang, dan akhirnya menjadi Karawang. 

    Dan jika hasil penelitian itu dibenarkan maka berarti nama Karawang sudah ada sejak awal Masehi, dan pengucapannya dalam bahasa Cina pada masa itu adalah Koying. Sedangkan Ptolemy menyebutnya Argyre. Interpretasi Koying menurut tradisi pantun kemungkinan mengarah pada Palabuhan Kuta Tambaga seperti yang disebut dalam Pantun Pakujajar Beukah Kembang.

B. Naskah Sunda (Abad 15 Masehi)

     Catatan tertulis lainnya yang mendokumentasikan secara presisi nama Karawang adalah Naskah Bujangga Manik, sebuah catatan perjalanan seorang pangeran pengembara dari Kerajaan Pajajaran. Berdasarkan penelitian Teeuw, diduga bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung atau ditulis pada zaman Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan di Nusantara, terutama sebelum jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Naskahnya terbuat dari daun lontar, dan diperkirakan ditulis pada awal abad 15 Masehi. Naskahnya sekarang ini terdapat di Perpustakaan Bodleiy Oxford sejak tahun 1627, hibah dari seorang saudagar bernama Andrew James. Naskah tersebut mencatat perjalanan Bujangga Manik yang dua kali melakukan pengembaraan mengelilingi Pulau Jawa dan Bali. Mula-mula, Bujangga Manik berangkat ke Jawa Timur, selanjutnya pulang ke Pakuan melalui jalan laut dengan menumpang kapal yang berlayar dari Malaka. Kedua kali,

     Bujangga Manik kembali mengembara ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, lalu menyeberang ke Bali. Setelah pulang, ia memilih hidup mengasingkan diri dengan bertapa di sebuah gunung di Tatar Sunda hingga mencapai moksanya. Sambil bertualang, Bujangga Manik mencatat setiap nama tempat yang dilewatinya. Ada hampir 450 lebih nama tempat yang terarsipkan dalam catatan Bujangga Manik yang sebagian masih dapat dikenali hingga sekarang, termasuk tempat-tempat di wilayah Karawang seperti Cigeuntis, Citarum, Cilamaya, Cihoe, Goha, Ramanea dan lainnya. Naskah Bujangga Manik terdiri atas 1758 baris. Dan pada baris naskah ke 361 tertulis : Leteng karang ti Karawang. Leteng susuh ti Malayu. Pamuat Aki Puhawang. Dipinangan pinang tiwi. Pinang tiwi ngubu cai. Artinya, Apu karang dari Karawang, Apu cangkang kerang dari Malayu, didatangkan oleh nahkoda. Ditambahkan biji pinang tiwi, pinang tiwi yang direbus,

    Teks Bujangga Manik menceritakan bahwa seorang putri Pajajaran bernama Jompong Larang jatuh cinta kepada Bujangga Manik. Jompong Larang kemudian memberi hadiah kepada Bujangga Manik sebagai tanda cintanya. Diantara barang-barang yang dihadiahkan oleh Jompong Larang adalah leteng karang. Pada masa itu leteng termasuk barang yang cukup populer, dan bernilai tinggi.

     Dalam masyarakat Sunda kuno, leteng merupakan barang yang sangat dibutuhkan. Leteng biasa digunakan sebagai seupaheun yang bermanfaat untuk perawatan gigi, dicampur dengan pinang dan seureuh. Pada jaman Pajajaran dikenal dua jenis leteng, yakni leteng cangkang kerang yang didatangkan dari Melayu, dan leteng karang dari Karawang. Yang disebut leteng karang adalah batuan kapur yang diendapkan dalam air selama berhari-jari, yang sekarang dikenal dengan nama apu. Batuan kapur bahan pembuatan apu tersebut berasal dari pegunungan kapur (karst) yang berada di Karawang Selatan.

   Berdasarkan penelitian ahli geologi, batuan kapur di pegunungan Karawang Selatan ternyata sudah dimanfaatkan sejak masa Tarumanagara sebagai bahan pelapis (plester) bangunan Candi Batujaya untuk membuat bangunan lebih tahan cuaca.

   Bujangga Manik menyebutkan bahwa Leteng karang berasal dari Karawang. Dan berdasarkan penelitian H. Ten Dam mengenai Jalur Highway Pajajaran, diketahui bahwa antara Pakuan dan Tanjung Pura (Karawang) terdapat jalur darat via Cileungsi dan Cibarusah. Namun adanya penyebutan Aki puhawang (nahkoda) menunjukkan jika leteng karang dari pegunungan kapur di Karawang Selatan dikirim ke Pakuannya tidak melalui jalan darat. Leteng karang diangkut melalui Sungai Cibeet oleh para tarahan (penarik perahu) ke pelabuhan sungai Tanjung Pura, dan dari sana dimuat oleh puhawang untuk dibawa ke pelabuhan laut Tanjung Karawang di Mura Citarum, dan selanjutnya dikirim ke Sunda Kalapa. Dari Sunda Kalapa leteng karang itu menempuh perjalanan selama dua hari untuk tiba di Pakuan. Adanya pengangkutan leteng karang lewat laut menunjukkan bahwa jalur darat Pakuan dan Tanjung Pura tampaknya sudah tidak efektif lagi untuk jalur perdagangan.

