KOTA MEDAN
PROVINSI SUMATERA UTARA
Orientasi
Medan adalah ibu kota provinsi Sumatra
Utara, Indonesia. Kota ini merupakan kota terbesar ketiga
di Indonesia setelah DKI Jakarta dan Surabaya serta kota terbesar di luar pulau Jawa, sekaligus terbesar di Pulau Sumatra. Kota Medan merupakan pintu gerbang
wilayah Indonesia bagian barat dengan keberadaan Pelabuhan
Belawan dan Bandar Udara Internasional
Kualanamu yang
merupakan bandara terbesar kedua di Indonesia
Akses dari pusat kota menuju pelabuhan dan bandara dilengkapi oleh jalan tol dan kereta api. Medan adalah kota pertama di Indonesia yang
mengintegrasikan bandara dengan kereta api. Berbatasan dengan Selat
Malaka, Medan menjadi
kota perdagangan, industri, dan bisnis yang sangat penting di Indonesia. Pada
tahun 2020, kota Medan memiliki penduduk sebanyak
2.435.252 jiwa, dan kepadatan penduduk 9.522,22 jiwa/km2.
Sejarah Medan berawal dari sebuah kampung yang didirikan oleh Guru
Patimpus di
pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. Hari jadi Kota Medan ditetapkan pada 1 Juli
1590. Selanjutnya pada tahun 1632, Medan dijadikan pusat pemerintahan Kesultanan Deli, sebuah kerajaan Melayu. Bangsa Eropa mulai menemukan Medan sejak kedatangan
John Anderson dari Inggris pada tahun 1823. Peradaban di Medan terus berkembang hingga
Pemerintah Hindia Belanda memberikan
status kota pada 1 April 1909 dan menjadikannya pusat pemerintahan Karesidenan Sumatra Timur.
Memasuki abad ke-20, Medan menjadi kota yang
penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan
perkebunan secara besar-besaran.
Menurut Bappenas, Medan adalah salah satu dari
empat pusat pertumbuhan utama di Indonesia, bersama dengan Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Medan adalah kota multietnis yang
penduduknya terdiri dari orang-orang dengan latar belakang budaya dan agama
yang berbeda-beda. Selain Melayu dan Karo sebagai penghuni awal, Medan didominasi
oleh etnis Jawa, Batak, Tionghoa, Minangkabau, Mandailing, dan India. Mayoritas penduduk Medan bekerja di sektor
perdagangan, sehingga banyak ditemukan ruko di
berbagai sudut kota. Di samping kantor-kantor pemerintah provinsi, di Medan
juga terdapat kantor-kantor konsulat dari berbagai negara seperti Amerika
Serikat, Jepang, Malaysia, dan Jerman.
Sejarah
Sejarah
Kota Medan
Medan berasal dari kata bahasa Tamil Maidhan atau Maidhanam,
yang berarti tanah lapang atau tempat yang luas, yang kemudian teradopsi ke
Bahasa Melayu. Dalam Kamus Indonesia-Karo (2002) yang ditulis Darwin Prinst,
kata 'medan' berarti 'menjadi sehat' atau 'lebih baik.
Hari jadi Kota Medan diperingati tiap tahun sejak tahun 1970 yang pada
mulanya ditetapkan pada tanggal 1 April 1909. Tanggal ini kemudian mendapat
bantahan yang cukup keras dari kalangan pers dan beberapa ahli sejarah. Karena
itu, Wali kota membentuk panitia sejarah hari jadi Kota Medan untuk melakukan
penelitian dan penyelidikan. Surat Keputusan Wali kotamadya Kepala Daerah
Kotamadya Medan No. 342 tanggal 25 Mei 1971 yang waktu itu dijabat oleh Drs.
Sjoerkani membentuk Panitia Peneliti Hari Jadi Kota Medan. Duduk sebagai Ketua
adalah Prof. Mahadi, SH, Sekretaris Syahruddin Siwan, MA, Anggotanya antara
lain Ny. Mariam Darus, SH dan T.Luckman, SH.
Untuk lebih mengintensifkan kegiatan kepanitiaan ini dikeluarkan lagi
Surat Keputusan Wali kotamadya Kepala Daerah Kotamadya Medan No.618 tanggal 28
Oktober 1971 tentang Pembentukan Panitia Penyusun Sejarah Kota Medan dengan
Ketuanya Prof.Mahadi, SH, Sekretaris Syahruddin Siwan, MA dan Anggotanya H.
Mohammad Said, Dada Meuraxa, Letkol. Nas Sebayang, Nasir Tim Sutannaga, M.Solly
Lubis, SH, Drs. Payung Bangun, MA dan R. Muslim Akbar. DPRD Medan sepenuhnya
mendukung kegiatan kepanitiaan ini sehingga merekapun membentuk Pansus dengan
ketua M.A. Harahap, beranggotakan antara lain Drs. M.Hasan Ginting, Djanius
Djamin, Badar Kamil, BA
dan Mas Sutarjo.
Dalam buku The History of Medan tulisan Tengku Luckman
Sinar (1991), dituliskan bahwa menurut "Hikayat Aceh", Medan
sebagai pelabuhan telah ada pada tahun 1590, dan sempat dihancurkan selama
serangan Sultan Aceh Alauddin Saidi Mukammil kepada Raja Haru yang berkuasa di
situ. Serangan serupa dilakukan Sultan Iskandar Muda tahun 1613, terhadap
Kesultanan Deli. Sejak akhir abad ke-16, nama Haru berubah menjadi Ghuri, dan
akhirnya pada awal abad ke-17 menjadi Deli. Pertempuran terus-menerus antara
Haru dengan Aceh mengakibatkan penduduk Haru jauh berkurang. Sebagai daerah
taklukan, banyak warganya yang dipindahkan ke Aceh untuk dijadikan pekerja
kasar.
Selain dengan Aceh, Kerajaan Haru yang makmur ini juga tercatat sering
terlibat pertempuran dengan Kerajaan Melayu di Semenanjung Malaka dan juga
dengan kerajaan dari Jawa. Serangan dari Pulau Jawa ini antara lain tercatat
dalam kitab Pararaton yang dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu. Dalam Negarakertagama, Mpu
Prapanca juga menuliskan bahwa selain Pane (Panai), Majapahit
juga menaklukkan Kampe (Kampai) dan Harw (Haru).
Berkurangnya penduduk daerah pantai timur Sumatra akibat berbagai perang ini,
lalu diikuti dengan mulai mengalirnya suku-suku dari dataran tinggi pedalaman
turun ke pesisir pantai timur Sumatra. Suku Karo bermigrasi ke daerah pantai
Langkat, Serdang, dan Deli. Suku Simalungun ke daerah pantai Batubara dan
Asahan, serta suku Mandailing ke daerah pantai Kualuh, Kota Pinang, Panai, dan Bilah di Labuhanbatu
Dalam Riwayat Hamparan Perak yang dokumen aslinya
ditulis dalam huruf Karo pada rangkaian bilah bambu, tercatat Guru Patimpus Sembiring Pelawi, tokoh masyarakat Karo, sebagai orang yang
pertama kali membuka "desa" yang diberi nama Medan. Namun, naskah
asli Riwayat Hamparan Perak yang tersimpan di rumah Datuk Hamparan Perak
terakhir telah hangus terbakar ketika terjadi "kerusuhan sosial",
tepatnya tanggal 4 Maret 1946. Patimpus adalah anak Tuan Si Raja Hita, pemimpin
Karo yang tinggal di Kampung Pekan (Pakan).
Ia menolak menggantikan ayahnya dan lebih tertarik pada ilmu pengetahuan
dan mistik, sehingga akhirnya dikenal sebagai Guru Patimpus. Antara tahun
1614-1630 Masehi, ia belajar agama Islam dan di-Islamkan oleh Datuk Kota
Bangun, setelah kalah dalam adu kesaktian. Selanjutnya Guru Patimpus menikah dengan
adik Tarigan, pemimpin daerah yang sekarang bernama Pulau Brayan dan membuka
Desa Medan yang terletak di antara Sungai Babura dan Sungai Deli. Dia pun lalu
memimpin desa tersebut.
Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590 kemudian dipandang
sebagai pembuka sebuah kampung yang bernama Medan Puteri walaupun sangat minim
data tentang Guru Patimpus sebagai pendiri Kota Medan. Karenanya hari jadi
ditetapkan berdasarkan perkiraan tanggal 1 Juli 1590 dan diusulkan kepada Wali
kota Medan untuk dijadikan sebagai hari jadi Medan dalam bentuk perkampungan,
yang kemudian dibawa ke Sidang DPRD Tk.II Medan untuk disahkan. Berdasarkan
Sidang DPRD tanggal 10 Januari 1973 ditetapkan bahwa usul tersebut dapat
disempurnakan. Sesuai dengan sidang DPRD, Wali kotamadya Kepala Daerah Tingkat
II Medan mengeluarkan Surat Keputusan No.74 tanggal 14 Februari 1973 agar
Panitia Penyusun Sejarah Kota Medan melanjutkan kegiatannya untuk mendapatkan
hasil yang lebih sempurna.
Berdasarkan perumusan yang dilakukan oleh Pansus
Hari Jadi Kota Medan yang diketuai oleh M.A.Harahap bulan Maret 1975 bahwa
tanggal 1 Juli 1590. Secara resmi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tk.II Medan
menetapkan tanggal 1 Juli 1590 sebagai Hari Jadi Kota Medan dan mencabut Hari
Ulang Tahun Kota Medan yang diperingati tanggal 1 April setiap tahunnya pada
waktu sebelumnya.
Di Kota Medan juga menjadi pusat Kesultanan Melayu Deli, yang sebelumnya
adalah Kerajaan Aru. Kesultanan Deli adalah sebuah kesultanan Melayu
yang didirikan pada tahun 1632 oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan di wilayah bernama Tanah
Deli (kini Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang, Indonesia).
John Anderson, orang Eropa asal Inggris yang mengunjungi Deli pada tahun 1833 menemukan sebuah
kampung yang bernama Medan. Kampung ini berpenduduk 200 orang dan seorang
pemimpin bernama Raja Pulau Berayan sudah sejak beberapa tahun bermukim disana
untuk menarik pajak dari sampan-sampan pengangkut lada yang menuruni sungai.
Pada tahun 1886, Medan secara resmi memperoleh status
sebagai kota, dan tahun berikutnya menjadi ibu kota Karesidenan Sumatra Timur sekaligus
ibu kota Kesultanan Deli. Tahun
1909, Medan menjadi kota yang penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah
kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran. Dewan kota yang
pertama terdiri dari 12 anggota orang Eropa, dua orang bumiputra Melayu, dan
seorang Tionghoa.
Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terdapat dua gelombang migrasi
besar ke Medan. Gelombang pertama berupa kedatangan orang Tionghoa dan Jawa sebagai kuli kontrak perkebunan. Tetapi
setelah tahun 1880perusahaan perkebunan berhenti mendatangkan orang Tionghoa, karena
sebagian besar dari mereka lari meninggalkan kebun dan sering melakukan
kerusuhan. Perusahaan kemudian sepenuhnya mendatangkan orang Jawa sebagai kuli
perkebunan.