C. Berita Portugis (Abad 15)

     Tahun 1512-1515 Tome Pires menulis sebuah buku berjudul Suma Oriental. Buku tersebut berisi informasi tentang kehidupan di wilayah Asia timur dan Asia Tenggara pada abad ke-16. Catatan ini sebenarnya merupakan laporan resmi yang ditulis Tomé Pires kepada Raja Portugis tentang potensi peluang ekonomi di wilayah yang baru dikenal oleh Portugis saat itu sehingga tidak pernah diterbitkan. Buku tersebut baru diterbitkan pada tahun 1944 oleh Armando Z. Cortesão berdasarkan versi salinannya yang ditemukan di Perpustakaan Chambre des Deputes di Paris.

    Suma Oriental mencatat tentang kondisi sosial ekonomi di wilayah Sunda. Tome Pires tidak secara langsung menyebut tentang Pelabuhan Karawang. Namun berdasarkan interpretasi oleh sejumlah ahli sejarah lokal seperti Uka Tjandrasasmita dan Prof. Ekadjati diketahui bahwa pada masa itu terdapat juga Pelabuhan Karawang di Muara Citarum. Uka Tjandrasasmita menulis bahwa dari kerajaan Sunda diekspor barang-barang hasil pengumpulan dari berbagai daerah di pedalaman melalui jalur perairan. Salah satu jalur perairan tersebut adalah Muara Citarum. Menurut kesaksian Tome Pires yang dianalisa oleh Uka Tjandrasasmita, bahwa sejak tahun 1513, Karawang merupakan salah satu dari tujuh pelabuhan yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Sunda.

   Bagi Kerajaan Sunda, pelabuhan Karawang tidak hanya sekadar berfungsi sebagai pusat perdagangan melainkan juga sebagai pintu masuk wilayah pedalaman bagian timur dengan menyusuri beberapa sungai besar seperti Citarum.15 Pelabuhan Kerajaan Sunda lainnya adalah : fort of Bantam, the fort of Pontang (Pomdam), the fort of Cheguide, the fort of Tamgaram, the fort of Calapa, the fort of Chi Manuk (Chemanuk). Berita Portugis lainnya yang mencatat adanya nama Karawang adalah Joae de Barros. Sejarawan Portugis, Joae de Barros mencatat nama Karawang dalam bukunya yang berjudul Da Asia.

     Draft pertama buku de Barros ini selesai ditulis tahun 1539 yang terdiri dari 3 decada (decada 4 belum selesai ditulis). Tahun 1552-1564 ke-4 decada tersebut diterbitkan. Dalam Decadas da Asia IV yang diterbitkan tahun 1615 setelah Barros meninggal dan pekerjaannya diteruskan oleh Lavanha dan Diogo do Couto, tertulis gambaran tentang wilayah Jawa Barat. Antara lain dikemukakan bahwa kerajaan Sunda mempunya ibukota bernama Dayo (dayeuh/ kota) yang terletak di pedalaman.

   Kota itu berpenduduk 50.000 orang dan memiliki 100.000 tentara. Barros juga mencatat pelabuhan-pelabuhan yang dimiliki kerajaan Sunda, Esta Ilha de Sunda he terra mais montuosa por dentro a Jaü a, tem seis portos de mar notaveis, Chiamo que oestremo da Ilha, Xacatara por outro nome Caravam, Tangaram, Cheguide, Pondang, e Bintam, que sã o de grande trafego, por razã o do commercio que se aqui vem fazer, assi da Jaü a, como de Malaca e Ç amatra. Pulau Sunda adalah negeri yang berada di pedalaman, dan lebih bergunung-gunung daripada Jawa, dan mempunyai enam pelabuhan terkemuka yaitu : Chiamo (Cimanuk) di ujung pulaunya, Xacatara atau dengan nama lain Caravam (Karawang), Tangaram (Tangerang), Cheguide (Cigede), Pontang, dan Bintam (Banten). Itulah tempat-tempat yang ramai lalu lintas akibat perniagaan di Jawa seperti pula di Malaka dan Sumatra.