Orang-orang Tionghoa bekas buruh perkebunan kemudian didorong untuk
mengembangkan sektor perdagangan. Gelombang kedua ialah kedatangan orang Minangkabau, Mandailing, dan Aceh. Mereka datang ke Medan bukan untuk bekerja
sebagai buruh perkebunan, tetapi untuk berdagang, menjadi guru, dan ulama.
Sejak tahun 1950, Medan telah beberapa kali melakukan perluasan areal, dari 1.853 ha menjadi
26.510 ha pada tahun 1974. Dengan demikian dalam tempo 25 tahun setelah penyerahan kedaulatan,
kota Medan telah bertambah luas hampir delapan belas kali lipat.
Geografi
Peta kecamatan di Kota Medan.
Kota Medan memiliki luas 26.510 hektare (265,10 km²) atau 3,6% dari
keseluruhan wilayah Sumatra Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan
kota/kabupaten lainya, Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil dengan
jumlah penduduk yang relatif besar. Secara geografis kota Medan terletak pada
3° 30' – 3° 43' Lintang Utara dan 98° 35'–98° 44' Bujur Timur. Untuk itu
topografi kota Medan cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian
2,5–37,5 meter di atas permukaan laut.
Batas Wilayah
Secara administratif, batas wilayah Medan adalah sebagai berikut:
Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu daerah yang kaya dengan
sumber daya alam (SDA), khususnya di bidang perkebunan dan kehutanan. Karena
secara geografis Medan didukung oleh daerah-daerah yang kaya sumber daya alam,
seperti Deli Serdang, Labuhan Batu, Simalungun, Tapanuli Utara, Tapanuli
Selatan, Mandailing Natal, Karo, Binjai, dan lain-lain. Kondisi ini menjadikan
kota Medan secara ekonomi mampu mengembangkan berbagai kerjasama dan kemitraan
yang sejajar, saling menguntungkan, saling memperkuat dengan daerah-daerah
sekitarnya.
Di samping itu sebagai daerah pinggiran jalur pelayaran Selat
Malaka, Medan memiliki
posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk) kegiatan perdagangan barang dan
jasa, baik perdagangan domestik maupun luar negeri (ekspor-impor). Posisi
geografis Medan ini telah mendorong perkembangan kota dalam dua kutub
pertumbuhan secara fisik, yaitu daerah Belawan dan pusat Kota Medan saat ini.
Sungai
Sedikitnya ada sembilan sungai yang melintasi kota ini:
1.
Sungai
Belawan
2.
Sungai Badera
3.
Sungai Sikambing
4.
Sungai Putih
5.
Sungai Babura
6.
Sungai
Deli
7.
Sungai Sulang-Saling
8.
Sungai Kera
9.
Sungai Tuntungan
Selain itu, untuk mencegah banjir yang terus melanda beberapa wilayah
Medan, pemerintah telah membuat sebuah proyek kanal besar yang lebih dikenal
dengan nama Medan Kanal Timur.
Iklim
Berdasarkan klasifikasi iklim Köppen,
Medan memiliki iklim hutan hujan tropis dengan musim kemarau yang tidak jelas.[16] Medan memiliki bulan-bulan yang lebih
basah dan kering, dengan bulan terkering (Februari) rata-rata mengalami
presipitasi sekitar sepertiga dari bulan terbasah (Oktober). Suhu di kota ini
rata-rata sekitar 27 derajat Celsius sepanjang tahun. Presipitasi tahunan di
Medan sekitar 2200 mm.
Pemerintahan
Wali Kota
Daftar Wali Kota Medan
Wali Kota Medan adalah pemimpin tertinggi di lingkungan Pemerintah Kota
Medan. Wali kota Medan bertanggungjawab kepada Gubernur provinsi Sumatra
Utara. Saat ini, wali kota atau kepala daerah yang menjabat di Kota Medan
ialah Bobby Nasution, dengan wakil wali kota Aulia Rachman. Mereka menang pada Pemilihan umum
Wali Kota Medan 2020. Bobby Nasution merupakan menantu dari
presiden IndonesiaJoko
Widodo, dan ia adalah
wali kota Medan ke-18 setelah kemerdekaan.
Kecamatan
Daftar kecamatan dan kelurahan
di Kota Medan
Kota Medan terdiri dari 21 kecamatan dan 151 kelurahan dengan luas
wilayah mencapai 265,00 km² dan jumlah penduduk sekitar 2.478.145 jiwa (2017)
dengan kepadatan penduduk 9.352 jiwa/km².
Daftar kecamatan dan kelurahan di Kota Medan, adalah sebagai berikut:
Demografi
|
Populasi historis
|
|
Tahun
|
Jumlah
Pend.
|
±% p.a.
|
|
2001
|
1.926.052
|
—
|
|
2002
|
1.963.086
|
+1.92%
|
|
2003
|
1.993.060
|
+1.53%
|
|
2004
|
2.006.014
|
+0.65%
|
|
2005
|
2.036.018
|
+1.50%
|
|
2007
|
2.083.156
|
+1.15%
|
|
2008
|
2.102.105
|
+0.91%
|
|
2009
|
2.121.053
|
+0.90%
|
|
2010
|
2.109.339
|
−0.55%
|
|
2012
|
2.122.804
|
+0.32%
|
|
2015
|
2.210.624
|
+1.36%
|
|
2018
|
2.264.145
|
+0.80%
|
|
Sumber:
|
Berdasarkan data kependudukan tahun 2005, penduduk Medan diperkirakan
telah mencapai 2.036.018 jiwa, dengan jumlah wanita lebih besar dari pria,
(1.010.174 jiwa > 995.968 jiwa). Jumlah penduduk tersebut diketahui
merupakan penduduk tetap, sedangkan penduduk tidak tetap diperkirakan mencapai
lebih dari 500.000 jiwa, yang merupakan penduduk komuter.
Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia 2010,
penduduk Medan berjumlah 2.109.339 jiwa.[26] Penduduk Medan terdiri atas 1.040.680
laki-laki dan 1.068.659 perempuan.[26] Bersama kawasan metropolitannya (Kota
Binjai dan Kabupaten Deli Serdang)
penduduk Medan mencapai 4.144.583 jiwa. Dengan demikian Medan merupakan kota
dengan jumlah penduduk terbesar di Sumatra dan keempat di Indonesia.
Sebagian besar penduduk Medan berasal dari kelompok umur 0-19 dan 20-39
tahun (masing-masing 41% dan 37,8% dari total penduduk). Dilihat dari struktur
umur penduduk, Medan dihuni lebih kurang 1.377.751 jiwa berusia produktif,
(15-59 tahun). Selanjutnya dilihat dari tingkat pendidikan, rata-rata lama
sekolah penduduk telah mencapai 10,5 tahun. Dengan demikian, secara relatif
tersedia tenaga kerja yang cukup, yang dapat bekerja pada berbagai jenis
perusahaan, baik jasa, perdagangan, maupun industri manufaktur.
Laju pertumbuhan penduduk Medan periode tahun 2000-2004 cenderung
mengalami peningkatan, dimana tingkat pertumbuhan penduduk pada tahun 2000
adalah sebesar 0,09% dan menjadi 0,63% pada tahun 2004. Jumlah penduduk paling
banyak ada di Kecamatan Medan Deli, disusul Medan Helvetia dan Medan Tembung.
Jumlah penduduk yang paling sedikit, terdapat di Kecamatan Medan Baru, Medan
Maimun, dan Medan Polonia. Tingkat kepadatan penduduk tertinggi ada di
Kecamatan Medan Perjuangan, Medan Area, dan Medan Timur. Pada tahun 2004, angka harapan hidup bagi laki-laki adalah
69 tahun sedangkan bagi wanita adalah 71 tahun.
Suku bangsa
Kota Medan memiliki beragam etnis atau suku bangsa dengan mayoritas
penduduk beretnis Batak, Jawa, Tionghoa, dan Minangkabau. Adapun etnis aslinya adalah Melayu dan Suku
Karo bagian Jahe atau pesisir. Keanekaragaman etnis di
Medan terlihat dari jumlah masjid, gereja dan vihara Tionghoa yang banyak tersebar di
seluruh kota. Daerah di sekitar Jalan Zainul Arifin dikenal sebagai Kampung
Keling, yang merupakan
daerah pemukiman orang keturunan India.
Secara persentasi, Kota Medan didominasi oleh suku bangsa Batak, yang meliputi Batak
Toba, Angkola, Mandailing, Karo, Simalungun dan Pakpak. Penduduk kota Medan berdasarkan suku bangsa tahun 2000
yakni Batak sebanyak 33,70% (Batak Toba 19,21%; Angkola dan Mandailing 9,36%;
Karo 4,10%; Simalungun 0,69%; Pakpak 0,34%). Kemudian suku Jawa sebanyak 33,03%, diikuti Tionghoa sebanyak
10,65%, kemudian Minangkabausebanyak
8,60%, Melayu 6,59%, Aceh 2,78%, Nias sebanyak 0,69%, dan suku lainnya 3,96%.
Secara historis, pada tahun 1918 tercatat bahwa Medan dihuni oleh 43.826
jiwa. Dari jumlah tersebut, 409 orang keturunan Eropa, 35.009 orang Indonesia, 8.269 keturunan Tionghoa, dan
139 berasal dari ras Timur lainnya.
|
Perbandingan etnis di Kota Medan pada tahun 1930, 1980, dan 2000
|
|
Etnis
|
Tahun 1930
|
Tahun 1980
|
Tahun 2000
|
|
Jawa
|
24,89%
|
29,41%
|
33,03%
|
|
Batak
|
2,93%
|
14,11%
|
20,93%
|
|
Tionghoa
|
35,63%
|
12,80%
|
10,65%
|
|
Mandailing
|
6,12%
|
11,91%
|
9,36%
|
|
Minangkabau
|
7,29%
|
10,93%
|
8,6%
|
|
Melayu
|
7,06%
|
8,57%
|
6,59%
|
|
Karo
|
0,19%
|
3,99%
|
4,10%
|
|
Aceh
|
--
|
2,19%
|
2,78%
|
|
Sunda
|
1,58%
|
1,90%
|
--
|
|
Lain-lain
|
14,31%
|
4,13%
|
3,95%
|
|
Sumber: 1930 dan 1980: Usman
Pelly, 1983 Diarsipkan 2012-05-14 di Wayback Machine.; 2000: BPS Sumut
*Catatan: Data BPS Sumut tidak menyenaraikan "Batak" sebagai suku
bangsa, total Simalungun (0,69%), Tapanuli/Toba (19,21%), Pakpak (0,34%), dan
Nias (0,69%) adalah 20,93%
|
Angka Harapan Hidup penduduk kota Medan pada tahun 2007 adalah 71,4
tahun, sedangkan jumlah penduduk miskin pada tahun 2007 adalah 148.100 jiwa.
Agama
Selain multi etnis, kota Medan juga dikenal dengan kota yang beragam
agama. Meskipun demikian, warga kota Medan tetap menjaga perdamaian dan
kerukunan meskipun berbeda keyakinan. Berdasarkan data sensus Kota Medan tahun
2018 menunjukan bahwa mayoritas penduduk menganut agama Islam 64,35%, kemudian Kristen
Protestan 20,99%, Buddha 8,27%, Katolik 5,11%, Hindu 1,04% dan Konghucu 0,06%.