D. Berita Belanda (Abad 15-16 Masehi)

   Tahun 1453 Konstantinopel berhasil dikuasai oleh Bangsa Turki Utsmani. Sejak itu jalur perdagangan di Laut Mediterania berubah karena Turki melakukan blokade kepada bangsa Eropa. Salah satunya akibatnya adalah terputusnya pasokan rempah- rempah ke wilayah Eropa, padahal komoditi tersebut merupakan barang yang sangat dibutuhkan. Situasi itu mendorong bangsa- bangsa Kristen Eropa mencari rute pelayaran baru ke berbagai wilayah yang menjadi sumber penghasil rempah.

     Portugis mencapai Malaka tahun 1511 di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque dan selanjutnya pada tahun 1512 mereka telah berhasil sampai di Maluku. Pada 27 Juni 1596, ekspedisi para pedagang Belanda dibawah pimpinan Cournelis de Houtman tiba di Banten. Van Willem Lodewizck yang ikut dalam rombongan itu mencatat dalam De`eerste boecke nama-nama tempat yang dilewatinya di sepanjang pantai utara, termasuk sebuah lokasi yang disebutnya Cravaon. Cravaon yang berarti Krawang, digambarkan oleh Cournelis De Houtman dalam Eerste de schip vaert de Hollanders near Oost Indian (1595- 1597) : Half wegen Momtcaon ende lacatra, aen eenen uyt- hoeck oft hooft, leyt Cravaon, dwelck een groot dorp is, bewoont van visschers, om de abondantie vanden visch, hebbende een riviere die met drie monden inde Zee is loopende : bahwa diantara Pamanukan dan Jakarta terdapat sebuah tanjung bernama Karawang, dimana di sana terdapat sebuah desa nelayan yang besar, yang berada di titik pertemuan sebuah sungai (Citarum) dengan laut melalui tiga muara.16 Pada saat berada dibawah kekuasaan VOC,

  Nama Karawang dalam Daghregister VOC sering disebut dengan Carawangh, Cravaon, atau Craoan yang sebagian besar merujuk pada Tanjung Karawang dan sungai besar yang mengalir ke pedalamanya (Citarum).

E. Berita Jawa (Abad 16-18 Masehi)

     Kitab Babad Tanah Jawi adalah sebuah karya sastra sejarah dalam berbentuk tembang Jawa. Kitab tersebut mengupas berbagai peristiwa yang terjadi di Pulau Jawa, dari mulai kisah para nabi, nenek moyang kerajaan-kerajaan Hindu hingga kisah Mataram Islam. Buku Babad Tanah Jawa merupakan terjemahan dari Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegiing Taoen 1647 yang disusun oleh W. L. Olthof di Leiden. Dalam Babad Tanah Jawi Karawang dikenal sebagai nama tempat dibuangnya Ciung Wanara ketika masih bayi. Ciung Wanara adalah salah satu penguasa terbesar kerajaan Sunda.

     Babad Tanah Jawi menerangkan bahwa karena adanya konflik kekuasaan di istana kerajaan, maka bayi Ciung Wanara dihanyutkan ke Sungai Karawang (Citarum), dan kemudian bayi tersebut dipungut oleh seorang penduduk yang dinamakan Ki Buyut Karawang, karena dia tinggal di sekitar Sungai Karawang, Kabucal ing lèpèn Karawang, sang natainggih sampun marêngi, jabang bayi kalêbêtakên ing tabêla, lajêng dipun kèlèkakên inglèpèn Karawang. Tabêla ingkang dipun kèlèkakên wau kapêndhêt ing tiyang mancing, anama Kyai Buyut ing Karawang.

   Dalam bagian lain, Babad Tanah Jawi juga menyebutkan nama Karawang sebagai salah satu wilayah yang dikuasai VOC pada tahun 1677, Betawi, Krawang tekan Kali Indramayu, Priyangan tekan Segara Kidul, Semarang lan wewengkone. Cirebon wus ngaub marang VOC. 18 Sementara di bagian lain Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa daerah bernama Karawang tersebut memiliki wilayah luas yang terbentang antara Cikao, Laut Jawa dan Sungai Cilamaya.

   Berita Jawa lainnya, yakni Babad Pajang yang diambil dari Babad Meinsma tahun 1874, menceritakan bahwa ketika para wali sedang merencanakan pembangunan masjid Demak yang kedua kalinya, terdapat nama Pangeran Karawang yang ikut membantu pembangunan masjid tersebut, bersama Syekh Bentong, dan para wali serta beberapa penguasa daerah lainnya yang sudah masuk Islam: Pangeran ing Jambu Karang lan Pangeran Karawang, myang seh Wali Lanang iku, tuwin seh waliyul Islam….Myang Seh Suta Maharaja, Seh para klawan, Seh Banthong. Seh Bentong adalah penyebar ajaran Islam di Karawang, dan dia dikenal sebagai murid pertama Seh Kuro. Namun, sosok tentang Pangeran Karawang tidak ada keterangannya.