Agama utama di
Kota Medan berdasarkan etnis adalah:
Islam. terutama dipeluk oleh orang Melayu, Pesisir, Minangkabau, Jawa, Aceh, Arab, Mandailing, Angkola, sebagian lagi orang Karo, Simalungun, Pakpak, dan Tionghoa. Beberapa masjid yang ada di Kota Medan adalah Masjid
Al Osmani di Medan
Labuhan, Masjid Raya Al Mashun Medan, Masjid Agung Sumatra Utara Medan, Masjid Lama Gang Bengkok Medan dan lainnya.
Kristen (Protestan dan Katolik),
terutama dipeluk oleh suku Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Nias, dan sebagian suku Angkola dan Tionghoa. Beberapa gereja yang ada diantaranya, gereja HKBP, Methodist, Graha Bunda Maria Annai
Velangkanni, GBKP, GKPS, GKPA, GKPPD, GKPI, GBI, GPIB, GKII, GPdI, Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB),
Katedral Roma, Gereja Mawar Sharon, Gereja Tuhan dan Balai Kerajaan Saksi-saksi Yehuwa.
Hindu, terutama dipeluk oleh orang Tamil atau suku India, dan Bali. Beberapa kuil atau pura yang ada di Kota
Medan ialah Pura Agung Raksa Buana di Polonia, Kuil Shri Mariamman, Kuil shri muniswaren, dan Kuil Shri Mahasinggama Kaliamman Polonia
Buddha dan Konghucu terutama dipeluk oleh orang Tionghoa. B
Kehidupan sosial
Pekerjaan
Sebagai kota terbesar di Pulau Sumatra dan di Selat Malaka, penduduk
Medan banyak yang berprofesi di bidang perdagangan. Biasanya pengusaha Medan
banyak yang menjadi pedagang komoditas perkebunan. Setelah kemerdekaan, sektor
perdagangan secara konsisten didominasi oleh etnis Tionghoa dan Minangkabau. Bidang pemerintahan dan politik, dikuasai
oleh orang-orang Melayu dan Mandailing. Sedangkan profesi yang memerlukan keahlian
dan pendidikan tinggi, seperti pengacara, dokter, notaris, dan wartawan,
mayoritas digeluti oleh orang Minangkabau.
|
Komposisi Etnis Berdasarkan Okupasi Profesional
|
|
Etnis
|
Pengacara
|
Dokter
|
Notaris
|
Wartawan
|
|
Aceh
|
2,6%
|
3,9%
|
--
|
3,7%
|
|
Batak
|
13,2%
|
15,9%
|
18,5%
|
8,5%
|
|
Jawa
|
5,3%
|
15,9%
|
11,1%
|
10,4%
|
|
Mandailing
|
23,6%
|
14,1%
|
14,8%
|
18,3%
|
|
Minangkabau
|
36,8%
|
20,6%
|
29,7%
|
37,7%
|
|
Melayu
|
5,3%
|
5,9%
|
3,7%
|
17,7%
|
|
Sunda
|
--
|
--
|
3,7%
|
10,4%
|
|
Tionghoa
|
--
|
14,7%
|
7,4%
|
1,2%
|
Pola Pemukiman
Perluasan kota Medan telah mendorong perubahan pola pemukiman
kelompok-kelompok etnis. Etnis Melayu yang merupakan penduduk asli kota, banyak
yang tinggal di pinggiran kota seperti Belawan, Denai, dan Marelan. Etnis Tionghoa
dan Minangkabau yang sebagian besar hidup di bidang perdagangan, 75% dari
mereka tinggal di sekitar pusat-pusat perbelanjaan. Pemukiman orang Tionghoa
dan Minangkabau sejalan dengan arah pemekaran dan perluasan fasilitas pusat
perbelanjaan.
Orang Mandailing juga memilih tinggal di pinggiran kota yang lebih
nyaman, oleh karena itu terdapat kecenderungan di kalangan masyarakat
Mandailing untuk menjual rumah dan tanah mereka di tengah kota, seperti di
Kampung Masjid, Kota Maksum, dan Sungai Mati. Sedangkan pemukiman orang Karo
dan Batak kebanyakan berada di bagian selatan kota, seperti Simalingkar atau Padang Bulan. Hal tersebut dikarenakan jarak antara kota
Medan wilayah selatan lebih dekat dengan kampung halaman mereka dibandingkan
pusat kota maupun wilayah pesisir, khususnya orang Karo yang berdomisili di
sekitar Sibolangit, Berastagi, dan Kabanjahe, dimana hanya tinggal mengikuti lintas Jalan Raya
Jamin Ginting terus ke arah selatan untuk menuju kesana.
Pendidikan
Ekonomi
Beberapa bank yang ada di Kota Medan;
1.
Bank
SUMUT
2.
Bank
Mandiri
3.
Bank
BRI
4.
Bank
BCA
5.
Bank Muamalat
6.
Bank
BNI
7.
Bank
BTN
8.
Bank
Danamon
9.
Bank
Mega
10.
Bank
Panin
11.
Bank
Sinarmas
12.
Bank Maybank Indonesia
13.
Bank Syariah Indonesia
14.
Bank
Aceh Syariah
15.
CIMB
Niaga
16.
Commonwealth
Bank
Kesehatan
Daftar Rumah Sakit di Kota
Medan
Pariwisata
Ada banyak bangunan-bangunan tua di Medan yang masih menyisakan
arsitektur khas Belanda. Contohnya: Gedung Balai Kota lama, Kantor Pos Medan, Menara Air Tirtanadi (yang merupakan ikon kota Medan), Titi
Gantung–sebuah jembatan di atas rel kereta api, Kantor Pos, Bank Indonesia,
Gedung London Sumatra dan Bangunan tua di daerah Kesawan.