     Besar kemungkinan dia anggota keluarga Cirebon yang ditempatkan di Tanjung Pura mengingat adanya informasi dari Sejarah Cirebon bahwa Karawang di bagian timur Citarum masuk dalam kekuasaan Cirebon setelah runtuhnya Pajajaran.

Referensi

Watson, Barbara (1983). Sejarah Malaysia. hlm. 18.

1. Miksic, John (2013). Singapura and The Silk Road. Singapura: NUS Press. hlm. 61. ISBN 978-9971-69-558-3.

2.        Chakravarti, Adhir. Studies on India, China & South East Asia.

3.        Vickery, Michael (2003). Funan Reviewed. hlm. 112.

4.        Wolter, O.W (1970). Early South East Asia.

5.        Setiawan, Hawe. Bujangga Manik dan Studi Sunda. hlm. 3.

6.        Ten Dam, H (1957). Verkenningen Rondom Pajajaran. hlm. 299.

7.        Candrsasmita, Uka (2009). Arkeologi Islam Nusantara. hlm. 139.

8.        Kertapradja, Ngabehi (2014). Babad Tanah Jawi. hlm. 12.

9.        Sastronaryatmo, Moelyono (1981). Babad Jaka Tingkir. hlm. 242.

10.    Wangsakerta, Pangeran. Pustaka Rajya-Rajya I Bhumi.

 

 

-ooooooooooo oOo oooooooooo-

 

Sumber : Google Wikipedia

 

 

Rabu, 25 Oktober 2023

KABUPATEN INDRAMAYU PROVINSI JAWA BARAT

 

KABUPATEN INDRAMAYU

PROVINSI JAWA BARAT

Orientasi

Kabupaten Indramayu (Cacarakan: ꦆꦤ꧀ꦝꦫꦩꦪꦸ, aksara Sundaᮄᮔ᮪ᮓᮢᮙᮚᮥ) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa BaratIndonesiaIbu kotanya adalah Indramayu. Nama Indramayu berasal dari kecantikan Istri Raden Arya Wiralodra yang bernama Nyi Endang Darma Ayu, yaitu salah satu pendiri Indramayu abad 1527 M. Nyi Endang Darma Ayu sebutan Darma Ayu lama kelamaan menjadi Dermayu dan In Darmayu, kemudian menjadi Indramayu.

Sejarah

Indramayu timur ( Sukagumiwang, Tukdana, Bangodua, Widasari, Arahan, Santigi (Cènthigi), Sindang, Balongan, Kedokanbuder, Juntinyuat, Krangkeng, Celeng (Lohbener), Kandanghaur (sebagian wilayah), Losarang, Patrol, Sukra (Sakra), Anjatan, Bongas, Haurgeulis, Bantawaru dan Plasa Kerep.

Wilayah indramayu tersebut masuk ke wilayah kerajaan galuh purwa (jawa kuno) yang letak pemerintahannya di kaki Gunung Slamet abad 1 Masehi.

Secara geografis, Kabupaten Indramayu berada pada 107"51'-108"36' Bujur Timur dan 6"15'–6"40' Lintang Selatan. Wilayahnya terletak di bagian utara provinsi Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Kabupaten Indramayu berjarak sekitar 52 Km barat laut Kota Cirebon, 144 Km dari Kota Bandung melalui Sumedang serta 205 Km dari Jakarta ke arah timur. Seluruh wilayahnya merupakan dataran rendah hingga pesisir. Ada sebagian daerah yang memiliki perbukitan terutama di perbatasan Kabupaten Sumedang yaitu Dusun Ciwado Desa Cikawung, Kecamatan TerisiIndramayu. Dan sebagian wilayah Sanca, Kecamatan Gantar

Batas Wilayah

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara

Laut Jawa

Timur

Laut Jawa

Selatan

Kabupaten CirebonKabupaten Majalengka dan Kabupaten Sumedang

Barat

Kabupaten Subang

Iklim

Wilayah kabupaten Indramayu beriklim tropis basah dan kering (Aw) dengan dua pola musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan biasanya berlangsung sejak bulan Desember hingga bulan MaretMusim kemarau berlangsung pada bulan Mei hingga bulan Oktober. Rata-rata curah hujan di wilayah kabupaten Indramayu adalah 1300–1800 mm per tahun dengan jumlah hari hujan berkisar antara 90–140 hari hujan per tahun. Oleh karena wilayahnya yang berada di pesisir pantai, suhu rata-rata tahunan wilayah ini cukup tinggi yaitu berkisar antara 23°–32 °C. Tingkat kelembapan di sebagian besar wilayah kabupaten Indramayu berkisar antara 70–85% per tahunnya.

Ekonomi

Pusat perekonomian kabupaten ini berada di wilayah Kecamatan Jatibarang dan Kecamatan Haurgeulis karena kedua kecamatan ini memiliki akses transportasi yang mudah seperti Jalur Pantura dan Stasiun Kereta Api. Beberapa kecamatan penting di wilayah Kabupaten Indramayu diantaranya adalah Kecamatan PatrolKecamatan Karangampel, dan Kecamatan Terisi.

Kabupaten Indramayu dilalui jalur utama pantura. Jalur pantura Indramayu mulai dari ruas Patrol-Lohbener-Jatibarang-Kertasemaya. Juga jalur alternatif sebelah utara Indramayu-Karangampel-Krangkeng yang menuju ke arah Cirebon. Sebagai jalur alternatif bisa melalui jalur Lohbener lalu ke kota Indramayu kemudian ke Karangampel diteruskan ke arah Cirebon. Kabupaten Indramayu juga dilalui oleh jalur kereta api. Stasiun kereta api terbesar berada di Jatibarang dan merupakan salah satu stasiun besar yang ada di Daerah Operasi 3 Cirebon.

Demografi

Suku bangsa

Kabupaten Indramayu menjadi salah satu wilayah di provinsi Jawa Barat, yang sebagian besar penduduknya adalah orang Jawa. Dua suku lain dengan jumlah signifikan yakni suku Cirebon dan Sunda. Sebagian kecil lainnya adalah orang BetawiTionghoaBatakMinangkabau, dan suku lainnya. Berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia tahun 2000, berikut adalah besaran penduduk kabupaten Indramayu berdasarkan suku bangsa:

No

Suku

Jumlah
(
2000)

%

1

Jawa

1.388.349

87,34%

2

Cirebon

117.569

7,40%

3

Jawa

59.447

3,74%

4

Betawi

3.683

0,23%

5

Tionghoa

1.411

0,09%

6

Batak

1.366

0,09%

7

Minangkabau

1.348

0,08%

8

Suku lainnya

16.333

1,03%

Kabupaten Indramayu

1.589.506

100%

Bahasa

Secara umum bahasa daerah yang digunakan masyarakat Kabupaten Indramayu, yakni Bahasa Jawa (Dialek Indramayu). Bahasa Jawa Indramayu (Dialek Indramayu) digunakan oleh mayoritas masyarakat Indramayu. Selain bahasa Jawa Indramayu (dialek Indramayu) di wilayah selatan dan barat daya menggunakan bahasa Sunda.

Bahasa Jawa di Kabupaten Indramayu sekarang ada tiga dialek. Mayoritas adalah dialek Dermayu (Indramayu). Tetapi ada pula bahasa Jawa dialek Cerbon (Cirebon), yakni di Desa KrangkengKalianyar, dan sekirarnya di Kecamatan Krangkeng, yang berbatasan dengan Kabupaten CirebonBahasa Jawa dialek Tegal-Brebes juga ada di wilayah barat Kabupaten Indramayu karena pada tahun 1920-an terdapat migrasi dari Tegal-Brebes ke wilayah tersebut, yakni di beberapa desa atau blok di Kecamatan Haurgeulis, Anjatan, PatrolSukra, dan Bongas.

Bahasa Jawa dermayu mayoritas digunakan masyarakat Indramayu, yakni kira-kira 1,5 juta penduduk. Ada dua tingkatan dalam bahasa Jawa dialek Dermayu yang merupakan dialek sosial (sosiolek), yakni tingkatan bagongan atau ngoko dan tingkatan bebasan atau besiken atau krama. Diperkirakan warga yang menguasai bebasan sekitar 20%-40%.

Bahasa Sunda Standar

Ada dua jenis bahasa Sunda yang digunakan. Pertama, bahasa Sunda Priangan atau bahasa Sunda fase baru, yang digunakan masyarakat di Kecamatan Gantar dan sebagian Haurgeulis (berbatasan dengan Kabupaten Subang), Kecamatan Terisi bagian selatan (yang berbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Sumedang), dan Blok Karangjaya di Desa Mangunjaya di Kecamatan Anjatan.

Bahasa Sunda Indramayu

Ada pula Bahasa Sunda Indramayu fase Sunda kuna asli di wilayah Indramayu, yakni di Desa IlirBulak, dan Parean Girang di Kecamatan Kandanghaur, serta Desa Lelea dan Tamansari di Kecamatan Lelea. Bahasa Sunda fase Sunda kuna agak berbeda dengan fase Sunda baru karena perbedaan dialek temporal. Perbedaan yang paling kentara adalah dalam bahasa Sunda kuno tidak mengenal undak-usuk (tingkatan berbahasa). Bahasa Sunda kuno juga tidak mengenal vokal /eu/, tetapi hanya /e/ saja. Belum lagi perbedaan pada kosakata.