Selain itu, masih ada beberapa bangunan bersejarah, antara lain Istana
Maimun, Masjid
Raya Medan, Masjid Raya Al
Osmani dan juga rumah Tjong
A Fie di kawasan
Jalan Jend. Ahmad Yani (Kesawan).
Daerah Kesawan masih menyisakan bangunan-bangunan tua, seperti bangunan
PT London Sumatra, dan ruko-ruko tua seperti yang bisa ditemukan di Penang, Malaysia dan Singapura. Ruko-ruko ini, kini telah disulap menjadi
sebuah pusat jajanan makan yang ramai pada malam harinya. Saat ini Pemerintah Kota
merencanakan Medan sebagai Kota Pusat Perbelanjaan dan Makanan. Diharapkan
dengan adanya program ini menambah arus kunjungan dan lama tinggal wisatawan ke
kota ini.
Bangunan Tua
Beberapa bangunan tua yang masih berfungsi di kota Medan;
1.
Kantor Balai Kota Lama
2.
Kantor
Pos Medan
3.
Stasiun Kereta Api Medan
4.
Menara Bakaran Batu
5.
Istana
Maimun
6.
Menara Air Tirtanadi
7.
Rumah
Tjong A Fie
8.
PT PP London Sumatra
9.
Kuil Shri Mariamman
10.
Masjid
Al Osmani
11.
Masjid
Raya Al Mashun Medan
12.
Gereja Immanuel
13.
Hotel Inna Dharma Deli
14.
Bank Indonesia
15.
Gedung B.K.S. P.P.S.
16.
Gedung Asuransi Jiwasraya
17.
Kolam Sri Deli
18.
Pekong Lima Medan Labuhan
19.
Stasiun Labuan
20.
Bank Mandiri Cabang Kesawan
21.
Restoran Tip Top
22.
Gedung Warenhuis
23.
Titi Gantung
24.
RS. Tembakau Deli
25.
RS. dr. Pirngadi
26.
RS. Santa Elisabeth
27.
Gedung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
28.
Masjid Lama Gang Bengkok Medan
Wisata kuliner
1. Merdeka
Walk, pusat jajanan 24
jam yang terletak di Lapangan Merdeka Medan dan tepat berada di seberang Balai
Kota Lama Medan.
2.
Ramadhan Fair, khusus dibuka pada saat bulan Ramadhan terletak bersebelahan dengan Masjid
Raya Medan.
3.
Kuliner Pagaruyung, masakan India dan Indonesia di daerah "Kampung Madras".
4.
Asia Mega Mas Food Court Centre, Terletak di Kompleks Asia Mega Mas
Medan.
5.
Pasar Merah Square, terletak di Jalan H.M. Jhoni, berdekatan dengan
Kampus ITM dan UMSU.
6.
Amaliun Food Court, terletak di Jalan Amaliun, dekat dengan Yuki
Simpang Raya.
7.
Medan Night Market by Fun Taste Street, terletak di Jalan Adam Malik
Medan.
8.
Jalan Dr. Mansyur (Kampus USU), pilihan berbagai cafe yang menawarkan beragam hidangan.
9.
Jalan Semarang, masakan Tionghoa pada malam hari.
10.
Jalan Sumatera, terletak di Pandau Hulu I Kecamatan Medan Kota.
11.
Restoran Tip Top, Restoran yang dibangun pada zaman kolonial Belanda, terletak di Kesawan.
12. Kesawan City Walk, terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan
Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan.
Transportasi
Darat
Keunikan Medan
terletak pada becak bermotornya
(becak mesin/
becak motor) yang dapat ditemukan hampir di seluruh Medan. Berbeda dengan becak biasa (becak
dayung), becak motor dapat membawa penumpangnya ke mana pun di dalam
kota. Selain becak, dalam kota juga tersedia angkutan umum berbentuk minibus
(angkot/oplet) dan taksi. Pengemudi becak berada di samping becak, bukan di
belakang becak seperti halnya di Jawa, yang memudahkan becak Medan untuk
melalui jalan yang berliku-liku dan memungkinkan untuk diproduksi dengan harga
yang minimal, karena hanya diperlukan sedikit modifikasi saja agar sepeda atau sepeda
motor biasa dapat digunakan sebagai penggerak becak. Desain ini
mengambil desain dari sepeda motor gandengan perang Jerman di Perang Dunia II.
Sebutan paling
khas untuk angkutan umum adalah Sudako. Sudako pada awalnya
menggunakan minibus Daihatsu S38 dengan mesin 2 tak kapasitas 500cc. Bentuknya merupakan
modifikasi dari mobil pick up. Pada bagian belakangnya diletakkan
dua buah kursi panjang sehingga penumpang duduk saling berhadapan dan sangat
dekat sehingga bersinggungan lutut dengan penumpang di depannya.
Trayek pertama
kali sudako adalah "Lin 01", (Lin sama dengan
trayek) yang menghubungkan antara daerah Pasar Merah (Jalan HM. Joni), Jalan
Amaliun dan terminal Sambu, yang merupakan terminal pusat pertama angkutan
penumpang ukuran kecil dan sedang. Saat ini "Daihatsu S38 500 cc"
sudah tidak digunakan lagi karena faktor usia, dan berganti dengan mobil-mobil
baru seperti Toyota Kijang, Isuzu Panther, Daihatsu Zebra, dan Daihatsu Espass.
Selain itu, masih
ada lagi angkutan lainnya yaitu bemo, yang berasal
dari India. Beroda tiga dan
cukup kuat menanjak dengan membawa 11 penumpang. Bemo kemudian digantikan
oleh bajaj yang
juga berasal dari India, yang di Medan dikenal dengan nama "toyoko".