Kebudayaan

Seni dan budaya di Indramayu merupakan akulturasi dari budaya Jawa Indramayu dan Sunda bagian wilayah utara, kebudayaan yang tumbuh dalam masyarakat Indramayu menjadi bentuk ekspresi nyata terhadap akulturasi dua kebudayaan yang berbeda.

Organ tunggal

Kesenian Indramayu salah satunya adalah kesenian Organ Tunggal, yakni pentas musik di atas panggung dengan menggunakan OrganOrgan Tunggal ini biasanya dipentaskan hampir di setiap acara, seperti acara tujuh belasan, juga pada hari raya keagamaan seperti Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, meskipun lebih sering dipentaskan pada acara-acara hajatan, seperti hajatan pernikahan dan khitanan.

Selain di atas panggung, kesenian musik organ ini juga dipentaskan secara berkeliling kampung pada saat-saat tertentu, seperti pada Bulan Ramadhan. Dua di antaranya yang cukup ternama beserta artisnya adalah: Organ tunggal Rolani Electone dengan Aas Rolani dan organ tunggal Puspa Kirana dengan Dewi Kirana. Tidak jarang grup-grup ini mendapat job manggung di luar Indramayu, bahkan lintas provinsi.

Tari topeng

Seni tradisional lainnya adalah seni tari topeng, kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon, termasuk Indramayu. Tari topeng adalah salah satu tarian di tatar Parahyangan. Disebut tari topeng, karena penarinya menggunakan topeng di saat menari. Tari topeng ini sendiri banyak sekali ragamnya, dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh saru penari tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.

Salah satu jenis lainnya dari tari topeng ini adalah tari topeng Kelana Kencana Wungu yang merupakan rangkaian tari topeng gaya Parahyangan yang menceritakan ratu Kencana Wungu yang dikejar-kejar oleh Prabu Menak Jingga yang tergila-tergila kepadanya. Pada dasarnya masing-masing topeng yang mewakili masing-masing karakter menggambarkan perwatakan manusia. Kencana Wungu, dengan topeng warna biru, mewakili karakter yang lincah namun anggun. Menak Jingga (disebut juga Kelana), dengan topeng warna merah mewakili karakter yang berangasan, temperamental dan tidak sabaran. Tari ini karya Nugraha Soeradiredja.

Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab, merupakan ciri khas lain dari tari topeng. Kesenian tari topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari yang ada, dan masih sering dipentaskan pada acara-acara resmi daerah, ataupun pada momen tradisional daerah lainnya. Salah satu sanggar tari topeng yang ada di Indramayu adalah sanggar tari topeng Mimi Rasinah, yang terletak di Desa pekandangan, IndramayuMimi Rasinah adalah salah satu maestro tari topeng yang masih aktif menari dan mengajarkan kesenian tari topeng walaupun dia telah menderita lumpuh semenjak tahun 2006, Mimi Rasinah wafat pada bulan Agustus 2010.

Wayang kulit

Seperti masyarakat Jawa pada umumnya, kesenian Wayang masih kental melekat pada masyarakat Indramayu. Wayang Kulit Indramayu sebenarnya tak ada bedanya dengan wayang kulit Jawa, perbedaanya hanya terletak pada bahasa yang digunakannya, yaitu Bahasa Jawa Indramayu atau yang biasa dikenal dengan basa dermayon yang khas dalam tuturannya, baik lakon maupun sempal guyonnya.

Wayang kulit indramayu merupakan ragam khas wayang kulit cirebon, dimana sebenarnya wayang kulit cirebon masih serupa dengan wayang kulit purwa, tetapi memiliki ciri khasnya tersendiri jika ditinjau dari sudut seni kriya, wayang kulit cirebon dibuat cukup jauh berbeda dengan tatahan dan sungingan wayang kulit purwa, adapun bentuk wayang kulit cirebon ini agak mirip dengan wayang kulit bali tetapi ukurannya lebih langsing.

Pementasan Wayang Kulit masih sering diselenggarakan pada momen tertentu seperti hajatan, ataupun dipentaskan sebagai bagian dari adat tradisional lainnya, seperti Mapag SriNgarotNadranRuwatan dan sebagainya. Dimana pada acara adat tersebut, pementasan wayang kulit menjadi suatu keharusan, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari acara itu sendiri. Beberapa Dalang Wayang Kulit terkenal Indramayu adalah H. Anom Rusdi bersama Grup Langen Budaya dan H. Tomo bersama Grup Langen Kusuma.

Mapag Dewi Sri

Pesta rakyat Mapag Dewi Sri ini, menurut kepercayaan masyarakat setempat merupakan kegiatan yang wajib diadakan setiap tahun. Konon pada tahun 1970-an kegiatan ini pernah tidak dilaksanakan karena hasil panen sedikit, karena tidak dilaksanakannya pesta rakyat Mapag Dewi Sri akibatnya banyak masyarakat setempat yang sakit. Semenjak kejadian itu, sekecil apapun hasi panen yang diperoleh, pesta rakyat Mapag Dewi Sri harus tetap dilaksanakan.