Kereta api
Jaringan
transportasi Kereta api di kota Medan menghubungkan
Medan dengan Binjai-Stabat-Tanjung Pura di sebelah barat, Belawan di
sebelah utara, dan Tebing Tinggi-Pematang
Siantar dan Tebing
Tinggi-Kisaran-Tanjungbalai-Rantau Prapat di sebelah timur.
Jalan tol
Jaringan
transportasi Jalan Tol Belmera menghubungkan Medan dengan Belawan dan Tanjung Morawa. Jalan tol Medan-Kuala Namu-Tebing Tinggi dan Medan-Binjai juga sudah selesai pembangunannya dan sudah beroperasi.
Pada akhir tahun 2015, sistem Bus
Rapid Transit Trans
Mebidang telah
beroperasi di kota Medan, kota Binjai, dan kabupaten Deli Serdang.
Pada November dalam tahun yang sama, transportasi dalam jaringan
berbasis aplikasi mulai masuk dan beroperasi di Kota Medan, yang diawali dengan
ojek sepeda motor, dan diikuti kendaraan roda empat. Hal ini sempat mendapat berbagai
protes dan pertentangan dari sejumlah pihak, termasuk pelaku moda transportasi
angkutan kota (angkot) yang telah ada sebelumnya. Namun seiring berjalannya
waktu serta kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat maka transportasi ini
menjadi salah satu pilihan alternatif yang paling diminati.
Kehadiran TEMAN BUS di Kota Medan menjadi layanan yang kelima dalam
program Buy The Service (BTS) yang digagas oleh Kementerian Perhubungan
Republik Indonesia. Operator yang menjalankan operasional layanan TEMAN BUS di
Kota Medan adalah PT Medan Bus Transport (Trans Metro Deli).
Angkutan Bus Rapid Transit (BRT) ini menjadi penunjang mobilisasi
masyarakat Kota Medan yang mencakup hingga ke wilayah Distrik Belawan, Terminal
Pinang Baris, Lapangan Merdeka, Terminal Amplas dan Tembung.
TEMAN BUS Medan sebanyak 72 unit dengan rute layanan di 5 Koridor,
yaitu:
Terminal bus yang melayani warga Medan:
1.
Terminal Sambu
2.
Terminal Pinang Baris
3.
Terminal
Amplas
Laut
Pelabuhan Belawan terletak di bagian utara kota.
Pelabuhan ini merupakan pelabuhan Indonesia tersibuk di luar pulau Jawa. Layanan kapal ferimenghubungkan Belawan dengan Penang di Malaysia.
Udara
Bandar Udara Internasional
Kualanamu yang berada
di Beringin,
kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang yang
menghubungkan Medan dan sekitarnya dengan kota-kota seperti Bandung, Palembang, Jakarta, Surabaya serta Kuala
Lumpur, dan Georgetown di Malaysia dan Singapura.
Media massa
Media di Kota Medan
Pusat perbelanjaan
1.
Plaza dan Mall
2.
Deli Park Mall Podomoro City, terletak di Medan Barat.
3.
Centre Point Medan, terletak di Medan Timur.
4.
Sun
Plaza, terletak
di Medan Polonia.
5.
Plaza
Medan Fair, terletak
di Medan Petisah.
6.
Manhattan Times Square, terletak di Medan Sunggal.
7.
Cambridge City Square, terletak di Medan Petisah.
8.
Lippo Plaza Medan, terletak di Medan Petisah.
9.
Medan
Mall, terletak di
kelurahan Pusat Pasar Medan
Kota.
10. Irian Department
Store Marelan, terletak di Medan
Marelan.
11. Thamrin Plaza, terletak di Medan
Area.
12. Ring Road City Walks, terletak di Medan Selayang.
13. Medan Focal Point Mall, terletak di Medan Selayang.
14. Olympia Plaza, terletak di Medan
Kota (sudah
ditutup)
15. Suzuya Marelan
Plaza, terletak di Medan
Marelan..
16. Millennium ICT
Center Medan, terletak di Medan Helvetia
Olahraga
Beberapa klub olahraga yang terdapat di Medan antara lain klub sepak
bola: PSMS Medan, Medan Jaya, Medan Chiefs, Bintang PSMS Medan dan Medan United; dan klub basket: Angsapura Sania. Gelanggang olahraga yang terdapat di Medan
antara lain Stadion Teladan, Stadion Kebun Bunga, dan GOR Angsapura. Sedangkan lapangan untuk berolahraga adalah Lapangan Merdeka, Lapangan
Persit Chandra Kirana (Jalan Gaperta), dan Lapangan Benteng.
Pekan Olahraga Kota Medan
1. Sejak tahun 2009, KONI Kota Medan dan pemerintah Kota Medan mengadakan
Pekan Olahraga Kota (Porkot). Pembukaan dan penutupan Porkot dilaksanakan di
Stadion Teladan.
2. Porkot 2009 dilaksanakan tanggal 11-18 Agustus 2009 mempertandingkan 30
cabang olahraga. Kecamatan Medan Helvetia menjuarai Porkot ini.
3. Porkot 2010 dilaksanakan tanggal 11-18 Desember 2010 mempertandingkan 32
cabang olahraga. Kecamatan Medan kota menjuarai porkot ini.
4. Porkot 2011 dilaksanakan tanggal 15-22 Oktober 2011 mempertandingkan 33
cabang olahraga. Kecamatan Medan Kota menjuarai Porkot ini dengan
kecamatan Medan Helvetia berada di peringkat kedua dan kecamatan Medan Denai
berada di peringkat ketiga
Hotel
1.
Grand Angkasa International Hotel
2.
Danau Toba International Hotel
3.
Hotel
JW Marriott
4.
Grand Aston City Hall
5.
Grand Swissbell Hotel
6.
The Aryaduta Hotel
7.
Hotel Citi International
8.
Santika
Premiere Dyandra Hotel
9.
Inna Dharma Deli Hotel
10.
Hotel Deli River
11.
Garuda Plaza Hotel
12.
Alpha Inn
13.
Grand Delta Hotel
14.
Hotel Grand Antares Indonesia
15.
Asean International Hotel
16.
Novotel Soechi International Hotel
17.
Hotel Tiara Medan
18.
Hotel Haji Amir
19.
Hotel Candi
20.
Borobudur Asri Hotel
21.
Garuda Plaza Hotel
22.
Semarak International Hotel
23.
Medan Ville Hotel
24.
Gandhi Inn
Konsulat Jendral
Berikut adalah negara-negara yang memiliki perwakilan konsulat jenderal
di Medan:
1.
Amerika Serikat
2.
Australia
3.
Belanda
4.
Belgia
5.
Britania Raya
6.
Tiongkok
7.
Denmark
8.
India
9.
Jepang
10.
Jerman
11.
Malaysia
12.
Norwegia
13.
Pakistan
14.
Rusia
15.
Singapura
16.
Sri Lanka
17.
Swedia
18.
Thailand
19.
Turki
20.
Kota Kembar
21.
Georgetown, Pulau Penang, Malaysia (10
Oktober 1984)
22.
Ichikawa, Chiba, Jepang (4
November 1989)
23.
Gwangju, Jeolla Selatan, Korea
Selatan (24
September 1997)
24.
Chengdu, Sichuan, Republik Rakyat Tiongkok (17
Desember 2002)
25.
Milwaukee, Wisconsin, Amerika
Serikat (30
Oktober 2014)
Tokoh dari Kota
Medan
Tokoh-tokoh yang berasal dari Medan:
1.
Tjong
A Fie, Kapitan dan
dermawan Tionghoa pada zaman Hindia Belanda
2.
Peter
Alma, seniman Belanda
3.
Chairil
Anwar, penyair
Indonesia
4.
Jan Gualtherus van Breda Kolff, pemain sepak bola Belanda
5.
Tom Degenaars, insinyur dan rohaniwan Belanda
6.
Sultan Ma'moen Al Rasyid Perkasa
Alamsyah, Sultan Deli IX
7.
Burhanuddin Harahap, Perdana Menteri Indonesia ke-9
8.
Kees
Hoving, perenang Belanda
9.
Cees
Korvinus, politikus dan
advokat Belanda
10.
Bernardus
Cornelis Johannes Lievegoed,
dokter dan pengarang Belanda
11.
Djaga
Sembiring Depari, komponis
12.
John
Juanda, pemain poker
Amerika Serikat
13.
Amir
Sjarifuddin, Perdana Menteri Indonesia ke-2
14.
Soegiarto, Menteri
Badan Usaha Milik Negara Indonesia di Kabinet Indonesia Bersatu sebelum
Perombakan II
15.
Babs
van Wely, ilustrator
Belanda
16.
Gurnam
Singh, atlet pelari
17.
Ruhut
Sitompul, pengacara dan
politikus Indonesia
18.
Joko
Anwar, sutradara
Indonesia
19.
Lindswell
Kwok, atlet wushu
20.
Hembing Wijayakusuma, pakar pengobatan tradisional dan akupuntur
21.
Alexander
Tedja, pengusaha
22.
Sofyan
Tan, dokter, guru,
kepala sekolah, tokoh masyarakat, politikus, anggota DPR RI
23.
Jenny
Chang, model, aktris
24.
Nelson
Tansu, akademisi,
peneliti nanoteknologi dan optoelektronika serta riset fisika terapan dan
teknologi dari semikonduktor nanostruktur, fotonika
25. Rudy Handoko Tanin, peraih medali emas dalam Olimpiade Fisika Internasional 2008,
Olimpiade Fisika Asia 2007, Olimpiade Fisika Asia 2008
26. Kelvin
Anggara, peraih medali
emas pertama bagi Indonesia dalam Olimpiade Kimia Internasional 2008
27.
Bernard Willem Jan Verweij, pemain sepak bola Belanda
28.
Judika
Nalon Abadi Sihotang, penyanyi runner-up Indonesian
Idol (musim kedua)
29.
Bachtiar
Karim, pemilik Musim
Mas
30.
Lyodra
Ginting, penyanyi
pemenang Indonesian Idol (musim
kesepuluh)
31.
Maria
Simorangkir, penyanyi
pemenang Indonesian Idol (musim
kesembilan)
32.
Gretha
Martini, penyanyi
33.
Mawar Eva De Jongh, pemenang Miss Celebrity Indonesia 2015
34.
Adilla Putri Hafzi, ustadzah runner-up Akademi Sahur Indonesia 2016
35.
Fathmah Muthi'ah Fadhlan, pemenang Qori Indonesia RTV 2019
36.
Vionita Veronika Sihombing, penyanyi pemenang The Voice Indonesia (musim
keempat)
37.
Nugroho Achmad alias Lolox, pelawak tunggal Stand Up Comedy Show Metro TV 2012
38. Priya
Prayogha Pratama Tanjung alias Babe Cabiita, pelawak tunggal Stand Up Comedy Indonesia
Kompas TV (musim ketiga)
39.
Nikita Mawarni Rinaldi, penyanyi pemenang The Voice Kids Indonesia (musim
keempat)
40.
Jesselyn
Lauwreen, pemenang MasterChef Indonesia (musim 8)
Sumber : Google
Wikipedia