Sintren

Kebudayaan masyarakat Jawa yang melekat pada masyarakat Indramayu salah satunya adalah SintrenSintren adalan kesenian tradisional masyarakat Jawa, khususnya Pekalongan. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Barat, antara lain PemalangPekalonganBrebesTegalBanyumasKuninganCirebon, dan Indramayu. Sintren disebut juga dengan lais. Di Indramayu sendiri, kesenian Sintren dipentaskan pada acara-acara tertentu, misalkan hajatan atau syukuran, atau pentas seni tradisional. Dahulu ada pentas seni Sintren yang berkeliling kampung, tetapi sekarang sudah sangat sulit untuk ditemukan karena semakin tergeser oleh pentas dan hiburan modern.

Tarling

Tarling merupakan seni musik dan lagu yang pada awalnya ditampilkan dalam bentuk nyanyian (kiser) yang diiringi oleh gitar dan suling saja. Sejalan dengan perkembangan zaman, kesenian Tarling mengalami perkembangan dan perubahan yang cepat. Saat ini Tarling sudah dilengkapi dengan alat-alat musik yang modern. Kendatipun demikian Tarling klasik masih banyak diminati oleh wisatawan. Salah seorang Maestro tarling klasik yang di kenal masyarakat Indramayu adalah (Almh) Hj.Dariyah dengan grup Cahaya Muda yang di pimpinnya.

Genjring akrobat

Salah satu jenis kesenian tradisional masyarakat Indramayu, yaitu pertunjukan berupa akrobat/atraksi dengan media tangga, sepeda beroda satu dan sebagainya. Kesenian Genjring Akrobat dalam penyajiannya diiringi alat musik Genjring/Rebana dengan dilengkapi tari Rudat.

Sandiwara

Sandiwara adalah sebuah pertunjukan pentasan sebuah cerita atau disebut pula lakon dalam bahasa Indramayu. Sandiwara yang dipertunjukan di wilayah-wilayah budaya Indramayu merupakan hasil alkulturasi budaya eropa yang dibawa oleh bangsa Portugis pada abad ke 16 yang terlihat dari setingan panggungnya.

Sandiwara di Indramayu mirip dengan seni pertunjukkan masres yang ada di wilayah Cirebon dan hampir serupa dengan seni pertunjukan ketoprak yang ada di daerah Jawa Tengah dan Timur, kemiripan dengan seni pertunjukan masres ini dikarenakan masres dan sandiwara indramayu berasal dari akar budaya Cirebon yang sama namun hanya berbeda dalam penggunaan bahasa, Bahasa Jawa Indramayu atau yang biasa disebut basa dermayon lebih dominan pada pertunjukan sandiwara indramayu, di Indramayu seni drama sebagian besar mengisahkan tentang legenda dan sejarah.  Sebuah sandiwara bisa berdasarkan skenario atau tidak. Apabila tidak, maka semuanya dipentaskan secara spontan dengan banyak improvisasi.

Berokan

Berokan adalah seni budaya asli asal penduduk pribumi indramayu dengan kata lain adalah barong yang mirip dengan barongsai yang diadakan setiap hari raya Idul Fitri, tepatnya setelah sholat hari raya. Biasanya yang menjadi berokan memakai topeng menyeramkan dan baju berupa kurungan namun ada juga yang berbentuk lucu. Pengiringnya ada dua, yang pertama adalah yang meminta beras kepada warga dan yang kedua adalah sekelompok orang yang memainkan alat musik. Cara memanggilnya yaitu dengan berteriak "galak, gloak" maka sang berokan akan mengejar siapapun yang memanggilnya. Berokan ini akan berkeliling kampung mulai dari hari pertama Idul Fitri sampai 2 atau 3 hari sesudahnya.

Singa Depok & Kebo Ngamuk

Kesenian yang terpengaruh oleh sisingaan dari Subang ini sudah mulai dimodifikasi dengan

adanya "Kebo Ngamuk" dan "Burok"

Cindera mata

Batik tulis Paoman

Batik yang berciri khas pesisir, memiliki corak yang berbeda dengan batik daerah lainnya. Perpaduan antara kepercayaan, adat istiadat, seni dan lingkungan kehidupan daerah pesisir, ditambah lagi adanya pengaruh dari luar, seperti CinaArab dan Timur TengahHindu-Jawa serta Eropa ikut memengaruhi terbentuknya motif dan karakter batik tulis pesisir.

Industri kerajinan batik tulis ini terdapat di Kelurahan PaomanDesa Pabean Udik, Kecamatan Indramayu dan Terusan, Sindang, Indramayu. Kualitas dari batik yang mem punyai ± 200 motif ini telah mampu menembus pasaran internasional, terutama para kolektor batik dari mancanegara.

Kerajinan Bordir

Kerajinan bordir berkembang cukup pesat di Indramayu, terletak di Desa SukaweraKecamatan Kertasemaya ± 6 kilometer dari Kota Jatibarang atau 22 kolimeter dari Kota Indramayu. Motif yang cukup terkenal adalah motif seruni, tapak kebo, bunga tulip, lunglungan, hasil produksinya mampu memenuhi permintaan pasar regional dan Nasional. Indramayu merupakan daerah yang sangat menarik untuk dikunjungi, karena letaknya yang sangat strategis yaitu di sepanjang jalan pantai utara Pulau Jawa.

Kuliner

1.     Kuliner Indramayu tak jauh beda dengan kuliner Cirebon, di samping mempunyai kuliner khas Cirebonan yakni khas daerah Indramayu dan Cirebon, Indramayu juga punya beberapa kuliner khas Dermayonan yakni khas Indramayu.

2.        Pedesan Entog
Kuliner ini khas Dermayonan, terbuat dari daging itik atau entog yang diracik dengan bumbu pedas yang khas;

3.        Bubur-Indramayu
Bubur ini asli Dermayonan, bubur ini memadukan bubur ayam dengan soto, maka dari itu bubur ini sering juga disebut dengan bubur soto;

4.        Rumbah
Rumbah disebut juga dengan urab, pecel atau rujak, di Indramayu rumbah adalah sayuran yang sudah direbus, kemudian dilumuri dengan sambal asam, bisa ditambah dengan lontong, mi dan kerupuk melarat khas Cirebonan;

5.        Nagasari
Kue khas Dermayonan ini terbuat dari tepung beras berisikan pisang yang dibungkus dengan daun pisang. Nagasari disebut juga dengan pipis.

6.        Koci
Tak jauh beda dengan Nagasari, kue koci terbuat dari tepung beras yang dibalut daun pisang, bisa berisikan kacang, gula merah atau parutan kelapa. Yang membedakannya adalah bentuknya yang mengerucut atau mancung sehingga disebut juga dengan pipis monyong;

7.        Keripik Mangga
Makanan olahan khas Dermayonan ini terbuat dari hasil bumi Indramayu yang terkenal yakni mangga, ini merupakan inovasi terbaru dalam mengolah mangga yang sebelumnya hanya dinikmati dalam bentuk buah saja.

8.        Burbahcek
Bubur Rumbah Cecek yang memadukan bubur ayam, rumbah dan cecek (kikil) kulit sapi atau kerbau, yang sekarang makanan ini sudah hampir punah

9.        Kerupuk-Udang
Kerupuk udang adalah sejenis kerupuk yang terbuat dari campuran adonan tepung terigu dengan udang ditambah bumbu lainnya sehingga menimbulkan rasa lezat dan nikmat.

10.    Terasi
Terasi terbuat dari rebon yaitu udang kecil yang dihaluskan, terasi mungkin layak untuk menjadi makanan tambahan yang memang harus diolah menjadi sambal dulu biar terasa nikmat.

11.  Cimplo sejenis apem biasa digunakan untuk upacara adat menjelang tanam, maupun panen padi, makanan ini biasa dicampur gula merah dan santan.

12.    Keripik Melinjo

13.    Dodol Mangga

Hasil bumi

Hasil bumi Indramayu adalah padi, walaupun bukan penghasil padi terbesar, tetapi masyarakat Indramayu umumnya memiliki mata pencarian sebagai petani, dan sebagian besar wilayah Indramayu merupakan lahan pertanian, bahkan bisa ditemukan persawahan walaupun berada di pusat kota Indramayu.

Selain padi, hasil bumi yang paling terkenal adalah Mangga, jenis mangga khas Indramayu sendiri disebut Mangga Gedong gincu oleh masyarakat setempat. Mangga ini terkenal enak dan manis, tak ayal di sepanjang jalur utama Indramayu banyak pedagang buah mangga sebagai oleh-oleh khas Indramayu. Dari hasil bumi yang satu inilah, Indramayu mendapat julukan sebagai Kota Mangga. Memang tak afdal rasanya jika berkunjung ke Indramayu tanpa membeli atau mencicipi mangga Gedong gincu Indramayu.

Indramayu juga terkenal kaya akan sumberdaya migas, salah satu kilang minyak besar yang ada di Indramayu adalah Kilang Minyak Balongan yang berada di Kecamatan Balongan.

 

-oooooooooo oOo oooooooooo-

Sumber : Google Wikipedia

 

 

KABUPATEN ASAHAN PROVINSI SUMATERA UTARA

    KABUPATEN ASAHAN PROVINSI SUMATERA UTARA Orientasi Asahan ( Jawi : اسهن ) adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi S...